Oleh : Wahyu Asikin, M.Pd.Gr.
Kepala SD Yaa Bunayya Islamic School Palembang
Bismillahirrahmanirrahim
Ramadhan telah berlalu begitu cepat. Bulan yang penuh keberkahan dan ampunan itu kini telah pergi. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi karena tidak mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad)
Para ulama juga mengingatkan betapa besarnya peluang ampunan di bulan ini. Disebutkan bahwa siapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka itu adalah kerugian yang sangat besar.
Karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah ﷻ agar menerima seluruh amal ibadah dan doa yang telah kita lakukan selama Ramadhan.
Setelah Ramadhan berlalu, penting bagi kita untuk bertanya:
Seorang ulama salaf, Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi, pernah berkata ketika ditanya tentang orang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, “Mereka adalah seburuk-buruk kaum, karena mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan.”
Maknanya, seorang hamba yang sejati adalah yang beribadah kepada Allah sepanjang waktu, bukan hanya di waktu tertentu.
Demikian pula Imam Asy-Syibli رحمه الله pernah ditanya: mana yang lebih utama, Rajab atau Sya’ban? Beliau menjawab, “Jadilah engkau seorang Rabbani, dan jangan menjadi seorang Sya’bani.”
Artinya, jadilah hamba Allah yang terus beribadah di setiap waktu, bukan hanya di bulan-bulan tertentu saja.
Inilah yang disebut dengan istiqamah. Kita tetap membutuhkan rahmat Allah ﷻ tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan lainnya.
Imam Ibnu Rajab رحمه الله berkata, “Jika Allah menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal shaleh setelahnya.”
Beliau juga menjelaskan bahwa kebaikan yang diikuti dengan kebaikan berikutnya adalah tanda diterimanya amal. Sebaliknya, jika setelah berbuat baik justru diikuti dengan keburukan, maka itu perlu diwaspadai.
Salah satu bentuk menjaga istiqamah adalah dengan melanjutkan ibadah setelah Ramadhan, seperti puasa enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan,
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa istiqamah dalam amal, walaupun kecil, lebih dicintai daripada amalan besar yang hanya sesekali dilakukan.Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam kebaikan, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi di setiap waktu dan keadaan.
Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima, diampuni dosa-dosa kita, dan ditetapkan hati kita di atas ketaatan. Consistency in small good deeds is more beloved to Allah than great deeds done once.
Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Sumber:
Tinggalkan Komentar