Oleh : Eva Permata Indah, S.Pd.Gr
(Guru SD Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Huruf dan kata adalah jendela dunia, dan tugas kita adalah membukakannya untuk Ananda dengan cara yang paling indah. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketukan lembut. Belajar membaca seringkali jadi tantangan besar, baik bagi Ananda maupun orang tua.
Tapi, tahu nggak Ayah dan Bunda? Ada satu metode populer yang justru membebaskan Ananda untuk belajar sesuai dengan kecepatan mereka sendiri. Namanya metode Montessori. Lewat pendekatan yang serba konkret dan menyenangkan, metode ini mengubah aktivitas membaca yang tadinya membosankan menjadi petualangan yang dinanti-nanti si Ananda.
Suara manusia atau orang terdekat yang paling melekat dan akhirnya menjadi bahasa yang dipakai oleh anak. Pada tahun-tahun awalnya, seorang anak-anak belajar berbicara dari suara yang kerap didengar. di sekitarnya. Meskipun begitu banyak suara yang mereka dengar, secara alamiah anak-anak tetap tahu memilih bahasa yang akan digunakannya. Kecerdasan dan kemampuan otak manusialah yang akan memilah dan memproses suara mana yang akan dipakai anak dalam proses belajar berbicaranya.
Tidak seperti berbicara, kemampuan membaca dan menulis bukanlah kemampuan natural manusia. Baca-tulis adalah adaptasi dari kebudayaan terhadap kemampuan berbicara. Jika kemampuan berbicara dapat berkembang dengan sendirinya, kemampuan baca-tulis harus dipelajari.
Dalam Montessori, anak-anak belajar membaca melalui dua tahap, yaitu Tahap Pra- Membaca dan Tahap Teknis Membaca.
- Tahap Pra-Membaca
Sebelum Ananda masuk pada inti kegiatan membaca, Ananda terlebih dahulu perlu melalui aktivitas Pra-membaca sebagai pondasi. Kunci utama kesuksesan Ananda membaca ada pada tahap pra-membaca karena itu Tahap Pra-Membaca tidak boleh dilewatkan oleh Ananda begitu saja. Karena Ananda perlu membangun keterampilan bahasa, konsentrasi, dan koordinasi tangan, adapun kegiatan yang bisa dilakukan:
- Bercerita dan Bernyanyi: Membacakan buku setiap hari dan menyanyikan lagu fonik (phonics songs) untuk melatih telinga anak mendengar bunyi bahasa.
- Permainan I Spy: Permainan tebak kata berdasarkan bunyi huruf awal. Contoh: “I spy with my little eye, something that starts with ‘B’”(Baju, Bola).
- Pra-Menulis: Melatih kekuatan jemari dan kontrol pensil melalui kegiatan sehari-hari seperti mewarnai dalam garis atau mengisi pola logam (metal insets).
- Tahap Teknis Membaca
Setelah indra dan kesadaran bunyi Ananda terasah, barulah masuk ke tahap pengenalan simbol. Uniknya, Montessori percaya bahwa proses menulis (menyusun kata) terjadi lebih dulu atau bersamaan dengan kemampuan membaca.
- Mengenal Huruf Lewat Sentuhan (Sandpaper Letters):Ananda meraba huruf yang bertekstur kasar seperti kertas ampelas dengan jari telunjuk dan jari tengah mereka sambil mendengarkan bunyi fonik huruf tersebut (misal: huruf ‘m’ dibunyikan /mmm/, bukan “em”). Ini mengintegrasikan memori visual, auditori, dan otot (multisensori).
- Menyusun Kata dengan Huruf Lepasan (Moveable Alphabet):Sebelum anak bisa memegang pensil dengan mantap untuk menulis di kertas, mereka sudah bisa “menulis” dengan cara menyusun huruf-huruf kayu/plastik di lantai.
- Praktik Konkret:Ananda diberikan benda nyata (misal: mainan kucing). Mereka lalu menganalisis bunyinya (/k/ — /u/– /c/ — /i/ — /ng/) dan mengambil huruf-huruf yang sesuai dari kotak untuk disusun di samping mainan tersebut.
- Membaca Alami (Dekoding):Setelah terbiasa menyusun kata dari pikiran mereka sendiri, Ananda akan mulai menyadari bahwa mereka juga bisa membaca (memecahkan kode) kata-kata yang disusun oleh orang lain. Proses membaca pun terjadi secara organik tanpa paksaan.
Kesimpulan:
Maka dapat disimpulkan bahwa anak-anak usia dini belajar membaca dengan melalui dua tahap, yaitu:
- Tahap Pra-Membaca
Pada Tahap Pra-Membaca, orangtua atau pendidik dapat melakukan beberapa kegiatan bersama anak seperti berbincang, bernyanyi, bermain peran, mendengarkan cerita dan membacakan cerita.
- Tahap Teknis
Pada tahap teknis membaca, anak akan belajar sesuai dengan prinsip montessori, yaitu dari sederhana menuju yang kompleks dan dari konkrit ke abstrak dengan cara yang menyenangkan dengan memperhatikan tahap perkembangan anak. Adapun kegiatan- kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengenalkan bunyi huruf menggunakan huruf raba (sandpaper letters)dan huruf pisah (Movable Alphabet), belajar membangun kata dengan menggunakan kotak objek dan kotak baca, melancarkan kemampuan membaca dengan daftar kata, mengasah kemampuannya dengan belajar membaca tanpa suara menggunakan material yang disebut kotak rahasia atau Secret Box, dikenalkan pada frasa dan kalimat, memahami konsep Subjek — Predikat — Objek — Keterangan, dan akhirnya anak belajar membaca buku dimana anak telah mampu memadukan beberapa kalimat menjadi sebuah kisah pendek yang memiliki alur cerita serta tokoh di dalamnya.
Referensi:
- https://ejournal.unisda.ac.id/index.php/AJER/article/view/12331/4387656–665+koloni+juni+22.pdf
Tinggalkan Komentar