Oleh : Dinda Amalia Azahra
(Guru TK YBIS Sako)
بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Mendidik anak adalah amanah besar dalam Islam. Kehadiran anak di dunia bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga tanggung jawab untuk mengarahkan, membimbing, serta menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia. Islam memberikan panduan lengkap tentang cara membesarkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Pendidikan pertama yang harus diberikan orang tua adalah tauhid — pengesaan Allah.
Hal ini dicontohkan oleh Luqman Al-Hakim ketika menasehati anaknya yang Allah terangkan dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 13 :
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Sejak kecil, anak harus diajarkan mengenal Allah, cinta kepada-Nya, dan memahami bahwa segala nikmat berasal dari-Nya. Pendidikan tauhid menjadi pondasi segala akhlak dan perilaku.
Anak sangat mudah meniru. Karena itu, Islam menekankan pentingnya teladan yang baik dari orang tua.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keteladanan dalam shalat, kejujuran, sabar, dan akhlak adalah pendidikan alami yang paling kuat bagi anak.
Dalam Islam, adab mendahului ilmu. Ulama salaf sangat menekankan bahwa sebelum mengajarkan banyak hal, anak perlu dibiasakan akhlak yang baik.
Beberapa adab awal yang diajarkan kepada anak :
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang ayah memberikan suatu pemberian kepada anaknya yang lebih baik daripada adab yang mulia.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Shalat adalah tiang agama dan harus ditanamkan sejak kecil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tidak mau) ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, shahih)
Hadits ini menunjukkan pentingnya pembiasaan shalat sejak usia dini dan penegakan disiplin secara bertahap.
Islam mengajarkan kelembutan dalam berinteraksi dengan anak.
Nabi ﷺ sangat penyayang; beliau mencium dan menggendong cucu-cucunya.
Ketika seorang sahabat heran karena Nabi mencium anak-anak, beliau ﷺ menjawab:
“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Parenting Islami bukan tentang kekerasan, tetapi tentang kasih sayang yang mendidik.
Anak perlu diberi ruang belajar tanggung jawab sesuai usia, seperti:
Rasulullah ﷺ memberi tugas kepada anak-anak kecil dalam kapasitas mereka, menunjukkan bahwa kemandirian dibangun sejak dini.
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan pemikiran anak.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Seseorang itu mengikuti agama temannya. Maka lihatlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Tirmidzi)
Orang tua perlu mengawasi:
Doa adalah kunci keberhasilan pendidikan anak. Para Nabi pun banyak berdoa untuk keturunan mereka.
Seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 40 :
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Doa adalah bentuk tawakkal dan pengakuan bahwa hidayah adalah milik Allah.
Dengan mengikuti 8 poin diatas serta panduan dari Al-Qur’an dan Sunnah, orang tua dapat membentuk generasi yang kuat akidahnya, mulia akhlaknya, dan bermanfaat bagi umat insyaaAllah.
Sumber :
Tinggalkan Komentar