Oleh : Anita.,S.E
(Staff Adminitrasi SD Islam Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
“Lihat tuh, anak tetangga bisa ranking satu. Kamu kenapa nggak bisa?”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa di telinga banyak orang tua Indonesia. Niatnya mungkin memotivasi, tetapi tanpa disadari kebiasaan membandingkan ini justru bisa melukai hati anak dan mengganggu kesehatan mental mereka.
anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Anak tidak perlu dibanding-bandingkan dari segi kepribadian, sikap, kecerdasan, atau fisik. Namun orang tua seringkali membandingkan anak dengan dirinya yang dahulu, anak orang lain, atau bahkan saudaranya sendiri.
Orang tua yang membandingkan anaknya dengan saudaranya juga bisa dikatakan seperti mengadu domba. Salah satu diantara mereka yang dianggap “rendah” akan menyimpan rasa sedih, kesal, marah, cemburu, dan tidak percaya diri. Yang nantinya bisa meluapkan kekesalannya jadi benci terhadap saudaranya. Ini yang dikhawatirkan.
Kenapa Membandingkan Itu Berbahaya?
Menurut penelitian dari Journal of Child and Family Studies, perilaku orang tua yang sering membandingkan anak dengan anak lain bisa menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko stres hingga depresi pada anak.
Kebiasaan membandingkan ini tidak hanya membuat anak sedih sesaat, tetapi bisa berdampak jangka panjang, seperti:
Anak tidak butuh dibandingkan, mereka butuh dipahami karena setiap anak punya jalur tumbuhnya sendiri. Tugas orang tua juga bukan mencetak anak yang paling hebat, tetapi mendampingi mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Jadi, mulai hari ini jika muncul keinginan membandingkan, tahan sebentar dan ganti dengan kalimat yang mendukung. Karena anak yang merasa dicintai tanpa syarat akan tumbuh jauh lebih kuat daripada anak yang selalu merasa tidak pernah cukup.
Sumber:
Tinggalkan Komentar