Penulis : Fajar Selawati, M.Pd., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Kita hidup di negeri yang Allah hiasi dengan beragam warna. Beda suku, beda bahasa, beda agama. Kadang keberagaman ini bikin hati gelisah. Tapi justru di sinilah ujian syukur kita diuji. Allah sudah mengingatkan sejak 1400 tahun lalu:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”
QS. Al-Hujurat: 13
Ayat ini fondasi kita. Tujuan Allah menciptakan kita berbeda bukan untuk bertengkar. Tapi li ta’arofu — supaya saling kenal, saling bantu, saling melengkapi.
Di era media sosial, kita gampang sekali membandingkan hidup. Lihat tetangga baru beli mobil, lihat teman liburan ke luar negeri. Hati langsung sempit. Padahal Rasulullah ﷺ sudah ajarkan kuncinya:
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu. Karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.”
HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963
Hadits ini mengajarkan qana’ah. Dengan melihat ke bawah, kita akan sadar betapa banyak nikmat yang Allah titipkan. Kesehatan, keluarga, iman. Itu semua jauh lebih mahal dari apapun.
Syukur bukan cuma bilang “Alhamdulillah”. Syukur itu 3:
Sebagai muslim di Indonesia, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita punya tetangga, teman kerja, teman sekolah yang berbeda keyakinan.
Islam tidak melarang kita berbuat baik kepada mereka. Selama mereka tidak memerangi kita dalam urusan agama.
Allah berfirman:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
QS. Al-Mumtahanah: 8
Ini dalil toleransi dalam Islam. Kita hormati, kita tolong saat butuh, kita jaga hak mereka.
Nabi ﷺ juga memberi contoh. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47
Dalam Syarah hadits ini, para ulama menjelaskan “tetangga” mencakup muslim dan non-muslim. Artinya, berbuat baik ke tetangga non-muslim juga berpahala.
Tapi ingat, berbuat baik ≠ ikut dalam ritual ibadah mereka. Dalam aqidah kita tetap tegas:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ
“Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.”
QS. Al-Kafirun: 6
Setiap malam tulis 3 nikmat hari ini. Bisa kecil: “Alhamdulillah bisa sarapan”, “Alhamdulillah anak sehat”.
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah.”
HR. Tirmidzi no. 1954, dishahihkan Al-Albani
Bisa kirim makanan, sapa, atau bantu angkat galon. Tidak peduli agamanya apa. Ini dakwah paling indah.
Sebagaimana kaidah yang sering diulang di Rumaysho: “Berbuat baiklah kepada manusia, maka mereka akan mencintaimu”.
Sebelum komen atau share di WA/IG, tanya: “Apakah ini bikin persatuan atau perpecahan?”
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47
Saudaraku, hidup ini singkat. Jangan habiskan energi untuk iri dan marah. Habiskan untuk bersyukur dan berbuat baik.
Allah janjikan:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
QS. Ibrahim: 7
Sumber
Tinggalkan Komentar