Oleh : Dian Safitri
(Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.
Pernahkah kita merasa lelah setelah berbuat baik? Atau mungkin merasa kecewa saat kebaikan yang kita lakukan tidak mendapat apresiasi yang sebanding? Jika perasaan itu muncul, mungkin ini saatnya kita duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan ini?”
Dalam sebuah hadits yang sangat indah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita bahwa:
”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.
Ikhlas ialah menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat.
Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, mengejar popularitas dan kedudukan, melakukan kebaikan hanya karena merasa sungkan atau gengsi, beribadah agar dilihat sebagai orang yang paling berilmu atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan. Ketika hati kita sudah mulai bergantung pada hal-hal duniawi seperti itu, maka kemurnian amal kita perlahan akan luntur. Ikhlas itu sederhana dalam ucapan, namun butuh perjuangan luar biasa dalam praktik.
Ikhlas yang sesungguhnya adalah ketika kita melangkah hanya demi mencari keridhaan Allah dan bekal di akhirat nanti. Tidak ada “udang di balik batu”. Tidak ada keinginan untuk dipuji sebagai orang hebat, tidak ada pamrih ingin dibalas dengan materi, dan tidak ada rasa ingin pamer agar dianggap shalih atau dermawan.
Memurnikan niat adalah tugas seumur hidup. Orang yang jiwanya sudah “terjajah” oleh urusan dunia, haus akan kedudukan, atau gila hormat, biasanya akan sulit menemukan ketenangan dalam ibadah. Sebab, fokusnya bukan lagi pada Allah, melainkan pada reaksi manusia yang sifatnya berubah-ubah.
Mari kita belajar untuk kembali ke titik nol. Melakukan kebaikan, lalu melupakannya. Biarlah Allah yang menjadi satu-satunya saksi dan pemberi balasan. Karena pada akhirnya, hanya amal yang lahir dari hati yang bersihlah yang akan sampai kepada-Nya. Ketahuilah bahwa kita sebaiknya jangan pernah menghitung berapa banyak kebaikan yang telah diberikan, tetapi hitunglah berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan. Dengan cara itulah, sifat sombong akan luruh dan berganti dengan rasa rendah hati (tawadhu), sehingga kita tidak lagi sibuk mencari sanjungan manusia, melainkan sibuk mengharap ampunan dari Allah Azza wa Jalla.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap lurus, tulus, dan ikhlas dalam setiap langkah kecil yang kita ambil. Barakallahu fiikum.
Referensi :
Tinggalkan Komentar