Info
Wednesday, 04 Nov 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

AMANAH, HARTA, DAN JABATAN: SEMUANYA AKAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN

Wednesday, 4 November 2026 Oleh : admin

Oleh: Adi Pamungkas, M.Si.
(Konsultan Pendidikan Yaa Bunayya Islamic School)
Dinas Pendidikan Kota Palembang

Bismillahirrahmanirrahim

Renungan Hadis Rasulullah ﷺ tentang Pengkhianatan, Penggelapan, dan Kecurangan di Hari Kiamat

Hadis tentang Ancaman Ghulūl (Pengkhianatan terhadap Amanah)

 

3996 – وعن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم ، فذكر الغلول ، فعظمه وعظم أمره ، ثم قال :

“لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته بعير له رغاء يقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته فرس له حمحمة ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك ، لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته شاة لها ثغاء يقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء القيامة على رقبته نفس لها صياح ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته رقاع تخفق ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته صامت ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك”. متفق عليه وهذا لفظ مسلم

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau menyebutkan tentang ghulūl (penggelapan atau pengkhianatan terhadap harta amanah). Beliau memperingatkannya dengan keras dan menjelaskan betapa besar dosanya. Kemudian beliau bersabda:

  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa seekor unta di atas lehernya yang bersuara, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa seekor kuda di atas lehernya yang meringkik, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa seekor kambing di atas lehernya yang mengembik, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa seseorang di atas lehernya yang berteriak, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa lembaran-lembaran kain yang berkibar di atas lehernya, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
  • Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa harta berharga di atas lehernya, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, tolonglah aku!” Maka aku menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”’”

(Muttafaqun ‘alaih, dan lafaz di atas adalah riwayat Muslim.)

SYARH MUFRADAT

1. الغُلُولُ (al-Ghulūl)

Secara umum berarti:

Pengkhianatan dalam harta yang berada dalam amanah seseorang.

Asal penggunaan istilah ghulūl adalah mengambil harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan. Namun secara makna, ia mencakup setiap bentuk pengkhianatan terhadap harta amanah.

Contohnya:

  • Menggelapkan uang negara.
  • Korupsi.
  • Mengambil uang organisasi tanpa hak.
  • Menggunakan dana umat untuk kepentingan pribadi.
  • Menggelapkan uang perusahaan.
  • Mengambil barang titipan.
  • Menyelewengkan dana masjid atau yayasan.
  • Memakan harta bersama tanpa izin.

2. أَغِثْنِي (Aghithnī)

Artinya: “Tolonglah aku!” atau “Selamatkanlah aku!”

3. قَدْ أَبْلَغْتُكَ (Qad ballaghtuka)

Artinya: “Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”

Maksudnya, Rasulullah ﷺ telah menyampaikan hukum Allah dan memperingatkan umat dari dosa tersebut.

AYAT-AYAT AL-QUR’AN

1. Larangan Ghulūl

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Tidak mungkin seorang nabi berbuat khianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa berkhianat, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan secara sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”

QS. Āli ‘Imrān: 161

يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya pada hari Kiamat.”

Sedangkan hadis menjelaskan bagaimana bentuknya:

  • Membawa unta.
  • Membawa kuda.
  • Membawa kambing.
  • Membawa manusia.
  • Membawa kain.
  • Membawa harta berharga.
  • Kendaraan, dll.

Dengan demikian, hadis ini merupakan penjelasan terhadap kandungan QS. Āli ‘Imrān ayat 161.

2. Larangan Mengkhianati Amanah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”

QS. Al-Anfāl: 27

Ghulūl merupakan salah satu bentuk:

خِيَانَةُ الْأَمَانَةِ

“Pengkhianatan terhadap amanah.”

Harta yang berada dalam tanggung jawab seseorang bukan berarti menjadi miliknya.

3. Setiap Pengkhianatan Akan Dipertanggungjawabkan

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

QS. Al-Isrā’: 36

Prinsipnya:

Tidak ada amanah yang hilang dari perhitungan Allah.

4. Allah Memerintahkan Menunaikan Amanah

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”

QS. An-Nisā’: 58

Hadis ini merupakan ancaman bagi orang yang melakukan kebalikan dari ayat tersebut.

Allah memerintahkan:

أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ

“Tunaikanlah amanah.”

Sedangkan pelaku ghulūl:

Mengambil amanah untuk dirinya sendiri.

FIKIH HADIS

1. Ghulūl adalah Dosa Besar

Rasulullah ﷺ:

فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ

“Beliau menyebutkan ghulūl, lalu beliau membesarkan dan menganggapnya sebagai perkara yang sangat berat.”

Ini menunjukkan bahwa ghulūl termasuk dosa besar karena terdapat ancaman yang sangat keras pada hari Kiamat.

2. Harta Amanah Tidak Boleh Diambil Tanpa Hak

Seseorang yang diberi tanggung jawab terhadap harta tidak otomatis menjadi pemilik harta tersebut.

Misalnya:

  • Bendahara.
  • Ketua panitia.
  • Pengurus masjid.
  • Pengurus yayasan.
  • Pegawai perusahaan.
  • Pejabat negara.
  • Pengelola dana umat.

Semuanya wajib membedakan antara:

مَالِي (Hartaku) dan

مَالُ الْأَمَانَةِ (Harta yang diamanahkan kepadaku).

3. Korupsi Termasuk Bentuk Pengkhianatan yang Sangat Berat

Secara penerapan kontemporer, korupsi merupakan bentuk:

خِيَانَةُ الْأَمَانَةِ

dan dapat termasuk dalam makna umum ghulūl.

Terutama apabila seseorang:

  • Diberi jabatan.
  • Memiliki akses terhadap uang.
  • Memiliki kewenangan.
  • Kemudian mengambil keuntungan pribadi secara tidak sah.

Jabatan bukan jalan untuk memperkaya diri, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

4. Harta Haram Akan Menjadi Beban pada Hari Kiamat

Ini merupakan pesan paling kuat dalam hadis.

Sesuatu yang dahulu dianggap sebagai keuntungan dapat berubah menjadi beban pada hari Kiamat.

  • Unta yang dicuri akan dibawa.
  • Kuda yang digelapkan akan dibawa.
  • Kambing yang diambil akan dibawa.
  • Harta berharga yang dicuri akan dibawa.
  • Jabatan hasil penipuan akan dibawa.

Seakan-akan Allah memperlihatkan kepada seluruh makhluk: “Inilah harta yang dahulu engkau ambil secara zalim.”

5. Bentuk Hukuman Sesuai dengan Jenis Kezaliman

Dalam hadis disebutkan berbagai macam benda: unta, kuda, kambing, manusia, kain, dan harta berharga.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap pengkhianatan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban masing-masing.

Kaidah penting:

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan sesuai dengan jenis perbuatannya.”

6. Tidak Semua Dosa Berkaitan dengan Allah Saja, Sebagian Berkaitan dengan Hak Manusia

Ghulūl berkaitan dengan:

حُقُوقُ الْعِبَادِ

Hak-hak manusia.

Karena itu, sekadar mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

belum cukup apabila harta orang lain masih berada dalam tangannya.

Ia wajib:

  • Bertaubat kepada Allah.
  • Menyesali perbuatannya.
  • Berhenti dari perbuatan tersebut.
  • Bertekad tidak mengulanginya.
  • Mengembalikan harta kepada pemiliknya atau pihak yang berhak.

7. Rasulullah ﷺ Telah Menyampaikan Risalah

Beliau bersabda:

لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ telah:

  • Menyampaikan.
  • Menjelaskan.
  • Memberikan peringatan.
  • Menegakkan hujjah.

Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan pada hari Kiamat:

“Saya tidak tahu.”

8. Tidak Boleh Menggantungkan Keselamatan kepada Kedekatan dengan Orang Saleh

Orang tersebut berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي

“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”

Namun Rasulullah ﷺ menjawab:

لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu.”

Pelajarannya:

Keselamatan akhirat bukan berdasarkan pengakuan, kedekatan, atau simbol keagamaan semata.

Yang menentukan adalah:

  • Iman.
  • Amal saleh.
  • Rahmat Allah.
  • Terbebasnya seseorang dari kezaliman dan dosa yang belum diselesaikan.

9. Jabatan adalah Amanah, Bukan Kemuliaan Semata

Semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis lain:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Maka seorang ketua, bendahara, direktur, pejabat, dan pimpinan lembaga hendaknya menyadari: setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban.

10. Harta Dunia yang Sedikit Dapat Menjadi Sebab Azab yang Besar

Hadis ini menyebutkan:

شَاةً — seekor kambing.

Artinya, meskipun barang yang diambil dianggap kecil, hal tersebut tetap dapat menjadi masalah besar pada hari Kiamat.

Jangan mengatakan:

  • “Hanya sedikit.”
  • “Hanya satu barang.”
  • “Tidak akan ada yang tahu.”

Karena Allah mengetahui.

KESIMPULAN

Hadis ini merupakan peringatan keras terhadap ghulūl dan pengkhianatan terhadap amanah.

Pesan utamanya:

Jangan sampai harta yang kita kumpulkan di dunia justru kita pikul sebagai beban pada hari Kiamat.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa berkhianat, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.”

(QS. Āli ‘Imrān: 161)

RENUNGAN

Harta yang halal menjadi bekal kehidupan, tetapi harta yang diambil secara zalim dapat berubah menjadi beban di hadapan Allah. Amanah yang dikhianati mungkin dapat disembunyikan dari manusia, tetapi tidak akan pernah tersembunyi dari pengadilan Allah pada hari Kiamat.


Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, 19 Agustus 2026

Adi Pamungkas, M.Si.
Konsultan Pendidikan Yayasan Ya Bunayya

No Comments

Tinggalkan Komentar