Penulis: Dessy Mudhiah Sartika, S.Tr.Ak., M.Acc.
(Kepala Devisi Keuangan Yaa Bunayya Islamic School)
Grit adalah gabungan antara semangat (passion) dan ketekunan (perseverance) dalam mencapai tujuan jangka panjang. Istilah ini diperkenalkan oleh Angela Duckworth, seorang psikolog dari University of Pennsylvania, yang meneliti mengapa sebagian anak mampu bertahan dan berhasil, sementara yang lain mudah menyerah meski sama-sama cerdas. Duckworth menjelaskan bahwa grit lebih berpengaruh daripada IQ atau bakat dalam menentukan kesuksesan. Anak dengan grit tinggi tetap berusaha meski menghadapi kegagalan, kebosanan, atau rintangan. Grit bukan sifat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih sejak dini. Dengan bimbingan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tekun, dan memiliki arah hidup jelas. Kesuksesan bukan milik yang paling pintar, tapi milik mereka yang paling gigih.
Mengapa Grit Penting bagi Anak?
Ciri-ciri Anak yang Memiliki Grit
Cara Menumbuhkan Grit pada Anak
Tantangan yang terlalu mudah membuat anak bosan, sedangkan yang terlalu sulit membuat anak menyerah. Ciptakan tantangan yang menantang tapi masih bisa dicapai.
Jangan langsung menolong ketika anak kesulitan. Bantu mereka memahami bahwa gagal bukan berarti tidak mampu, tapi berarti belum berhasil.
Alih-alih berkata “Kamu pintar”, katakan “Kamu hebat karena terus berusaha”.Ini menanamkan growth mindset, bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui latihan
Misalnya menyelesaikan tugas rumah, menjaga barang sendiri, atau berlatih setiap hari. Disiplin kecil melatih otot ketekunan.
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Tunjukkan bagaimana orang dewasa juga menghadapi tantangan dengan tenang dan konsisten.
Hubungan Grit dengan Self-Regulated Learning (SRL)
Grit dan Self-Regulated Learning (SRL) saling mendukung. Anak dengan grit tinggi cenderung mampu mengatur strategi belajar, memotivasi diri, dan menilai hasil usahanya. Sementara SRL membantu anak mengelola proses belajar secara sadar, yang pada akhirnya memperkuat grit karena anak tahu bagaimana mengatasi kesulitan. Contoh anak yang gagal dalam ujian tidak langsung menyerah, tetapi mencari tahu bagian mana yang belum ia pahami dan memperbaikinya.
Referensi
Duckworth, A. (2016). Grit: The power of passion and perseverance.
Dweck, C. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
OECD (2019). Learning Compass 2030 – Student Agency and Resilience.
Tinggalkan Komentar