Oleh : Ismarani Nursa’diah, S.Pd.
(Guru SD Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Setiap anak terlahir ke dunia ini membawa modal yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu fitrah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa setiap anak lahir dengan hati yang suci dan kecenderungan alami untuk menerima kebenaran. Salah satu dimensi fitrah yang melekat pada anak-anak usia SD adalah fitrah belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka adalah pembelajar alami. Mereka senang mengeksplorasi lingkungan, membaca, mendengarkan kisah, dan menyerap informasi baru di sekitarnya dengan cepat.
Namun, saat ini kita dihadapkan pada realitas zaman yang menantang. Kehadiran gadget di tengah-tengah keluarga dan lingkungan sekitar, jika tidak disikapi dengan bijak, dapat menjadi tsunami distraksi yang mengikis fitrah belajar tersebut. Anak-anak yang semula memiliki fokus tajam saat membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, kini perlahan mengalami penurunan rentang perhatian (attention span). Mengapa ini bisa terjadi, dan bagaimana kita sebagai guru serta orang tua menjaga fitrah mulia ini?
Dampak Gempuran Distraksi Gadget pada Proses Belajar
Media sosial, game online, dan video pendek dirancang dengan algoritma yang terus-menerus memicu hormon dopamin (hormon kesenangan) secara instan di otak anak. Akibatnya, aktivitas belajar konvensional —seperti membaca Al-Qur’an, menghafal hadits, atau memahami logika matematika— terasa membosankan bagi mereka karena membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja keras.
Ketika anak terlalu dini atau terlalu sering terpapar gadget tanpa batasan, beberapa dampak buruk yang sering kita temui di sekolah antara lain:
Langkah Praktis Menjaga Fitrah Belajar Anak
Pendidikan Islam tidak melarang teknologi, namun mengajarkan kita untuk meletakkan segala sesuatu pada porsinya secara adil. Berikut adalah sinergi yang harus dibangun antara sekolah dan rumah:
Di tengah derasnya arus teknologi, orang tua tidak bisa hanya melarang anak menggunakan gadget. Yang lebih penting adalah bagaimana membimbing mereka agar dapat menggunakan teknologi secara bijak dan sesuai dengan nilai-nilai Islam agar mereka tumbuh menjadi generasi yang diridhai Allah Ta’ala dan bermanfaat bagi umat Islam. Dengan demikian, anak-anak kita akan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim.
Sumber :
Tinggalkan Komentar