Info
Saturday, 23 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

TIDAK SEMUA PERLU DITANGGAPI: BEDAKAN ANTARA TAGHAFUL DAN TAJAHUL

Monday, 27 October 2025 Oleh : admin

Oleh: Atika Rahayu, M.T.
Guru SD YBIS

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Ia suka berkumpul dan membangun hubungan. Dalam perjalanan hidup, kita dipertemukan dengan beragam jenis relasi. Ada yang merupakan anugerah dari Allah dan menjadi sumber kebahagiaan, ada pula yang justru menjadi ujian, pelajaran, atau bahkan sumber luka dan gangguan.

Allah menciptakan manusia dari air dan tanah. Ada yang lebih dominan sifat “air”-nya (lembut dan mengalir seperti Sungai) dan ada pula yang lebih dominan sifat “tanah”-nya (keras seperti batu. Maka, dalam berhadapan dengan berbagai karakter ini, seseorang bisa jadi merasa bingung: bagaimana cara menyikapi orang seperti ini? Apalagi jika mereka adalah orang dekat, seperti keluarga. Di sinilah muncul kebutuhan akan sikap toleran yang cerdas, seperti tahammul (bersabar), taghaaful (berpura-pura tidak tahu), dan tajaahul (bersikap seolah tidak peduli).

Apa Bedanya Taghaaful dan Tajaahul?

Saat mencari tahu lebih dalam, ditemukan bahwa banyak orang menganggap taghaaful dan tajaahul itu sama. Namun, ternyata keduanya memiliki perbedaan halus namun penting:

Taghaaful adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang: ketika seseorang seolah-olah tidak melihat kesalahan orang lain karena ingin menjaga hubungan baik.

Tajaahul, sebaliknya, adalah bentuk penolakan dan pengabaian: saat kita memilih untuk benar-benar tidak peduli pada orang yang bersangkutan.

Secara bahasa, taghaaful berarti “berpura-pura lalai atau sengaja melupakan kesalahan kecil”, sedangkan tajaahul berarti “bersikap seolah-olah tidak tahu padahal sebenarnya tahu”.

Keduanya merupakan seni berinteraksi. Bedanya, taghaaful menunjukkan bahwa kita peduli dan ingin tetap menjaga hubungan, sementara tajaahul menunjukkan bahwa kita sudah tidak mau repot lagi dan merasa cukup.

 

 

Kapan Harus Taghaaful dan Kapan Tajaahul?

Keduanya memiliki tempat masing-masing dalam kehidupan sosial.

  • Taghaaful biasa digunakan terhadap orang-orang yang kita cintai atau yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Contohnya, saat seseorang dari keluarga kita melakukan kesalahan kecil, kita berpura-pura tidak tahu dan tidak menegur dengan keras.
  • Sebaliknya, tajaahul digunakan dalam menghadapi orang asing atau mereka yang hanya hadir sejenak dalam hidup kita, seperti orang yang menyakiti atau menghina, tapi tidak layak diberi perhatian lebih.

Namun, tidak semua kondisi cocok untuk taghaaful. Kita perlu memahami kapan harus menggunakan sikap ini:

  • Jika kesalahan itu jarang terjadi, maka abaikan saja. Karena hal yang jarang tidak berpengaruh besar.
  • Jika kesalahan itu masih bisa ditoleransi dan tidak menyakiti secara signifikan.
  • Jika kesalahan itu di luar kendali kita untuk mengubahnya.

Tetapi jika kesalahan itu berulang-ulang, tidak dapat ditoleransi, dan kita tahu dia bisa berubah, maka jangan buru-buru melakukan tajaahul. Ada satu tahap penting sebelum itu: berbicara langsung dan mengungkapkan ketidaknyamanan kita.

Dengan kata lain, taghaaful memberi ruang untuk memahami latar belakang tindakan seseorang. Mungkin mereka tidak bermaksud menyakiti, atau tidak tahu bahwa tindakan mereka mengganggu. Jika setelah diberi tahu mereka tidak berubah, maka tajaahul bisa menjadi pilihan terakhir untuk menyelamatkan hubungan atau setidaknya menjaga kewarasan diri sendiri.

Tapi Tidak Semua Bisa Diabaikan!

Penting diingat: tidak semua kesalahan layak diabaikan. Jika menyangkut pelanggaran terhadap hak Allah atau penindasan terhadap orang lain, maka perlu tindakan langsung yang bijaksana. Jadi, biasakan diri untuk tajāhul yang cerdas. Tak semua hal layak untuk dijadikan bahan perdebatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Sumber: Rumaysho.com

No Comments

Tinggalkan Komentar