Info
Monday, 24 Aug 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

MENJAGA FITRAH BELAJAR ANAK DI TENGAH GEMPURAN DISTRAKSI GADGET

Monday, 24 August 2026 Oleh : admin

Oleh : Ismarani Nursa’diah, S.Pd.
(Guru SD Yaa Bunayya Palembang)

Bismillahirrahmanirrahim

Setiap anak terlahir ke dunia ini membawa modal yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu fitrah.

Rasulullah ﷺ bersabda :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).

Hadits ini mengingatkan kita bahwa setiap anak lahir dengan hati yang suci dan kecenderungan alami untuk menerima kebenaran. Salah satu dimensi fitrah yang melekat pada anak-anak usia SD adalah fitrah belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka adalah pembelajar alami. Mereka senang mengeksplorasi lingkungan, membaca, mendengarkan kisah, dan menyerap informasi baru di sekitarnya dengan cepat.

Namun, saat ini kita dihadapkan pada realitas zaman yang menantang. Kehadiran gadget di tengah-tengah keluarga dan lingkungan sekitar, jika tidak disikapi dengan bijak, dapat menjadi tsunami distraksi yang mengikis fitrah belajar tersebut. Anak-anak yang semula memiliki fokus tajam saat membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, kini perlahan mengalami penurunan rentang perhatian (attention span). Mengapa ini bisa terjadi, dan bagaimana kita sebagai guru serta orang tua menjaga fitrah mulia ini?

Dampak Gempuran Distraksi Gadget pada Proses Belajar

Media sosial, game online, dan video pendek dirancang dengan algoritma yang terus-menerus memicu hormon dopamin (hormon kesenangan) secara instan di otak anak. Akibatnya, aktivitas belajar konvensional —seperti membaca Al-Qur’an, menghafal hadits, atau memahami logika matematika— terasa membosankan bagi mereka karena membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja keras.

Ketika anak terlalu dini atau terlalu sering terpapar gadget tanpa batasan, beberapa dampak buruk yang sering kita temui di sekolah antara lain:

  • Penurunan Konsentrasi: Anak menjadi mudah gelisah dan sulit fokus saat mendengarkan pelajaran di kelas.
  • Hilangnya Ketekunan: Anak menginginkan segala sesuatu secara instan dan cepat menyerah saat menghadapi soal atau materi yang sulit.
  • Berkurangnya Interaksi Sosial & Adab: Anak menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, bahkan terkadang mengabaikan panggilan orang tua atau guru karena asyik menyenter layar.

Langkah Praktis Menjaga Fitrah Belajar Anak

Pendidikan Islam tidak melarang teknologi, namun mengajarkan kita untuk meletakkan segala sesuatu pada porsinya secara adil. Berikut adalah sinergi yang harus dibangun antara sekolah dan rumah:

  1. Batasi Waktu Layar (Screen Time) Secara Tegas
    Buat kesepakatan bersama anak mengenai waktu penggunaan gadget. Berdasarkan rekomendasi para ahli kesehatan anak, anak usia SD sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari 1 hingga 2 jam per hari di depan layar di luar kebutuhan belajar.
  2. Kembalikan Tradisi Membaca di Rumah
    Para ulama terdahulu dikenal memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu karena tradisi membaca yang kuat. Hidupkan kembali perpustakaan mini di rumah. Sediakan buku-buku sirah nabawiyah, kisah para sahabat, atau buku sains yang menarik agar fokus anak kembali terlatih lewat lembaran buku, bukan layar digital.
  3. Hadirkan Aktivitas Fisik dan Pengalaman Nyata
    Alihkan perhatian anak dari dunia maya dengan mengajak mereka melakukan aktivitas fisik. Bermain di luar ruangan, berkebun, membantu pekerjaan rumah, atau berolahraga sesuai sunnah (seperti memanah atau berenang) dapat mengembalikan kepekaan indra dan motorik mereka.
  4. Keteladanan (Uswah Hasanah) dari Orang Tua
    Anak adalah peniru ulung. Fitrah belajar anak akan terjaga jika mereka melihat orang tuanya juga gemar belajar, membaca Al-Qur’an, dan meletakkan HP saat sedang berbicara dengan mereka.

Di tengah derasnya arus teknologi, orang tua tidak bisa hanya melarang anak menggunakan gadget. Yang lebih penting adalah bagaimana membimbing mereka agar dapat menggunakan teknologi secara bijak dan sesuai dengan nilai-nilai Islam agar mereka tumbuh menjadi generasi yang diridhai Allah Ta’ala dan bermanfaat bagi umat Islam. Dengan demikian, anak-anak kita akan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim.

Sumber :

  • https://almadinah.or.id/posts/mendidik-anak-di-era-digital
  • https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/panduan-parenting-anak-di-era-digital-menurut-ulama-GVVPf
  • https://baznas.go.id/artikel-show/Tips-Parenting-Islami-di-Era-Gadget,-Panduan-Mendidik-Anak-di-Tengah-Arus-Digital/2328

No Comments

Tinggalkan Komentar