Oleh : Lilis Hidayah, S.Pd., Gr
(Kepala TK Yaa Bunayya Islamic School Sekip)
Bismillahirrahmanirrahim
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia sering merasa harus mampu melakukan semuanya. Pekerjaan harus selesai, keluarga harus diperhatikan, tanggung jawab harus ditunaikan, target harus dicapai, dan berbagai persoalan seolah tidak pernah berhenti datang. Tidak jarang, seseorang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang mengalami kelelahan yang sangat dalam.
Kesibukan memang bukan sesuatu yang selalu buruk. Bekerja, mengurus keluarga, mendidik anak, belajar, dan melayani orang lain merupakan bagian dari kehidupan yang bernilai. Namun, ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri, kesehatan mental dapat terganggu.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan mental. Kesehatan mental merupakan keadaan sejahtera yang membantu seseorang menghadapi tekanan kehidupan, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada lingkungan sekitarnya.
Tekanan kehidupan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada tekanan pekerjaan, masalah keluarga, tuntutan ekonomi, tanggung jawab sosial, persoalan pendidikan anak, hingga tekanan untuk selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain.
Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan emosional, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, gangguan tidur, kecemasan, bahkan burnout.
Kajian sistematis dan meta-analisis yang lebih baru juga menemukan bahwa intervensi berbasis mindfulness dapat membantu menurunkan burnout dan meningkatkan resiliensi serta kualitas tidur, meskipun peneliti menekankan bahwa kualitas bukti masih memiliki keterbatasan tertentu.
Artinya, kesehatan mental tidak cukup dijaga hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri, “Saya harus kuat.” Kita juga membutuhkan cara yang nyata untuk mengatur tekanan, beristirahat, membangun hubungan yang sehat, dan meminta bantuan ketika diperlukan.
Menariknya, prinsip keseimbangan tersebut sangat sejalan dengan tuntunan Islam. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan Abdullah bin ‘Amr yang terlalu berlebihan dalam beribadah hingga mengorbankan waktu istirahatnya. Beliau ﷺ bersabda bahwa tubuh memiliki hak atas seseorang dan mata juga memiliki hak atas dirinya. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 5199. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan tubuh, keluarga, tidur, dan kebutuhan istirahat demi mengejar kesibukan. Bahkan dalam perkara ibadah sekalipun, Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan.
Di tengah tekanan hidup, Islam tidak hanya menawarkan teknik untuk mengelola stres, tetapi juga memberikan tempat bersandar yang lebih dalam: hubungan dengan Allah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini memberikan perspektif penting bahwa ketenangan hati tidak hanya dibangun melalui kondisi kehidupan yang sempurna. Manusia tetap dapat menghadapi masalah, tetapi memiliki tempat untuk kembali dan bersandar.
Dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat, dan memperbanyak istighfar dapat menjadi bagian dari rutinitas spiritual ketika menghadapi tekanan. Hal ini juga menarik jika dilihat dari penelitian modern. Sebuah systematic review yang menganalisis 20 penelitian mengenai mendengarkan, membaca, atau menghafalkan Al-Qur’an menemukan adanya indikasi manfaat terhadap beberapa aspek kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, kualitas hidup, dan kualitas tidur. Namun, peneliti juga mencatat perlunya penelitian yang lebih kuat untuk memperkokoh kesimpulan tersebut.
Berusaha, Kemudian Bertawakal
Islam juga mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.”
Hadis ini merupakan bagian dari Sahih Muslim 2664. Hadis tersebut memberikan tiga prinsip yang sangat relevan dengan kehidupan modern:
1.Pertama, fokus pada hal yang bermanfaat.
Tidak semua hal layak mendapatkan energi kita. Ada pekerjaan yang penting, ada yang sekadar mendesak, dan ada pula yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan.
2.Kedua, meminta pertolongan kepada Allah.
Kita boleh memiliki target, rencana, dan strategi. Namun, hati tetap bergantung kepada Allah.
3.Ketiga, jangan menyerah karena kelemahan.
Mengakui bahwa kita sedang lelah berbeda dengan menyerah. Kita boleh berhenti sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan perjalanan dengan cara yang lebih sehat.
Kesehatan mental juga berkaitan erat dengan kesehatan fisik. WHO memasukkan tidur yang cukup, aktivitas fisik, pola makan sehat, serta hubungan sosial sebagai bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan.
Karena itu, jangan meremehkan hal-hal sederhana seperti:
Semua itu bukan sekadar gaya hidup modern. Dalam perspektif Islam, menjaga tubuh juga merupakan bagian dari menjaga amanah. Hadis Nabi ﷺ tentang “tubuh memiliki hak atasmu” memberikan landasan penting bahwa seorang Muslim tidak dianjurkan mengabaikan kebutuhan fisiknya demi melakukan aktivitas secara berlebihan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan sekadar mengikuti tren self-care. Bagi seorang Muslim, merawat diri dapat menjadi bagian dari syukur atas amanah yang Allah berikan.
Beristirahat agar mampu kembali berbuat baik juga dapat menjadi bagian dari menjaga amanah. Maka, ketika hari terasa terlalu berat, tidak perlu selalu memaksa diri untuk mengatakan, “Aku harus kuat.”Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah:
“Aku akan berusaha semampuku, meminta pertolongan kepada Allah, menjaga tubuh dan hatiku, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.”
Sumber :
Tinggalkan Komentar