Info
Thursday, 02 Apr 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

GURU PILIH KASIH EMANG BOLEH ?

Thursday, 16 October 2025 Oleh : admin

 Penulis : Teratai Sridewi, S.Pd.
(Guru SD YBIS)

Secara tegas dapat dijawab: Tidak, guru tidak boleh atau tidak etis untuk bersikap pilih kasih dalam pendidikan.

Sikap pilih kasih (favoritisme) oleh guru terhadap murid merupakan masalah serius yang melanggar prinsip-prinsip dasar etika profesi guru dan memiliki dampak negatif yang besar terhadap perkembangan psikologis serta akademik siswa.

Berikut adalah uraian lengkap mengenai sikap pilih kasih guru:

  1. Pandangan Etika dan Profesionalisme Guru

Dalam konteks etika profesional, sikap pilih kasih sangat tidak dibenarkan karena bertentangan dengan nilai-nilai inti seorang pendidik:

  • Melanggar Prinsip Keadilan (Non-Diskriminasi): Salah satu prinsip utama etika guru adalah keadilan. Guru wajib memperlakukan semua peserta didik secara adil dan non-diskriminatif, tanpa memandang latar belakang, jenis kelamin, agama, penampilan, status sosial-ekonomi (kaya/miskin), atau tingkat prestasi mereka. Sikap pilih kasih jelas melanggar prinsip keadilan ini.
    • Sumber-sumber etika guru, termasuk dalam ajaran Islam dan Kode Etik Guru, secara eksplisit menekankan pentingnya sifat adil dan tidak pilih kasih.
  • Tidak Profesional: Sikap pilih kasih, yang sering dipengaruhi oleh faktor pribadi (seperti kedekatan dengan orang tua murid, pemberian hadiah/gratifikasi, atau preferensi fisik/gender), dianggap tidak profesional. Guru seharusnya memisahkan urusan pribadi dengan tugas dan tanggung jawab profesionalnya di kelas.
  • Merusak Martabat Profesi: Guru adalah teladan. Ketika guru menunjukkan favoritisme, hal itu dapat merusak kepercayaan siswa, orang tua, dan masyarakat terhadap martabat dan integritas profesi keguruan.
  1. Dampak Negatif Sikap Pilih Kasih Terhadap Siswa

Sikap pilih kasih guru meninggalkan luka psikologis dan menghambat potensi akademik siswa, baik bagi yang tidak disukai maupun yang disukai:

Bagi Murid yang Tidak Disukai/Dikesampingkan

  1. Menurunkan Harga Diri dan Kepercayaan Diri: Siswa merasa dirinya tidak berharga atau tidak pantas mendapat perhatian, yang dapat menyebabkan rendah diri (insecure), stres, dan hilangnya motivasi untuk berprestasi.
  2. Menyebabkan Gangguan Emosi dan Perilaku: Perasaan marah, sedih, dan kecewa karena perlakuan tidak adil dapat membuat siswa malas masuk kelas, bahkan berpotensi ponteng sekolah atau terjerumus dalam perilaku agresif/tidak pantas.
  3. Hambatan Belajar: Ketika siswa merasa tidak diperhatikan atau dihargai, proses belajarnya menjadi tidak efektif karena ia tidak merasa nyaman dan kurang mendapat dukungan optimal dari guru.

Bagi Murid yang Disukai

  1. Tumbuh Menjadi Manja atau Superior: Siswa yang selalu menjadi favorit berisiko tumbuh menjadi pribadi yang manja, banyak menuntut, merasa lebih unggul, dan meremehkan aturan karena merasa selalu dilindungi atau dimaafkan oleh guru.
  2. Hubungan Sosial Terganggu: Favoritisme dapat memicu kecemburuan dan persaingan tidak sehat antar siswa, merusak hubungan pertemanan mereka di kelas.
  1. Faktor Pemicu Pilih Kasih

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sikap pilih kasih guru bisa muncul karena berbagai faktor, di antaranya:

  • Status Sosial Ekonomi (Sosek) Murid: Guru cenderung memberikan perhatian dan layanan lebih baik kepada murid yang berasal dari keluarga kaya.
  • Pencapaian dan Kepandaian: Guru lebih fokus pada siswa yang sudah berprestasi atau aktif di kelas.
  • Penampilan dan Perilaku: Siswa yang “manis”, sopan, atau berpenampilan menarik lebih mudah mendapat perlakuan istimewa.
  • Gratifikasi: Guru mungkin memberikan nilai atau perlakuan istimewa kepada murid yang orang tuanya sering memberi hadiah atau bantuan.
  1. Cara Menghadapi Guru yang Pilih Kasih

Jika ada siswa yang merasa menjadi korban atau orang tua melihat perilaku pilih kasih, ada beberapa langkah konstruktif yang bisa dilakukan:

  1. Fokus pada Prestasi Diri: Arahkan energi negatif menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan menunjukkan kemampuan diri melalui prestasi yang cemerlang.
  2. Perbaiki Komunikasi: Siswa atau orang tua dapat mencoba berkomunikasi secara baik-baik dan profesional dengan guru yang bersangkutan untuk mengutarakan masalah tanpa menuduh, dengan harapan guru dapat memperbaiki sikapnya.
  3. Konsultasi dengan Pihak Sekolah: Jika komunikasi langsung tidak berhasil atau situasi memburuk, masalah ini perlu dikonsultasikan dengan guru BK, wali kelas, atau Kepala Sekolah agar pihak sekolah dapat mengambil tindakan yang tepat.

Kesimpulannya, dalam kerangka pendidikan dan etika, sikap pilih kasih oleh guru adalah tindakan yang tidak dibenarkan karena secara fundamental merugikan siswa dan melanggar prinsip keadilan. Guru yang profesional wajib melayani semua murid dengan setara dan adil.

Sumber : jurnal (Melanggar Prinsip Etika) Etika profesional guru secara eksplisit menuntut keadilan (non-diskriminasi) dan melarang segala bentuk pilih kasih atau ‘anak emas/anak tiri.’

No Comments

Tinggalkan Komentar