Oleh : Rosita Sinta Dewi, S.Si., Gr.
(Guru SMP Islam Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
“Bu, ini caranya bagaimana?”
Pertanyaan sederhana seperti itu dahulu menjadi pemandangan yang sangat umum ketika siswa menemukan soal matematika yang sulit. Kini, kebiasaan tersebut mulai mengalami perubahan. Sebelum bertanya kepada guru, sebagian siswa mungkin memilih membuka ponsel, memotret soal, lalu menyerahkannya kepada aplikasi pemecah soal atau kecerdasan artifisial (AI). Dalam hitungan detik, jawaban dan langkah penyelesaian dapat muncul di layar.
Perkembangan teknologi tentu membawa banyak kemudahan. AI dapat menjadi teman belajar yang membantu siswa memperoleh penjelasan tambahan, menemukan contoh soal, atau memahami konsep yang belum dikuasai. Pemerintah Indonesia pun mulai mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dalam pendidikan secara bijak dan bertanggung jawab.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan:
Apakah siswa benar-benar belajar ketika AI memberikan jawabannya?
Dalam matematika, jawaban bukanlah satu-satunya tujuan. Proses menemukan jawaban justru menjadi bagian penting dari pembelajaran. Ketika siswa menghadapi soal yang sulit, mereka belajar membaca informasi, memilih strategi, melakukan perhitungan, menemukan kesalahan, dan mencoba kembali. Proses tersebut melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Masalah dapat muncul ketika aplikasi pemecah soal digunakan sebagai jalan pintas. Siswa mungkin mendapatkan jawaban yang benar tanpa memahami alasan di baliknya. Akibatnya, ketika angka atau bentuk soal sedikit diubah, mereka kembali mengalami kesulitan. Jawabannya benar, tetapi proses berpikirnya belum tentu berkembang.
Di sinilah peran guru tetap penting. Kemendikdasmen menegaskan bahwa AI merupakan alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti guru. Guru tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mengajukan pertanyaan, memberikan umpan balik, mengamati proses belajar, dan membantu siswa membangun cara berpikir.
Karena itu, penggunaan AI sebaiknya bukan dilarang sepenuhnya, melainkan diarahkan. Siswa dapat mencoba menyelesaikan soal terlebih dahulu. Jika mengalami kebuntuan, AI dapat digunakan untuk meminta petunjuk atau penjelasan. Setelah itu, siswa perlu memeriksa kembali langkah penyelesaiannya dan memastikan bahwa ia benar-benar memahami konsep yang digunakan.
Kebiasaan sederhana ini dapat mengubah posisi AI dari
“mesin pemberi jawaban” menjadi “teman untuk belajar.”
Pada akhirnya, teknologi boleh berkembang dan cara belajar boleh berubah. Dahulu siswa bertanya kepada guru, sekarang mereka dapat bertanya kepada AI. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kemauan untuk berpikir.
Sebab, tujuan belajar matematika bukan sekadar mendapatkan jawaban yang benar, tetapi menjadi pribadi yang mampu memahami masalah, mencari solusi, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.
Sumber:
Tinggalkan Komentar