Oleh : Toyo Widodo, M.Pd., Gr
(Guru SD Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Pendidikan tidak hanya ditentukan dari luasnya ilmu seorang guru, ada faktor lain yang mempengharui pendidikan itu sendiri yaitu jiwa dan karakter seorang guru. Dimasa sekarang banyak kita lihat di berita mainstream seorang guru seakan hilang karakternya untuk diguguh dan ditiru, mulai dari guru yang melecehkan murid, guru yang berjoget-joget di depan kamera, guru yang sengaja melucu untuk ditertawakan muridnya (tanpa nilai pendidikan dan berlebihan). Hal semacam ini menunjukkan bahwa perannya sebagai seorang guru belum tertanam secara mendalam.
Padahal di dalam mendidik tingkah laku memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang murid, keberhasilan pendidikan tidak hanya dibentuk dari transfer ilmu tapi pada kualitas karakter dan jiwa yang dimiliki seorang guru. Sehingga pada saat proses pembelajaran murid merasa tidak terhubung secara jiwa, nur (cahaya) ilmu yang dimiliki seorang guru sangat kecil sebagai lentera di depan muridnya.
Ini memperjelas bahwa proses pendidikan lahir dari contoh yang baik dari seorang guru. Sehingga patutlah bagi seorang guru untuk memiliki jiwa yang bersih, dalam ajaran Islam, konsep ini dikenal dengan tazkiyatun nafs. Artinya, upaya membersihkan jiwa dari pemyakit hati seperti sombong, iri, riya’, dengki, sum’ah, dan ketamakan. Setelah sifat ini dibersihkan baru kemudian diisi dengan sifat-sifat mulia seperti jujur, sabar, rendah hati, dan amanah.
Al-Qur’an bahkan menyebutkan bahwa proses penyucian jiwa harus dilakukan sebelum mempelajari ilmu pengetahuan. Allah Ta’ala berfirman:
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).
Ayat ini memberikan pesan bahwa keberhasilan seseorang, baik itu seorang guru atau bukan, sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk menjaga kebersihan hati, niat, dan jiwa mereka. Seorang guru yang memiliki jiwa yang dipenuhi dengan keikhlasan akan mengajar bukan hanya karena merasa memiliki kewajiban atau untuk mendapatkan penghargaan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain niat yang ikhlas, seorang guru juga dituntut memiliki kesabaran dalam menghadapi beragam karakter murid. Kesabaran bukan berarti pasif, melainkan kemampuan mengendalikan emosi, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha menemukan cara terbaik dalam membimbing murid.
Dari paparan singkat di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa tazkiyatun nafs merupakan fondasi utama bagi guru dalam menjalankan tugas pendidikan. Guru yang ikhlas, sabar, lembut, amanah, dan rendah hati akan menjadi teladan hidup bagi muridnya. Dari jiwa yang bersih lahirlah pendidikan yang menghidupkan dan mencerahkan berdasarkan alquran dan hadits. Inilah hakikat pendidikan Islam: membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan dekat dengan nilai-nilai ketuhanan, yang semuanya bermula dari kualitas jiwa seorang guru.
Tinggalkan Komentar