Info
Wednesday, 09 Sep 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

LITERASI DIGITAL ISLAMI SEBAGAI UPAYA MEMBENTENGI GENERASI MUDA DARI KONTEN NEGATIF

Wednesday, 9 September 2026 Oleh : admin

Oleh : Melinda Susilarini Ardillah, S.Kom
(Guru SMP Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah membuka akses informasi yang sangat luas bagi generasi muda. Internet dan media sosial memberikan banyak manfaat, mulai dari kemudahan belajar, berkomunikasi, hingga mengembangkan potensi diri. Namun di balik manfaat tersebut, terdapat pula ancaman serius berupa banjirnya konten negatif seperti pornografi, hoaks, ujaran kebencian, kekerasan, hingga konten yang merusak akidah dan akhlak. Data menunjukkan tingginya tingkat penetrasi internet di kalangan anak muda tidak diimbangi dengan kesiapan literasi digital yang memadai, sehingga generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpapar dampak negatif dunia maya.

Literasi digital secara umum dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi digital secara kritis dan bertanggung jawab. Akan tetapi, literasi digital yang hanya berorientasi pada aspek teknis dan kognitif dirasa belum cukup untuk membentengi generasi muda dari derasnya arus konten negatif. Diperlukan sebuah pendekatan literasi digital yang juga dilandasi oleh nilai-nilai moral dan spiritual, salah satunya adalah literasi digital islami.

Literasi digital islami merupakan kemampuan memanfaatkan teknologi digital yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman, seperti menjaga pandangan, menjaga lisan, bersikap tabayyun, serta memilih dan memilah konten sesuai tuntunan syariat. Dengan literasi digital islami, generasi muda tidak hanya dibekali kemampuan teknis dalam menggunakan teknologi, tetapi juga dibekali benteng keimanan dan akhlak yang kokoh, sehingga mereka mampu memilah mana konten yang bermanfaat dan mana yang harus dihindari.

 

  1. Ancaman Konten Negatif bagi Generasi Muda

Kemudahan akses internet membuat generasi muda sangat mudah terpapar berbagai konten negatif. Berdasarkan artikel di situs muslim.or.id, saat ini banyak anak-anak yang mulai terpapar konten pornografi bahkan sejak usia sangat dini, sering kali bukan karena mereka mencarinya secara sengaja, melainkan karena terpapar dari lingkungan sekitar, teman sebaya, maupun perangkat digital yang tidak terjaga dengan baik. Kondisi ini digambarkan sebagai bom waktu yang perlahan namun pasti dapat merusak generasi dari sisi keimanan dan moralitas.

Selain pornografi, ancaman lain yang tidak kalah serius adalah maraknya informasi yang tidak benar atau hoaks yang beredar luas di media sosial. Banyak pengguna internet, termasuk generasi muda, mudah percaya dan bahkan ikut menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Kecanduan bermain gim daring pun turut menjadi persoalan tersendiri, karena selain menyita waktu dan melalaikan kewajiban, sebagian konten dalam gim juga mengandung unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat, seperti tampilan aurat maupun ajakan meniru gaya hidup yang tidak sesuai tuntunan Islam.

  1. Konsep Literasi Digital Islami

Literasi digital islami dibangun di atas prinsip bahwa setiap penggunaan teknologi harus tetap berada dalam koridor syariat. Islam mengajarkan bahwa pandangan, lisan, dan hati manusia adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Prinsip menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nur, menjadi salah satu fondasi utama literasi digital islami, sebab di era digital pandangan mata sangat rentan disuguhkan dengan berbagai tayangan yang tidak pantas hanya melalui layar gawai.

Selain menjaga pandangan, literasi digital islami juga menekankan sikap tabayyun, yaitu memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya. Prinsip ini bersumber dari firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk memeriksa dengan teliti setiap berita yang datang, agar tidak menimbulkan penyesalan akibat menyebarkan informasi yang keliru. Dengan menanamkan sikap tabayyun, generasi muda dilatih untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum jelas kebenarannya.

  1. Peran Nilai-Nilai Islam dalam Membentengi Generasi Muda

Berdasarkan artikel di situs rumaysho.com, menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan merupakan perkara yang harus terus diingatkan, terlebih di zaman modern ketika hanya melalui telepon genggam atau gawai seseorang sudah dapat mengakses gambar maupun video yang tidak senonoh. Islam mengajarkan bahwa menahan pandangan dari yang haram merupakan bagian dari upaya menjaga kesucian diri, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang sahabat untuk memalingkan pandangannya ketika tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak pantas.

Rumaysho.com juga menjelaskan bahwa di antara doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah permohonan perlindungan dari keburukan pendengaran, penglihatan, lisan, dan hati. Doa semacam ini mengandung pelajaran penting bahwa menjaga diri dari konten negatif di dunia digital bukan hanya perkara usaha lahiriah semata, tetapi juga membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala melalui doa dan kesungguhan hati untuk senantiasa menjauhi kemaksiatan, termasuk kemaksiatan yang dilakukan melalui gawai atau media digital.

Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa membentengi generasi muda dari konten negatif tidak cukup hanya dengan pembatasan akses teknologi secara teknis, tetapi juga memerlukan penguatan sisi keimanan, kesadaran bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan, serta pembiasaan mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat, seperti menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir, sehingga generasi muda memiliki kesibukan positif yang menjauhkan mereka dari godaan konten negatif di dunia maya.

  1. Strategi Penguatan Literasi Digital Islami

Beberapa strategi berikut dapat dilakukan oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat guna menguatkan literasi digital islami di kalangan generasi muda:

  • Menanamkan kesadaran bahwa setiap aktivitas digital, termasuk yang dilakukan secara pribadi, akan senantiasa diawasi dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.
  • Membiasakan sikap tabayyun atau cek dan ricek terhadap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada orang lain.
  • Melatih kemampuan menahan pandangan dan memilih konten yang bermanfaat, serta menjauhi tontonan maupun bacaan yang mengandung unsur pornografi dan kemaksiatan.
  • Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang produktif dan bernilai ibadah, seperti belajar, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti kajian keislaman, sebagai alternatif dari kecanduan gawai dan media sosial.
  • Membangun komunikasi terbuka antara orang tua, guru, dan anak, agar generasi muda memiliki tempat bertanya dan bimbingan ketika menemukan konten yang meresahkan di dunia digital.
  • Memanfaatkan fitur kontrol orang tua (parental control) serta pengawasan yang wajar tanpa mengabaikan pentingnya membangun kesadaran dan tanggung jawab pribadi pada diri anak.

Penutup

Derasnya arus konten negatif di dunia digital menjadi tantangan nyata yang dihadapi generasi muda saat ini. Literasi digital islami hadir sebagai upaya untuk membentengi generasi muda, bukan hanya dengan kemampuan teknis memilah informasi, tetapi juga dengan penguatan nilai-nilai keimanan, seperti menjaga pandangan, menjaga lisan, dan bersikap tabayyun sebelum menerima maupun menyebarkan informasi. Sebagaimana dijelaskan pada situs muslim.or.id dan rumaysho.com, ancaman konten negatif seperti pornografi dan hoaks perlu disikapi dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan di dunia digital akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Dengan literasi digital islami, diharapkan generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, produktif, dan tetap terjaga akhlak serta keimanannya di tengah derasnya arus informasi digital.

Daftar Pustaka

No Comments

Tinggalkan Komentar