Oleh: Adi Pamungkas, M.Si.
(Konsultan Pendidikan Yaa Bunayya Islamic School)
Dinas Pendidikan Kota Palembang
Bismillahirrahmanirrahim
3996 – وعن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم ، فذكر الغلول ، فعظمه وعظم أمره ، ثم قال :
“لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته بعير له رغاء يقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته فرس له حمحمة ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك ، لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته شاة لها ثغاء يقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء القيامة على رقبته نفس لها صياح ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته رقاع تخفق ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك . لا ألفين أحدكم يجيء يوم القيامة على رقبته صامت ، فيقول : يا رسول الله ! أغثني ، فأقول : لا أملك لك شيئا ، قد أبلغتك”. متفق عليه وهذا لفظ مسلم
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
“Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau menyebutkan tentang ghulūl (penggelapan atau pengkhianatan terhadap harta amanah). Beliau memperingatkannya dengan keras dan menjelaskan betapa besar dosanya. Kemudian beliau bersabda:
(Muttafaqun ‘alaih, dan lafaz di atas adalah riwayat Muslim.)
Secara umum berarti:
Pengkhianatan dalam harta yang berada dalam amanah seseorang.
Asal penggunaan istilah ghulūl adalah mengambil harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan. Namun secara makna, ia mencakup setiap bentuk pengkhianatan terhadap harta amanah.
Contohnya:
Artinya: “Tolonglah aku!” atau “Selamatkanlah aku!”
Artinya: “Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
Maksudnya, Rasulullah ﷺ telah menyampaikan hukum Allah dan memperingatkan umat dari dosa tersebut.
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Tidak mungkin seorang nabi berbuat khianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa berkhianat, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan secara sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”
QS. Āli ‘Imrān: 161
يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya pada hari Kiamat.”
Sedangkan hadis menjelaskan bagaimana bentuknya:
Dengan demikian, hadis ini merupakan penjelasan terhadap kandungan QS. Āli ‘Imrān ayat 161.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”
QS. Al-Anfāl: 27
Ghulūl merupakan salah satu bentuk:
خِيَانَةُ الْأَمَانَةِ
“Pengkhianatan terhadap amanah.”
Harta yang berada dalam tanggung jawab seseorang bukan berarti menjadi miliknya.
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
QS. Al-Isrā’: 36
Prinsipnya:
Tidak ada amanah yang hilang dari perhitungan Allah.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
QS. An-Nisā’: 58
Hadis ini merupakan ancaman bagi orang yang melakukan kebalikan dari ayat tersebut.
Allah memerintahkan:
أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ
“Tunaikanlah amanah.”
Sedangkan pelaku ghulūl:
Mengambil amanah untuk dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ:
فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ
“Beliau menyebutkan ghulūl, lalu beliau membesarkan dan menganggapnya sebagai perkara yang sangat berat.”
Ini menunjukkan bahwa ghulūl termasuk dosa besar karena terdapat ancaman yang sangat keras pada hari Kiamat.
Seseorang yang diberi tanggung jawab terhadap harta tidak otomatis menjadi pemilik harta tersebut.
Misalnya:
Semuanya wajib membedakan antara:
مَالِي (Hartaku) dan
مَالُ الْأَمَانَةِ (Harta yang diamanahkan kepadaku).
Secara penerapan kontemporer, korupsi merupakan bentuk:
خِيَانَةُ الْأَمَانَةِ
dan dapat termasuk dalam makna umum ghulūl.
Terutama apabila seseorang:
Jabatan bukan jalan untuk memperkaya diri, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Ini merupakan pesan paling kuat dalam hadis.
Sesuatu yang dahulu dianggap sebagai keuntungan dapat berubah menjadi beban pada hari Kiamat.
Seakan-akan Allah memperlihatkan kepada seluruh makhluk: “Inilah harta yang dahulu engkau ambil secara zalim.”
Dalam hadis disebutkan berbagai macam benda: unta, kuda, kambing, manusia, kain, dan harta berharga.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap pengkhianatan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban masing-masing.
Kaidah penting:
الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ
“Balasan sesuai dengan jenis perbuatannya.”
Ghulūl berkaitan dengan:
حُقُوقُ الْعِبَادِ
Hak-hak manusia.
Karena itu, sekadar mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
belum cukup apabila harta orang lain masih berada dalam tangannya.
Ia wajib:
Beliau bersabda:
لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu.”
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ telah:
Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan pada hari Kiamat:
“Saya tidak tahu.”
Orang tersebut berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي
“Wahai Rasulullah, tolonglah aku!”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu.”
Pelajarannya:
Keselamatan akhirat bukan berdasarkan pengakuan, kedekatan, atau simbol keagamaan semata.
Yang menentukan adalah:
Semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis lain:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Maka seorang ketua, bendahara, direktur, pejabat, dan pimpinan lembaga hendaknya menyadari: setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban.
Hadis ini menyebutkan:
شَاةً — seekor kambing.
Artinya, meskipun barang yang diambil dianggap kecil, hal tersebut tetap dapat menjadi masalah besar pada hari Kiamat.
Jangan mengatakan:
Karena Allah mengetahui.
Hadis ini merupakan peringatan keras terhadap ghulūl dan pengkhianatan terhadap amanah.
Pesan utamanya:
Jangan sampai harta yang kita kumpulkan di dunia justru kita pikul sebagai beban pada hari Kiamat.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa berkhianat, maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.”
(QS. Āli ‘Imrān: 161)
Harta yang halal menjadi bekal kehidupan, tetapi harta yang diambil secara zalim dapat berubah menjadi beban di hadapan Allah. Amanah yang dikhianati mungkin dapat disembunyikan dari manusia, tetapi tidak akan pernah tersembunyi dari pengadilan Allah pada hari Kiamat.
Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, 19 Agustus 2026
Adi Pamungkas, M.Si.
Konsultan Pendidikan Yayasan Ya Bunayya
Tinggalkan Komentar