Oleh : Dian Safitri
(Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
“Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan bahwa hasad dapat memakan kebaikan layaknya api yang melahap kayu bakar hingga tak bersisa. Bayangkan, ibadah sholat, puasa, dan sedekah yang kita kumpulkan dengan susah payah, bisa hangus begitu saja hanya karena hati yang tidak ridha melihat nikmat Allah pada orang lain. Sebelum amal itu sirna, mari sejenak berhenti dan periksa hati kita: masihkah ada sisa rasa manisnya iman di sana, ataukah sudah mulai hambar karena tertutup debu dengki?”
Apa Itu Hasad?
Hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368.
الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا
“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.”
(At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)
الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ
“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasadi.”
(Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).
Iman memiliki rasa manis (halawatul iman). Namun, hasad bertindak seperti cuka yang merusak madu. Ada tiga alasan mengapa hasad sangat merusak:
Islam tidak hanya melarang, tapi juga memberikan solusi agar hati kita kembali bersih. Berikut adalah langkah praktisnya:
Jika Anda merasa iri pada seseorang, lawanlah dengan mendoakannya. Doakan agar Allah menambah keberkahan baginya. Malaikat akan mengamini doa tersebut dan berkata, “Dan bagimu juga yang serupa.”
Dunia ini luas, dan perbendaharaan Allah tidak terbatas. Kesuksesan orang lain tidak akan mengurangi jatah rezeki Anda sedikit pun. Yakini bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan melewatkanmu.
Alih-alih menginginkan nikmat orang lain hilang, ubahlah menjadi inspirasi. Berkata dalam hati: “Masya Allah, hebat sekali dia bisa bersedekah sebanyak itu. Ya Allah, mudahkanlah hamba agar bisa mengikuti jejak kebaikannya.” Inilah yang disebut Ghibthah, iri yang justru membuahkan pahala.
Yaa ikhwah, iman adalah perhiasan paling berharga dalam dada. Jangan biarkan ia dirampas oleh penyakit hasad yang hanya akan menyisakan kelelahan batin. Mari kita bersihkan hati, luaskan dada, dan syukuri setiap tetes nikmat yang Allah berikan. Karena hati yang bersyukur adalah tempat di mana manisnya iman akan tumbuh subur. Wallahu’alam bisshowwaab.
Sumber :
Tinggalkan Komentar