Oleh : Wahyu Asikin, M.Pd.Gr.
(Kepala SD Yaa Bunayya Islamic School Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Ketika mendengar kata supervisi, sebagian guru mungkin langsung membayangkan observasi kelas, penilaian, pemeriksaan administrasi, atau mencari kekurangan dalam pembelajaran. Bahkan, ada yang menganggap supervisi hanya diperlukan ketika sekolah sedang mempersiapkan akreditasi. Padahal, supervisi bukanlah sekadar kegiatan untuk mengawasi dan menilai guru.
Supervisi seharusnya menjadi bagian dari proses membina, mendampingi, dan membantu guru untuk terus berkembang. Tujuannya sederhana: agar proses pembelajaran semakin baik dan murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Supervisi Bukan Sekadar Menilai
Sekolah tentu membutuhkan evaluasi dan penilaian. Administrasi juga perlu ditata, dan akreditasi merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir.
Supervisi yang baik tidak berhenti pada angka atau nilai hasil observasi. Setelah melihat proses pembelajaran, yang lebih penting adalah adanya percakapan antara kepala sekolah dan guru.
Apa yang sudah berjalan baik? Apa yang masih perlu diperbaiki? Apa kendalanya? Dukungan apa yang dibutuhkan? Dengan demikian, supervisi menjadi ruang untuk refleksi dan belajar bersama. Sehingga guru tidak merasa sedang diadili, tetapi merasa sedang dibantu untuk menjadi lebih baik.
Belajar dari Teladan Rasulullah ﷺ
Dalam kehidupan Rasulullah ﷺ terdapat banyak pelajaran tentang bagaimana membimbing seseorang dengan cara yang bijaksana. Salah satunya adalah kisah seorang Arab Badui yang buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat hendak menghentikannya, tetapi Rasulullah ﷺ meminta mereka membiarkannya sampai selesai. Setelah itu, beliau menjelaskan dengan baik bahwa masjid bukan tempat untuk melakukan perbuatan tersebut dan memerintahkan agar tempat itu dibersihkan.
Dari kisah tersebut kita belajar bahwa ketika seseorang melakukan kesalahan, tujuan utama seorang pembimbing bukanlah mempermalukannya. Yang lebih penting adalah memperbaiki kesalahan dan memberikan pemahaman yang benar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketegasan tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus dilakukan dengan cara yang keras. Dalam pendidikan, arahan dan koreksi dapat diberikan dengan tetap menjaga kehormatan dan semangat orang yang dibina.
Guru Juga Perlu Merasakan Bahwa Ia Dibina
Guru juga manusia yang terus belajar. Ada kalanya pembelajaran berjalan dengan baik. Namun, ada pula saat guru menghadapi kesulitan dalam mengelola kelas, memilih metode pembelajaran, melakukan asesmen, mengatur waktu, atau menghadapi beragam karakter murid. Semua itu merupakan bagian dari proses belajar. Karena itu, supervisi seharusnya menjadi kesempatan bagi guru untuk melakukan refleksi. Jika ditemukan kekurangan, maka kekurangan tersebut menjadi bahan pembinaan, bukan bahan untuk mempermalukan. Sebaliknya, jika ditemukan praktik baik, maka hal tersebut dapat dibagikan kepada guru lainnya. Dengan cara seperti ini, supervisi dapat tumbuh menjadi budaya saling belajar dan saling memperbaiki.
Membangun Budaya Supervisi di Sekolah
Supervisi tidak cukup hanya dilakukan satu atau dua kali dalam setahun. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk terus melakukan refleksi dan perbaikan. Supervisi akademik diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjaga nilai-nilai ilmu, amal, dan adab. Guru bukan hanya dituntut mampu mengajar, tetapi juga menjadi teladan bagi murid. Karena itu, supervisi menjadi salah satu sarana untuk memastikan pembelajaran terus berkembang, berpihak kepada murid, dan tetap sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang tidak pernah memiliki kekurangan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau mengakui kekurangan, belajar darinya, dan terus berusaha memperbaikinya.
Guru yang baik bukan guru yang tidak pernah salah, tetapi guru yang mau menerima nasihat, melakukan refleksi, dan tidak berhenti belajar.
Semoga supervisi di SD Islam Yaa Bunayya menjadi sarana untuk menumbuhkan guru-guru yang profesional, terbuka terhadap nasihat, dan memiliki semangat untuk terus berkembang. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan nilai supervisi yang baik, tetapi menghadirkan pembelajaran yang semakin baik bagi murid. “Great teachers are not those who never make mistakes, but those who never stop learning.”
Ya Allah, berilah kami taufik untuk menunaikan amanah dalam mendidik. Berkahilah usaha kami dan karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta hikmah dalam mendidik.
Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum
Referensi:
Tinggalkan Komentar