Penulis : Fajar Selawati, M.Pd., Gr
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Motivasi memang sering datang seperti kilat: terang sesaat, lalu menghilang. Jika hanya mengandalkan dorongan itu, kita mudah terombang-ambing menunggu “waktu yang tepat”. Islam mengajarkan bahwa tindakan yang konsisten lebih berharga daripada semangat sesaat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
“sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
(QS.Ar-Ra’d 13:11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan dimuali dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita tanam.
Kebiasaan bekerja di latar belakang tanpa kita sadari. Ketika tindakan sudah otomatis, energi mental yang biasanya dipakai untuk memutuskan berkurang, seingga kitab isa focus pada hasil. Rasulullah ﷺ mencotohkan hal ini dengan kebiasaan shalat tepat waktu, berdzikir, dan bersedekah setiap hari. Beliau tidak menggangu “mood” khusus; beliau menjadikan ibadah sebagai rutinitas.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ» (رواهالبخاري ومسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sungguh rugi yang besar bagi siapapun yang memiliki akhlak yang buruk dan tidak mau berubah darinya. Apalagi jika perangai buruknya tersebut bersangkutan dengan hak-hak dan kehormatan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam mengingatkan kita bahwa amal ibadah individual bisa saja menjadi tidak bernilai apa-apa di sisi Allah Ta’ala karena kezaliman dan perangai buruk yang kita miliki. Di dalam hadits sahih , beliau menyampaikan.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR. Bukhari no. 1903).
Kita mesti ingat, semua masalah menuntut kesabaran dan kebesaran jiwa, yakinlah, bahwa perkara-perkara yang menyulitkan kita hanya takluk dengan kesabaran. Demikian juga dengan ketenangan, ia sangat berperan membantu seseorang saat melewati kesulitan yang menghadangnya. Kesabaran ini tiada batas. Ia dibutuhkan sampai ajal tiba.
Seberat apapun masalah yang sedang menimpa, seorang hamba tidak sepantasnya berputus asa harapan dari rahmat Allah. Semua permasalahan yang menghimpitnya harus dikembalikan kepada Allah. Kita wajib bersimpuh memanjat do’a, berupaya sekuat-kuatnya dan bersabar. Dengan harapan, Allah akan melenyapkan kesusahan ataupun cobaan yang sedang menimpa.
Orang yang berilmu itu lebih dahsyat dirasakan beratnya daripada ahli ibadah yang tak pernah berilmu. Tipu daya setan lemah dihadapan orang yang berilmu. Muaz bin Jabal Radhiyallahu’anhu mengatakan, “ia (ilmu) adalah teman dalam keadaan Bahagia dan kesusahan, serta senjata di hadapan musuh.
Demikian beberapa Langkah, agar kita mampu memupus putus asa. Kuatkan tekad, yaitu, tekat dengan selalu memiliki sifat optimis dan tak putus harapan, bercermin kepada orang-orang yang sukses melewati rintangan. Jauhkan hati dari sifat kerdil, karena ia hanya akan menambah kelemahan.
Motivasi dating dan pergi, tetapi kebiasaan yang dibarengi niat ikhlas akan terus mengalir. Dengan meniru jejak Nabi dan menanamkan amal-amal kecil setiap hari, kita tidak hanya menunggu semangat, kita menciptakan perubahan yang di ridhai Allah. Jadi, jangan tunda lagi. Mulailah kebiasaan baik sekarang, dan biarkan Allah yang menyempurnakan.
Referensi:
Tinggalkan Komentar