Oleh : Juli Anggraini S,Sos, MM
(Staff Administrasi TK Yaa Bunayya Islamic School Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan lingkungan yang dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan dan keberlangsungan pendidikan anak. Paparan partikulat udara, terutama PM2.5, dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, kelelahan, dan penurunan kenyamanan selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, kehadiran, aktivitas belajar, serta capaian akademik anak. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dampak kabut asap terhadap proses pembelajaran anak berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan perkembangan kondisi pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan menelaah penelitian mengenai polusi udara, kesehatan anak, kehadiran siswa, fungsi kognitif, dan prestasi akademik.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kabut asap dapat memengaruhi pembelajaran melalui dua jalur utama.
Kualitas lingkungan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan proses pendidikan. Anak membutuhkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman agar dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Salah satu persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia adalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Fenomena tersebut kembali terlihat di Indonesia pada 2026. Sejumlah pemerintah daerah menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat memburuknya kualitas udara. Akibatnya anak tidak hanya menghadapi risiko gangguan kesehatan, tetapi juga perubahan lingkungan dan metode belajar.
Kabut asap mengandung berbagai polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah particulate matter atau PM2.5. Partikel tersebut memiliki ukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Paparan polusi udara dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada anak. Gangguan tersebut dapat berupa batuk, iritasi mata, gangguan pernapasan, sakit kepala, dan rasa tidak Ketika kondisi kesehatan terganggu, kemampuan anak untuk mengikuti pembelajaran juga dapat menurun.
Penelitian mengenai kualitas udara di sekitar sekolah menunjukkan bahwa polusi udara tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dengan fungsi kognitif anak. Sebuah rapid review yang menelaah sembilan penelitian menemukan bukti bahwa PM2.5 di dalam dan sekitar sekolah berkaitan dengan fungsi eksekutif dan prestasi akademik yang lebih rendah. Paparan nitrogen dioksida juga berkaitan dengan gangguan memori kerja.
Penelitian prospektif terhadap 2.715 anak sekolah dasar di Barcelona juga menemukan bahwa anak yang bersekolah di lingkungan dengan tingkat polusi lalu lintas lebih tinggi mengalami perkembangan kognitif yang lebih kecil dibandingkan anak yang bersekolah di lingkungan dengan tingkat polusi lebih rendah.
Pembelajaran membutuhkan perhatian dan konsentrasi, anak harus mampu mendengarkan penjelasan guru, memahami informasi, mengingat materi, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan teman.
Kabut asap dapat mengganggu proses tersebut melalui kondisi kesehatan dan kualitas lingkungan belajar. Ketika anak mengalami mata perih, batuk, sesak, sakit kepala, atau kelelahan, perhatian terhadap materi pembelajaran dapat berkurang. Sekolah dapat menghentikan pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan. Tentunya hal ini tetap mengacu pada aturan dan edaran dari kementrian Pendidikan. Kabut asap juga membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Pembatasan tersebut penting untuk melindungi kesehatan. Namun, anak juga membutuhkan aktivitas fisik, permainan, interaksi sosial, dan kegiatan sekolah di luar kelas.
Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan olahraga dan aktivitas luar ruangan dapat dihentikan. Bagi anak usia dini, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus. Pembelajaran anak usia dini tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik. Anak belajar melalui permainan, gerakan, interaksi sosial, eksplorasi lingkungan, dan pengalaman langsung.
Pengembangan media video animasi juga terbukti dapat meningkatkan self-awareness anak dalam menghadapi bencana kabut asap. Artinya, kondisi kabut asap juga dapat menjadi kesempatan bagi sekolah untuk memasukkan pendidikan kesiapsiagaan bencana ke dalam kegiatan pembelajaran.
Kebijakan pendidikan dalam kondisi kabut asap sebaiknya tidak hanya berfokus pada keputusan sekolah masuk atau libur. Pemerintah dan sekolah juga perlu memiliki sistem yang jelas mengenai:
Kabut asap memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar gangguan kesehatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlangsungan proses pembelajaran anak melalui beberapa mekanisme. Paparan polusi dapat mengganggu kondisi fisik dan kenyamanan anak.
Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi strategi perlindungan kesehatan. Namun, kebijakan tersebut harus memperhatikan kesenjangan akses teknologi dan kondisi keluarga. Karena itu, penanganan kabut asap perlu menggunakan pendekatan yang menggabungkan kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan perlindungan anak. Sekolah membutuhkan protokol yang jelas untuk menentukan kapan aktivitas luar ruangan dibatasi, kapan pembelajaran perlu dialihkan ke rumah, serta bagaimana memastikan anak tetap memperoleh hak belajar selama kondisi darurat lingkungan.
Kabut asap tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan kualitas udara. Dalam konteks pendidikan, kabut asap juga merupakan persoalan keberlanjutan proses belajar dan perlindungan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan berkualitas.
Tinggalkan Komentar