Oleh : Gita Rachma Yuandini
Guru SD YBIS
Kelekatan adalah ikatan emosional kuat yang berkembang antara anak dan figur lekat utamanya (biasanya orang tua). Ikatan ini membentuk basis aman bagi anak untuk menjelajahi dunia.
Pada usia SD (6-12 tahun), anak seharusnya telah mengembangkan kelekatan yang aman (secure attachment), di mana mereka yakin bahwa meskipun orang tua pergi, mereka akan kembali. Anak dengan kelekatan aman akan menunjukkan kecemasan berpisah yang ringan dan cepat teratasi.Namun, tangisan hebat yang terjadi berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu di kelas 1 dapat menjadi indikasi bahwa anak tersebut sedang menghadapi salah satu dari dua hal:
- Reaksi Transisi yang Wajar (Meskipun Berlebihan): Anak memang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru yang penuh tuntutan sosial dan akademik. Tangisan adalah cara mereka memohon jaminan keamanan dari figur lekatnya.
- Kelekatan yang Kurang Aman (Insecure Attachment): Jika kecemasan ini persisten, mungkin ini mencerminkan pola kelekatan yang kurang aman. Anak merasa tidak sepenuhnya yakin akan ketersediaan atau konsistensi orang tuanya saat dibutuhkan, sehingga rasa aman di lingkungan baru menjadi rapuh.
Intinya, tangisan itu adalah sebuah sinyal bahwa anak merasa tidak aman di tengah lingkungan baru.
Peran Tindakan yang Disarankan
Untuk Orang Tua :
- Konsisten dan Tegas Saat Berpamitan: Jangan berlama-lama atau menyelinap pergi. Beri pelukan singkat, ucapkan kalimat perpisahan yang menenangkan seperti, “Ibu/Ayah pasti akan menjemputmu setelah pelajaran selesai”, lalu segera tinggalkan kelas. Drama perpisahan yang panjang hanya memperkuat kecemasan anak.
- Komunikasi yang Responsif di Rumah: Tanyakan tentang perasaan anak, bukan hanya tentang tugas sekolah. Validasi perasaannya, lalu alihkan dengan hal positif.
- Doa dan Sentuhan Spiritual: Bacakan doa-doa perlindungan sebelum berangkat sekolah dan peluk anak. Ini membantu menenangkan hati anak secara psikologis dan spiritual.
Untuk Guru :
- Menerima dengan Kehangatan: Saat orang tua pergi, sambut anak dengan senyum ramah, kontak mata, dan sentuhan ringan. Jangan pernah menghakimi atau membandingkan anak yang menangis dengan teman seteman yang lain.
- Pengalihan Perhatian yang Cepat: Segera libatkan anak dalam aktivitas yang menarik di kelas. Misalnya, mengajak mewarnai, atau memberikan tugas sederhana yang dapat menarik perhatiannya agar fokus anak beralih dari pintu.
- Komunikasi dengan Orang Tua: Berikan update singkat saat anak sudah tenang, untuk meyakinkan orang tua bahwa strategi bersama ini berhasil.
Tangisan di pintu kelas bukanlah kegagalan. Itu adalah peluang bagi kita, sebagai pendidik dan orang tua, untuk membangun fondasi kasih sayang dan kemandirian yang sesuai dengan fitrah anak, sejalan dengan tuntunan agama.
Sumber Referensi
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books. (Konsep Kelekatan) Jahja, Y. (2011). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana. (Perkembangan Anak Usia Sekolah)
Tinggalkan Komentar