Oleh : Adi Pamungkas, M.Si
(Konsultan Pendidikan Yaa Bunayya Islamic School)
Dinas Pendidikan Kota Palembang
Bismillahirrahmanirrahim
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»
Dari Anas Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang tetap sabar memegang agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
at-Tirmidzi (no. 2260), Hadis ini juga memiliki syawahid (penguat) dari beberapa jalur riwayat lainnya.
Hadis ini merupakan salah satu mukjizat kenabian karena Rasulullah ﷺ telah mengabarkan keadaan umat Islam menjelang akhir zaman, yaitu masa ketika mempertahankan agama menjadi sesuatu yang sangat berat.
Bentuk fitnah tersebut meliputi:
Keadaan tersebut menyebabkan orang yang istiqamah mengalami tekanan dari lingkungan, bahkan terkadang dari keluarga dan sahabat sendiri.
Allah berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Bara api merupakan sesuatu yang secara naluri akan segera dilepaskan karena panasnya.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa:
Imam al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa sebagaimana seseorang hampir tidak mampu memegang bara api, demikian pula orang yang istiqamah hampir tidak sanggup menghadapi beratnya fitnah zaman.
Sabar dalam hadis ini mencakup tiga bentuk:
a. Sabar dalam ketaatan
Tetap melaksanakan shalat, menuntut ilmu, berdakwah, dan beribadah.
b. Sabar meninggalkan maksiat
Menolak riba, zina, korupsi, syirik, dan seluruh bentuk kemaksiatan meskipun dianggap biasa oleh masyarakat.
c. Sabar menghadapi ujian
Sabar terhadap ejekan, tekanan, intimidasi, kehilangan jabatan, bahkan pengucilan.
Beberapa sebabnya antara lain:
Orang yang tetap berpegang teguh kepada agama pada masa fitnah memperoleh pahala yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ»
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟
قَالَ: «بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ»
“Sesungguhnya di belakang kalian akan datang hari-hari penuh kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa itu memperoleh pahala lima puluh orang dari kalian.”
Mereka bertanya, “Lima puluh dari kami atau dari mereka?”
Beliau menjawab,
“Lima puluh dari kalian.”
(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
قِيلَ: مَنْ هُمُ الْغُرَبَاءُ؟
قَالَ: «الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ»
“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
Ditanyakan:
“Siapakah mereka?”
Beliau menjawab:
“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki ketika manusia telah rusak.”
(HR. Muslim; riwayat penjelas tentang “الذين يصلحون…” terdapat dalam riwayat Ahmad dan selainnya)
Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiaga dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)
Hadis ini menjadi dalil bahwa fitnah akhir zaman akan terus meningkat sehingga seorang mukmin harus memperkuat iman, ilmu, amal, dan doa.
Kesabaran yang dipuji bukan sekadar menahan diri, tetapi tetap konsisten menjalankan syariat Allah meskipun harus menghadapi tekanan, celaan, dan pengorbanan.
عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ.
قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim)
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»
“Ibadah pada masa penuh kekacauan (fitnah) seperti berhijrah kepadaku.”
(HR. Muslim)
Hadis-hadis ini saling melengkapi dalam menjelaskan bahwa pada masa fitnah, seorang mukmin dituntut untuk memperkuat ilmu, menjaga istiqamah, bersabar dalam ketaatan, menjauhi maksiat, serta terus berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah meskipun menghadapi berbagai ujian.
Semoga Kita tetap di bawah lindungan dari Allah, Amien.
Tinggalkan Komentar