Oleh : Harits S.Pd., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, ada kalanya cara mendidik yang keliru justru menimbulkan luka mendalam. Hal ini yang disebut sebagai pola asuh beracun atau toxic parenting.
Bukan sekadar ketegasan semata, pola asuh ini dapat merusak kepercayaan diri, menyebabkan trauma masa kecil, serta mentransmisikan perilaku yang tak sehat ke generasi selanjutnya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali ciri-ciri toxic parenting dan memahami dampaknya.
Apa Itu Toxic Parenting dalam Pendidikan?
Dalam sosiologi Pendidikan, toxic parenting ini merujuk pada pola asuh yang Dimana control orang tua sangat dominan terhadap proses Pendidikan tanpa mempertimbangkan perkembangan anak. Hal ini sangat berbeda dengan partisipasi orang tua yang positif, seperti memberikan wadah kepada anak untuk mengembangkan minat dan bakatnya, membantu anak belajar dirumah, atau memberikan motivasi positif dalam pembelajaran anak. Justru, toxic parenting ini menciptakan tekanan psikologis seperti kecemasan atau depresi pada anak, bahkan dapat menciptakan karakter anak yang manja dan selalu bergantung kepada orang tua.
Dari perspektif antropologi, hal ini terkait dengan perubahan budaya keluarga di Indonesia. Di zaman dahulu, anak di tuntut untuk mandiri, hormat dan patuh kepada guru, serta memiliki sikap sopan santun terhadap guru, orangtua atau orang yang lebih tua. Namun saat ini, dengan adanya akses informasi di media social, orang tua merasa perlu “mengawasi” segalanya. Contohnya, di Jakarta dan Surabaya, orangtua sering ikut rapat sekolah, bahkan Ketika orangtua tidak puas dengan hasil pembelajaran anak, mereka menuntut sekolah untuk mengganti guru tersebut. Hal ini mencerminkan budaya kompetitif yang mendorong orang tua untuk “menang” dalam Pendidikan anak.
Dampak Negatif pada Anak dan Sistem Pendidikan
Studi dari Universitas Indonesia menunjukkan, anak-anak dengan orangtua yang overprotektif lebih rentan stress dan berujung pada masalah Kesehatan mental seperti burnout. Campur tangan berlebihan juga dapat merusak kemandirian anak. Anak yang selalu “dibela” orangtua cenderung kurang Tangguh untuk menghadapi masalah.
Di Indonesia, sudah terlihat jelas fenomena ini. Seperti di Bengkulu, guru SMA dipolisikan hingga diketapel akibat menegur siswa yang merokok. Alih-alih mengajari anak menghadapi masalahnya sendiri, orangtua langsung turun tangan dan membela anaknya hingga melakukan Tindakan menyerang kepada guru tersebut. Hal ini yang malah membuat anak semakin bergantung dan kurang percaya diri dalam menghadapi masalahnya.
Solusi Untuk Mengatasi Toxic Parenting
Dalam kasus ini, untuk mengurangi dampak ini Adalah dengan pendekatan kolaboratif. Sekolah bisa mengadakan workshop atau parenting untuk orangtua tentang batas campur tangan. Dimana saat itu juga, orangtua dan guru membuat kesepakatan Bersama dan bekerjasama dalam perkembangan anak. Guru bisa membuaat perjanjian tertulis dengan orantua yang berisi kesepakatan Bersama. Orangtua juga perlu intropeksi diri, membiarkan anak belajar dari kesalahannya. Di Indonesia, kampanye seperti “Pendidikan Tanpa Tekanan” dari kementrian Pendidikan bisa dipeluas.
Fenomena toxic parenting ini mencerminkan tantangan social di Indonesia saat ini. Dimana Pendidikan semakin kompetitif. Dengan kesadaran dan Kerjasama antara guru dan orangtua dapat menciptakan lingkungan Pendidikan yang lebih sehat dan adil.
Sumber :
Tinggalkan Komentar