Oleh : Zia Ulfah
(GURU TK Sako Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Untuk Umma dan Abah yang sedang Lelah..
Pernahkah kalian merasa cemas saat melihat anak tetangga yang sudah lancar membaca di usia 4 tahun, sementara sikecil dirumah masih asyik menyusun balok?
Pernahkah hati kalian tersentak saat mendengar cerita tentang anak orang lain yang juara lomba tahfidz, lalu tanpa sadar anda pun berharap Anda berharap si Kecil juga bisa berdiri di panggung seperti itu?
Jika pernah, tarik napas dalam-dalam. Anda tidak sendirian. Di era segala pencapaian terpampang jelas di media sosial, godaan untuk membandingkan itu sangat besar. Namun, hari ini, mari kita duduk sebentar dan merenungkan satu hal penting:
Membandingkan anak adalah cara tercepat untuk mematikan cahaya unik yang Allah titipkan pada mereka.
🚫 Jebakan “Anak Si A vs Anak Kita”
Setiap kali kita berkata, “Kok kamu nggak bisa seperti kakak?” atau “Lihat tuh, adik bayi saja sudah bisa, kenapa kamu belum?”, sebenarnya kita sedang mengirimkan pesan berbahaya ke hati kecil mereka:
“Cintaku padamu bersyarat. Kamu baru berharga jika kamu sama hebatnya dengan orang lain.”
Padahal, bayangkan sebuah taman bunga.
Apakah masuk akal jika kita marah pada Bunga Matahari karena dia tidak bisa wangi seperti Melati?
Apakah adil jika kita memaksa Kaktus untuk berbunga merah meraah seperti Mawar di tengah gurun?
Tidak. Karena mereka diciptakan dengan misi, waktu, dan keindahan yang berbeda.
Jika Anda memaksa Kaktus menjadi Mawar, Anda bukan hanya membuatnya gagal menjadi Mawar, tapi Anda juga membunuh keunikan dirinya sebagai Kaktus yang tangguh.
🔍 Melihat Keistimewaan yang Tersembunyi
Seringkali, apa yang kita anggap sebagai “kekurangan” anak, sebenarnya adalah benih dari kekuatan terbesar mereka.
Keistimewaan anak Ummah dan Abah tidak selalu terlihat di rapor, piala, atau pujian guru. Keistimewaan itu sering tersembunyi dalam:
Itulah emas murni yang sering terlewatkan karena mata kita terlalu sibuk melirik “emas” milik orang lain.
💔 Luka Karena Perbandingan
Anak yang terus-menerus dibandingkan akan tumbuh dengan dua kemungkinan luka batin:
Ingatlah, Nak (dalam hati kita), “Ummah, Abah mencintaimu bukan karena prestasimu, tapi karena kamu ada.” Pastikan kalimat itu benar-benar mereka rasakan bukan sekedar di bibir saja.
Anak-anak bukanlah proyek yang harus di sesuaikan dengan standar orang lain. Tugas kita bukan membentuk mereka menjadi seperti orang lain, tetapi membantu mereka membentuk jati diri mereka yang sesungguhnya.
Karena pada Akhirnya, Ketika mereka dewasa, mereka tidak akan mengingat berapa nilai matematikanya atau berapa piala yang mereka menangkan. Mereka akan mengingat, bagaimana mereka di cintai tanpa syarat oleh orang tuanya. Di pandang dengan mata yang sabar saat gagal, di peluk erat saat dunianya runtuh, dan di dengar tanpa di hakimi saat mereka dihadapkan dengan konflik.
Barakallahu fiiikum…
Tinggalkan Komentar