
Penulis : Lilis Hidayah, S.Pd.
(Kepala TK YBIS Sekip)
Alhamdulillāhilladzī bini‘matihī tatimmuṣ-ṣāliḥāt, Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, banyak orang menganggap kekuatan itu hanya milik mereka yang mampu mendominasi secara fisik atau menguasai orang lain dalam perdebatan. Namun, Islam memandang kekuatan dari sisi yang lebih dalam dan hakiki. Dalam sebuah hadis yang agung, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran mendalam tentang makna kekuatan sejati dalam Islam. Kekuatan bukan semata-mata soal otot, suara keras, atau kemampuan membalas, melainkan sejauh mana seseorang mampu mengendalikan amarahnya demi ridha Allah.
Amarah adalah bagian dari tabiat manusia. Ia bisa muncul karena rasa sakit hati, ketidakadilan, provokasi, atau dorongan nafsu. Namun, Islam tidak melarang marah sepenuhnya, melainkan mengarahkan agar marah diletakkan pada tempat yang benar dengan adab dan kendali.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ memuji orang-orang yang mampu mengendalikan amarah:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran: 134)
Ayat ini menegaskan bahwa menahan amarah bukanlah kelemahan, tapi bentuk dari taqwa dan kebaikan hati. Rasulullah ﷺ adalah sosok paling penyabar dan pengendali diri terbaik. Dalam banyak situasi yang memancing kemarahan, beliau justru menunjukkan kelembutan.
Salah satu contohnya adalah ketika seorang Arab Badui menarik selendang Rasulullah ﷺ dengan kasar hingga membekas di leher beliau, lalu meminta harta dengan cara yang tidak sopan. Apa yang dilakukan Nabi? Beliau tidak marah, bahkan tersenyum dan memberikan apa yang diminta. Teladan ini menunjukkan bahwa kekuatan bukan dalam membalas, melainkan dalam menguasai diri di saat emosi memuncak.
Islam mengajarkan beberapa langkah praktis untuk mengendalikan amarah:
“Jika salah satu dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.”
(Hadits Riwayat Ahmad)
Jika marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika duduk, berbaringlah.
(Hadits Riwayat Abu Dawud)
3.Berwudhu
“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”
(Hadits Riwayat Abu Dawud)
“A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim.”
Ini membantu memutus bisikan setan yang mengobarkan amarah.
Allah menjanjikan surga dan cinta-Nya bagi orang yang mampu menahan amarah.
Menahan amarah adalah bentuk kemenangan atas diri sendiri. Ia mencerminkan kekuatan iman yang lebih agung daripada kekuatan jasmani. Dalam Islam, pemenang sejati bukanlah mereka yang memenangkan perkelahian, tetapi mereka yang mampu meredam emosinya di tengah gejolak jiwa.
Marilah kita latih diri untuk menjadi pribadi yang kuat bukan karena tangan yang menggenggam, tapi karena hati yang mampu menahan dan memaafkan.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali Imran: 146)
Baarakallahu Fiikum.
Tinggalkan Komentar