Oleh: Fatria Agustina, S.Pd. Gr
(Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
Seseorang dapat konsisten dalam suatu kondisi adalah sebuah kemustahilan. karena kita sebagai manusia keimannya akan naik dan turun. iman adalah ucapan dengan lisan,diyakini dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan.
“Iman itu naik dengan ketaan berkurang dengan kemaksiatan”
Bertambah dan berkurangnya iman adalah bagian dari sunatullah atas makhluk-Nya, yaitu manusia. Nikmat nafsu dan akal yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah.
Adakalanya seorang penuntut ilmu atau ahli ibadah merasa futur. Ketika mata sebenarnya menatap tempat sujud, tapi hati berada di tempat yang lainnya. Ketika raga berada di majelis ilmu, namun jiwa dan fikiran fokus kepada yang lainnya.
Apa itu Penyakit Futur ?
Futur adalah rasa malas, enggan dan lamban dalam melakukan kebaikan, yang mana asebelumnya seseorang rajin dan bersemangat melakukannya. Futur adalah penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan sesuatu aktiviats kebaikan.
Futur adalah saat seseorang turun semangatnya, bahkan hilang dari sebelumnya dalam beribadah kepada Allah ta’ala.
Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Sesungguhnya setiap amal itu ada masa semangatnya (syirrah), dan setiap masa semangat itu ada masa kendurnya (futur). Barangsiapa yang masa kendurnya (futur) masih dalam koridor sunnahku, maka ia beruntung. Namun, barangsiapa yang masa kendurnya (futur) di luar itu, maka ia telah celaka.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan sanadnya dinilai shahih oleh sebagian ulama).
Dalam hadist lain, yang dibawa oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah ﷺ mengatakan:
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya iman itu bisa menua/usang di dalam rongga tubuh (hati) salah seorang di antara kalian sebagaimana tuanya pakaian. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui iman di dalam hati kalian.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak no. 5, Tabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir 14668, di-sahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1590).
Bahkan sahabat nabi Ali bin Abu Thalib memberi ungkapan perumpamaan dalam nasihatnya untuk permasalahan futur ini yaitu “Tidaklah hati itu seperti awan gelap yang menutupi bulan, maka cahayapun akan redup dan ketika awan itu hilang maka cahaya bulan itu kembali bersinar”.
Adapun tingkatan-tingkatan futur yang wajib kita ketahui dan harus kita hindari antar lain :
Keempat point diatas adalah tantangan futur bagi kita yang sedang giat mencari ilmu agama dan menjalankan ketaatan pada Allah ta’alaa. Oleh karena itu sebagai seorang mukmin kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Saat-saat seperti inilah, godaan setan yang mengancam keutuhan iman kita bisa datang dari berbagai arah.
Jangan hanya menunggu hidayah itu datang, akan tetapi jemputlah hidayah itu. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadist qudsi :
يا عبادي كلُّكم ضالٌّ إلَّا من هديتُه ، فاستهدوني أهدِكُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua adalah tersesat, kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu petunjuk.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)
Diantara tanda-tanda munculnya penyakit futur antara lain :
Sebab utama seseorang futur secara umum terjadi menjadi 2 hal :
Penyebab seseorang futur dapat dijabarkan dalam beberapa hal sebagai berikut :
Kiat mengobati dan bangkit dari kefuturan
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbii ‘Alaa Diinik”
Seorang penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru dalam meraih ilmu syar’i. Menuntut ilmu syar’i tidak bisa didapatkan dengan kilat atau dikursuskan dalam waktu singkat. Harus diingat bahwa perjalanan dalam menuntut ilmu adalah panjang dan lama, oleh karena itu wajib sabar dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar tetap istiqomah di atas kebenaran.
Wallahu’alam.
Tinggalkan Komentar