Oleh : Samsuri Riyanto, S. E., Gr
(Kepala SMP Islam Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Di era media sosial, menjadi terkenal tidak lagi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Seseorang dapat mendadak viral hanya dalam hitungan jam karena sebuah video, unggahan, atau komentar yang menarik perhatian banyak orang. Fenomena ini membuat sebagian remaja mulai memandang popularitas di dunia maya sebagai ukuran kesuksesan. Tidak sedikit yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan banyak likes, komentar, dan pengikut, bahkan jika harus mengorbankan nilai, etika, atau prestasi.
Media sosial pada dasarnya merupakan sarana yang sangat bermanfaat. Banyak siswa memanfaatkannya untuk belajar, berbagi karya, membangun komunitas, hingga mengikuti berbagai lomba dan pelatihan. Sayangnya, algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang mampu menarik perhatian dalam waktu singkat. Akibatnya, konten yang sensasional, kontroversial, atau penuh drama sering kali lebih cepat viral dibandingkan konten yang edukatif atau inspiratif.
Kondisi tersebut membuat sebagian siswa mulai mengejar popularitas instan daripada proses panjang untuk meraih prestasi. Belajar dengan tekun, berlatih setiap hari, atau mengikuti kompetisi membutuhkan waktu dan kesabaran. Sebaliknya, membuat konten yang sensasional terkadang dianggap sebagai jalan yang lebih cepat untuk dikenal banyak orang. Padahal, popularitas yang diperoleh tanpa dasar kemampuan yang kuat sering kali hanya bertahan sesaat.
Tidak sedikit kasus ketika seseorang sengaja membuat konten berbahaya, melakukan tantangan ekstrem, berpura-pura melakukan hal yang kontroversial, atau bahkan mempermalukan orang lain demi mendapatkan perhatian publik. Mereka mungkin memperoleh jutaan penonton, tetapi belum tentu mendapatkan penghargaan atau rasa hormat. Sebaliknya, tindakan tersebut dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.
Prestasi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar viral. Prestasi lahir dari kerja keras, disiplin, latihan, kegagalan, dan semangat untuk terus belajar. Seseorang yang berprestasi mungkin tidak langsung dikenal banyak orang, tetapi pencapaiannya akan menjadi bekal berharga untuk masa depan. Nilai-nilai seperti ketekunan, tanggung jawab, dan integritas tidak dapat digantikan oleh jumlah pengikut atau tayangan di media sosial.
Hal yang perlu dipahami adalah bahwa viral dan berprestasi sebenarnya tidak harus saling bertentangan. Banyak pelajar, guru, atlet, ilmuwan muda, hingga kreator konten edukasi yang justru menjadi viral karena karya, inovasi, dan prestasinya. Mereka menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menginspirasi, berbagi ilmu, dan menunjukkan hasil kerja keras, bukan sekadar mencari perhatian. Dengan cara seperti ini, media sosial menjadi alat untuk memperluas manfaat, bukan sekadar mengejar popularitas.
UNESCO mengingatkan bahwa media digital memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Namun, penggunaan media sosial juga harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis, literasi media, serta tanggung jawab dalam membuat dan menyebarkan konten. Anak muda perlu memahami bahwa apa yang populer belum tentu benar atau bermanfaat.
UNICEF juga menekankan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi tempat belajar, membangun kreativitas, dan memperluas relasi. Di sisi lain, penggunaan yang berlebihan atau hanya berorientasi pada jumlah likes dan views dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, bahkan mengganggu aktivitas belajar apabila tidak dikelola dengan baik.
Sebagai siswa, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang ingin dikenang orang dari saya?” Apakah hanya karena pernah viral selama beberapa hari, atau karena pernah menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang? Dunia digital memang berubah sangat cepat, tetapi nilai sebuah prestasi akan tetap dihargai dalam jangka panjang. Ijazah, keterampilan, karakter, dan pengalaman akan membuka lebih banyak kesempatan dibandingkan popularitas yang bersifat sementara.
Pada akhirnya, viral bukanlah tujuan, melainkan kemungkinan yang bisa datang sebagai dampak dari karya yang berkualitas. Jadikan media sosial sebagai tempat untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menunjukkan potensi terbaik yang dimiliki. Ingatlah bahwa jumlah pengikut dapat bertambah dan berkurang kapan saja, tetapi ilmu, karakter, dan prestasi akan selalu menjadi investasi terbaik untuk masa depan. Jadilah generasi yang tidak hanya dikenal karena viral, tetapi juga dihormati karena prestasi dan kontribusinya bagi sesama.
Daftar Sumber
Tinggalkan Komentar