Info
Thursday, 23 Apr 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

SURAT CINTA UNTUK PARA ORANG TUA

Thursday, 23 April 2026 Oleh : admin

Oleh : Zia Ulfah
(GURU TK Sako Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Untuk Umma dan Abah yang sedang Lelah..

Pernahkah kalian merasa cemas saat melihat anak tetangga yang sudah lancar membaca di usia 4 tahun, sementara sikecil dirumah masih asyik menyusun balok?

Pernahkah hati kalian tersentak saat mendengar cerita tentang anak orang lain yang juara lomba tahfidz, lalu tanpa sadar anda pun berharap Anda berharap si Kecil juga bisa berdiri di panggung seperti itu?

Jika pernah, tarik napas dalam-dalam. Anda tidak sendirian. Di era segala pencapaian terpampang jelas di media sosial, godaan untuk membandingkan itu sangat besar. Namun, hari ini, mari kita duduk sebentar dan merenungkan satu hal penting:

Membandingkan anak adalah cara tercepat untuk mematikan cahaya unik yang Allah titipkan pada mereka.

 

🚫 Jebakan “Anak Si A vs Anak Kita”

Setiap kali kita berkata, “Kok kamu nggak bisa seperti kakak?” atau “Lihat tuh, adik bayi saja sudah bisa, kenapa kamu belum?”, sebenarnya kita sedang mengirimkan pesan berbahaya ke hati kecil mereka:

“Cintaku padamu bersyarat. Kamu baru berharga jika kamu sama hebatnya dengan orang lain.”

Padahal, bayangkan sebuah taman bunga.

Apakah masuk akal jika kita marah pada Bunga Matahari karena dia tidak bisa wangi seperti Melati?

Apakah adil jika kita memaksa Kaktus untuk berbunga merah meraah seperti Mawar di tengah gurun?

Tidak. Karena mereka diciptakan dengan misi, waktu, dan keindahan yang berbeda.

  • Ada anak yang “berbunga” cepat di usia dini (pintar bicara, cepat baca).
  • Ada anak yang akarnya perlu tumbuh dalam-dalam dulu sebelum batangnya menjulang (mereka mungkin lambat bicara, tapi punya empati luar biasa atau logika yang kuat nanti).
  • Ada anak yang memang ditakdirkan menjadi pohon raksasa yang tumbuh perlahan namun kokoh menahan badai.

Jika Anda memaksa Kaktus menjadi Mawar, Anda bukan hanya membuatnya gagal menjadi Mawar, tapi Anda juga membunuh keunikan dirinya sebagai Kaktus yang tangguh.

 

🔍 Melihat Keistimewaan yang Tersembunyi

Seringkali, apa yang kita anggap sebagai “kekurangan” anak, sebenarnya adalah benih dari kekuatan terbesar mereka.

  • Anak yang terlalu aktif dan sulit diam? Mungkin dia calon pemimpin yang penuh energi atau atlet hebat. Jangan paksa dia duduk diam seperti patung; salurkan energinya.
  • Anak yang pendiam dan susah bergaul? Mungkin dia pengamat yang tajam, pemikir yang dalam, atau seniman yang peka terhadap perasaan. Jangan paksa dia jadi pusat perhatian jika itu bukan dunianya.
  • Anak yang keras kepala? Itu tanda dia punya pendirian kuat dan kepemimpinan. Tantangannya adalah mengarahkannya, bukan mematahkannya.

Keistimewaan anak Ummah dan Abah tidak selalu terlihat di rapor, piala, atau pujian guru. Keistimewaan itu sering tersembunyi dalam:

  • Keperduliannya terhadap sesama ciptaan Allah
  • Ketekunannya saat melaksanakan sholat tepat waktu di usia sedini ini
  • Diam-diam mendoakan kebaikan dunia akhirat untukmu di setiap harinya
  • Serta kesabarannya menunggumu pulang

Itulah emas murni yang sering terlewatkan karena mata kita terlalu sibuk melirik “emas” milik orang lain.

 

💔 Luka Karena Perbandingan

Anak yang terus-menerus dibandingkan akan tumbuh dengan dua kemungkinan luka batin:

  1. Merasa Tidak Cukup: Mereka merasa apapun yang mereka lakukan tidak pernah cukup untuk membuat orang tuanya bangga. Ini melahirkan rasa insecure seumur hidup.
  2. Dendam dan Pemberontakan: Mereka merasa orang tuanya tidak mencintai mereka apa adanya, sehingga hubungan menjadi renggang.

Ingatlah, Nak (dalam hati kita), “Ummah, Abah mencintaimu bukan karena prestasimu, tapi karena kamu ada.” Pastikan kalimat itu benar-benar mereka rasakan bukan sekedar di bibir saja.

Anak-anak bukanlah proyek yang harus di sesuaikan dengan standar orang lain. Tugas kita  bukan membentuk mereka menjadi seperti orang lain, tetapi membantu mereka membentuk jati diri mereka yang sesungguhnya.

Karena pada Akhirnya, Ketika mereka dewasa, mereka tidak akan mengingat berapa nilai matematikanya atau berapa piala yang mereka menangkan. Mereka akan mengingat, bagaimana mereka di cintai tanpa syarat oleh orang tuanya. Di pandang dengan mata yang sabar saat gagal, di peluk erat saat dunianya runtuh, dan di dengar tanpa di hakimi saat mereka dihadapkan dengan konflik.

Barakallahu fiiikum…

No Comments

Tinggalkan Komentar