Oleh : Lilis Hidayah, S.Pd., Gr
(Kepala TK YBIS Sekip)
Bismillah. Walhamdulillah. Assholatu wassalaamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala alihi washahbihi wamawwaalah. Amma ba’du,”. Dengan menyebut nama Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah, beserta keluarga dan sahabatnya yang mengikutinya.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di Sumatera mengalami musibah banjir yang cukup besar. Rumah-rumah terendam, keluarga harus mengungsi, aktivitas ekonomi terganggu, dan banyak warga kehilangan harta benda. Dalam pandangan Islam, musibah tidak selalu berarti hukuman, tetapi lebih sebagai bentuk kasih sayang Allah yang mengajak hamba-Nya untuk kembali mendekat kepada-Nya.
Musibah bukanlah azab bagi orang yang beriman, melainkan ujian. Melalui ujian itu, Allah ingin membersihkan hati, menghapus dosa, dan meninggikan derajat hamba-Nya. Betapa sering manusia lalai saat diberi nikmat, namun menjadi sadar dan kembali saat tertimpa musibah. Itulah kasih sayang Allah yang tersembunyi di balik rasa sedih yang menimpa.
Berkah dalam setiap musibah
Ketika seseorang sabar saat mendapatkan musibah, maka selain dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Ta’ala, ia juga akan mendapatkan surga yang telah dijanjikan sebagai buah atas kesabaranya.
Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
“Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mewafatkan orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan (balasan) surga.”
(HR. Bukhari)
Saat musibah datang, janganlah buru-buru berburuk sangka. Mungkin itu adalah jalan Allah untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Atau cara-Nya mengingatkan kita yang terlalu lama lalai. Sebagaimana hujan deras bisa menyuburkan tanah yang gersang, begitu pula musibah bisa menyuburkan jiwa yang mulai kering dari iman.
Di sisi lain, Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya empati dan tolong-menolong. Dalam setiap bencana, umat Islam dianjurkan untuk memperkuat solidaritas. Membantu korban banjir, menyediakan makanan, pakaian layak, atau sekadar menguatkan dengan doa merupakan amal yang sangat dicintai Allah.
Nabi ﷺ bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Musibah menjadi ladang amal bagi siapa saja yang ingin menebar kebaikan.
Selain itu, sunnah mengajarkan doa-doa yang bisa dibaca ketika ditimpa musibah. Salah satu doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.” Doa ini bukan hanya ucapan, tetapi pernyataan bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dengan doa ini hati menjadi tenang, jiwa menjadi lebih kuat, dan pikiran menjadi lebih jernih dalam menghadapi ujian.
Musibah banjir juga mengingatkan bahwa manusia memiliki amanah menjaga alam. Kerusakan lingkungan, penebangan hutan tanpa kendali, pembuangan sampah sembarangan, dan lemahnya tata kelola air berkontribusi pada semakin parahnya bencana. Islam sejak awal menegaskan agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi. Allah berfirman; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56). Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga alam adalah ibadah dan bagian dari ketaatan.
Musibah sejatinya adalah panggilan dari Allah, agar kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia, menundukkan diri, dan bertanya, “Sudah sejauh apa aku dari Allah?” Ia adalah alarm jiwa agar kita lebih peka untuk kembali kepada-Nya.
Ketika musibah mengetuk pintu, bukalah dengan sabar. Sambutlah dengan iman. Karena bisa jadi, itu adalah cara Allah menunjukkan, “… bahwa Dia masih peduli padamu, masih menyayangimu, dan memintamu untuk kembali mendekat kepada-Nya.”
Sumber: https://muslim.or.id/106198-musibah-untuk-muhasabah.html
Tinggalkan Komentar