Oleh : Nurtini Aprilia,S.Sos., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Ummi dan Abi yang dirahmati Allah, mari sejenak menundukkan hati dan mengingat kembali betapa istimewanya kedudukan seorang ibu. Peran ini bukanlah sekadar rutinitas biologis semata. melahirkan, menyusui, atau menyiapkan hidangan hangat di meja makan. Lebih jauh dari itu, di balik lembut usapan jemari dan ketulusan doa seorang ibu, disitu terdapat pula tugas paling mulia dalam peradaban manusia: memegang amanah dari Allah dalam membentuk generasi masa depan yang berahklak Islami.
Islam menempatkan sosok ibu pada derajat yang amat tinggi dan istimewa. Dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Beliau bertanya lagi: Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Beliau bertanya lagi: Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Beliau bertanya lagi: Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Pengulangan kata “ibumu” hingga tiga kali oleh Rasulullah ﷺ menjadi bukti nyata betapa berharganya pengorbanan serta kasih sayang seorang ibu. Ibu adalah madrasatul ula sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ juga menegaskan kepemimpinan seorang wanita di dalam rumah tangganya: “Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (H.R. Bukhari).
Oleh karena itu, setiap lelah yang dirasakan seorang ibu tidak akan pernah menjadi hal yang sia-sia di mata Allah. Terbangun di larut malam untuk menyusui, merawat dengan sabar saat buah hati terbaring sakit, hingga menyuapi suapan demi suapan makanan, semuanya berpotensi menjadi kran pahala yang mengalir deras tanpa henti apabila diniatkan lillahi ta’ala.
Melalui ketelatenan serta kebiasaan kecil sehari-hari mengajarkan tata cara makan yang sopan, membiasakan mengucapkan kata “tolong“, menanamkan kejujuran, serta mengajarkan indahnya meminta maaf seorang ibu sebenarnya sedang melukis fondasi adab dan karakter mulia pada jiwa anak-anaknya.
Terkhusus untuk wali murid Yaa Bunayya kepada mama-mama wali murid anak-anak ummi, ummi ucapkan terima kasih banyak, Jazaakunallahu khairan, selama ini sangat kooperatif dalam mendidik ananda dan murojaáh hapalan serta mereview pelajaran yang ummi dan ustadznya ajarkan di sekolah. Setiap lelah yang kita jalani insya Allah akan berbuah pahala dan dapat menjadi amal jariyah bagi kita. Aaamiin ya rabbal a’lamiin, Pada akhir kalimat di artikel ini, mari kita jalani amanah yang sangat istimewa ini dengan penuh keikhlasan, kesabaran, serta ketakwaan, demi melahirkan generasi penerus yang berilmu, beradab, dan menjadi pembawa kebaikan bagi agama serta bangsa.
Tinggalkan Komentar