Oleh: Teratai Sridewi, S.Pd., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Perubahan zaman membawa perubahan pula dalam cara orang tua memandang pendidikan anak. Orang tua masa kini semakin dekat dengan teknologi, terbiasa memperoleh informasi dengan cepat, dan memiliki akses yang luas terhadap berbagai informasi mengenai pendidikan dan pengasuhan.
Namun, penting untuk memahami bahwa istilah “orang tua Gen Z” tidak berarti seluruh wali murid memiliki karakter yang sama. Generasi hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi cara seseorang berpikir. Pendidikan, pengalaman hidup, pekerjaan, lingkungan keluarga, nilai agama, serta budaya juga memiliki pengaruh yang besar.
Dalam konteks sekolah, perubahan tersebut membuat komunikasi antara guru dan orang tua perlu berkembang. Sekolah tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga perlu membangun hubungan yang saling percaya dan menghargai.
Salah satu perubahan yang terasa dalam kehidupan keluarga saat ini adalah kecepatan memperoleh informasi. Orang tua dapat memperoleh informasi pendidikan, perkembangan anak, maupun berbagai isu pengasuhan melalui internet dan media sosial.
Kondisi tersebut membuat orang tua semakin mudah mencari informasi. Di sisi lain, banyaknya informasi juga membuat orang tua perlu memiliki kemampuan memilah informasi yang benar dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Kemendikdasmen menekankan bahwa derasnya arus informasi digital membuat keluarga dan sekolah perlu bekerja sama dalam membangun lingkungan pendidikan yang sehat. Orang tua tetap memiliki peran penting sebagai salah satu pilar utama pendidikan anak.
Karena itu, sekolah sebaiknya memberikan informasi yang jelas, terarah, dan tidak menimbulkan kebingungan.
Orang tua masa kini cenderung mengharapkan adanya komunikasi yang lebih terbuka dengan sekolah. Mereka ingin mengetahui perkembangan anak, kegiatan sekolah, aturan, serta alasan di balik suatu kebijakan.
Penelitian mengenai pola komunikasi keluarga dengan Generasi Z menunjukkan bahwa keterbukaan dan kepercayaan menjadi bagian penting dalam hubungan orang tua dan anak. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa memperlakukan anak dengan kepercayaan dan penghargaan dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat.
Dalam hubungan sekolah dan orang tua, prinsip yang sama dapat diterapkan: komunikasi sebaiknya tidak hanya terjadi ketika muncul masalah.
Komunikasi yang baik justru dibangun sejak awal melalui informasi yang jelas, sikap saling menghargai, dan kesempatan untuk berdialog.
Orang tua tidak hanya berharap anak memperoleh nilai yang baik. Mereka juga menginginkan anak memiliki karakter, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hal ini semakin penting karena anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital yang berbeda dengan lingkungan masa kecil orang tuanya.
Sekolah perlu membantu orang tua memahami bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh nilai ujian. Kedisiplinan, adab, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan kebiasaan baik juga merupakan bagian penting dari perkembangan anak.
Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Anak dan orang tua sama-sama berhadapan dengan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pendampingan.
Pada Juli 2026, Kemendikdasmen menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan tersebut menekankan bahwa pembatasan penggunaan gawai bukan berarti melarang teknologi, tetapi mendorong penggunaannya secara bijaksana, aman, dan bertanggung jawab. Kemendikdasmen juga mendorong orang tua menerapkan prinsip 3S: screen time, screen zone, dan screen break sesuai usia dan kebutuhan anak.
Dengan demikian, pola pikir yang perlu dibangun bukan “teknologi itu buruk”, tetapi:
teknologi harus digunakan dengan tujuan, batasan, dan tanggung jawab.
Pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Sebaliknya, sekolah juga tidak dapat mengabaikan peran keluarga.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa kolaborasi keluarga dan sekolah merupakan salah satu kunci dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan anak, sementara sekolah menjadi mitra yang membantu mengembangkan potensi dan karakter peserta didik.
Karena itu, hubungan ideal antara wali murid dan guru bukanlah hubungan “orang tua melawan sekolah” atau “sekolah melawan orang tua”.
Hubungan yang ideal adalah:
Orang tua + guru + sekolah = satu tim untuk mendidik anak.
Kemudahan memperoleh informasi juga memiliki tantangan. Orang tua dapat membaca berbagai pendapat mengenai pendidikan, pola asuh, perkembangan anak, dan metode belajar.
Masalahnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang kuat.
American Psychological Association juga menyoroti bagaimana kehidupan digital orang tua dan anak membawa persoalan baru, termasuk privasi, keamanan, dan jejak digital anak.
Oleh karena itu, sekolah dapat membantu dengan menyediakan informasi yang berasal dari sumber terpercaya dan memberikan ruang diskusi kepada orang tua.
Menghadapi wali murid dengan latar belakang dan pola pikir yang beragam, sekolah dapat membangun komunikasi melalui beberapa prinsip.
Pertama, jelas.
Informasi sekolah sebaiknya disampaikan secara singkat, lengkap, dan tidak menimbulkan banyak tafsir.
Kedua, santun.
Perbedaan pendapat sebaiknya diselesaikan dengan bahasa yang baik dan tidak saling menyudutkan.
Ketiga, transparan.
Jika sekolah memiliki aturan atau kebijakan tertentu, jelaskan alasan dan tujuan di balik aturan tersebut.
Keempat, responsif.
Orang tua perlu mengetahui kapan dan melalui jalur apa mereka dapat menyampaikan pertanyaan atau persoalan.
Kelima, berorientasi pada anak.
Setiap komunikasi antara sekolah dan orang tua hendaknya kembali kepada pertanyaan utama:
“Apa yang paling baik untuk perkembangan anak?”
Dalam lingkungan sekolah Islam, hubungan antara sekolah dan wali murid memiliki dimensi yang lebih luas. Pendidikan bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga menanamkan iman, adab, akhlak, tanggung jawab, dan kebiasaan baik.
Karena itu, sekolah dan orang tua perlu memiliki visi yang sejalan dalam mendidik anak.
Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti ketika anak keluar dari gerbang sekolah.
Wali murid masa kini hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Teknologi membuat informasi bergerak lebih cepat, komunikasi menjadi lebih mudah, dan orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh berbagai pengetahuan tentang pendidikan. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh menggantikan hubungan manusia.
Anak tetap membutuhkan perhatian orang tua, keteladanan guru, aturan yang jelas, komunikasi yang sehat, dan lingkungan yang aman.
Karena itu, sekolah tidak perlu memandang perubahan pola pikir orang tua sebagai ancaman. Perubahan tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun pola kerja sama yang lebih baik. Bukan tentang siapa yang paling benar antara guru dan wali murid. Bukan pula tentang siapa yang paling mengetahui kebutuhan anak.
Tetapi tentang bagaimana guru dan orang tua dapat duduk bersama, saling menghargai, dan menyatukan langkah untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berilmu, beradab, mandiri, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, anak bukan hanya membutuhkan sekolah yang baik atau keluarga yang baik secara terpisah. Anak membutuhkan keluarga dan sekolah yang mau berjalan bersama.
Tinggalkan Komentar