Info
Thursday, 06 Aug 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

BAGAIMANA MENJADIKAN ANAK HAFIDZ AL-QURAN?

Thursday, 6 August 2026 Oleh : admin

Oleh : Haris Kurniawan, M.Pd
(Kepala Divisi Pendidikan Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Pertumbuhan jumlah Sekolah Islam Terpadu yang sangat masif terhitung mulai dari periode 2010 hingga saat ini. Sebagaimana yang di lansir oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Tahun 2013 terdapat 1.926 Sekolah Islam Terpadu, 2026 naik menjadi 2.890 Sekolah.

Pertumbuhan ini tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Beberapa riset menyebutkan bahwasannya faktor motivasi terbanyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah islam adalah program tahfidznya atau pembelajaran al-quran didalamnya.(Apriliani et al., 2025; Firmansyah & Kholis, 2024; Saputra, 2015)

Berangkat dari motivasi besar orang tua yang sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang senantiasa membersamaai al-quran, hafidz qur’an, bersahabat dengan al-qur’an. Maka ada beberapa poin yang dapat kita bahas terkait ini. Hal ini menjadi sangat penting karena banyak sekali orang tua yang menaruh harapan besar hanya pada sekolah saja (sekolah islam) agar apa yang ia cita – citakan dapat terpenuhi tanpa melihat faktor -faktor lain yang juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan yang mereka harapkan,

Lantas bagaimana caranya agar harapan orang tua tersebut dapat terealisasi? Bagaimana menjadikan anaknya hafidz Al-qur’an?

Pada bahasan kali ini kami akan memberikan 4 tips utama yang mesti dilakukan para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi hafidz al-qur’an sebagaimana para salafus solih dulu melakukannya terhadap anak mereka. Yakni sebagai berikut :

  1. Jadilah Teladan Pertama Bagi Anak – anak

Poin ini adalah poin terpenting yang banyak orang tua lalai padanya. Mereka beranggapan ketika telah memasukkan kepada sekolah islam terbaik yang prigram tahfidznya bagus lantas si anak akan otomatis baik tahfidznya. Ternyata yang berpandangan seperti ini banyak sekali yang kecewa. Oleh karena itu sangat penting sekali menjadi teladan bagi anak – anak dirumah. Jika menginginkan anak lebih mencintai al-quran dari pada gadgetnya maka ciptakanlah lingkungan untuk itu, berikanlah contoh bagi anak.

Patut diketahui bahwasannya Anak-anak Salaf mencintai Al-Qur’an bukan sekadar karena diperintah, melainkan karena mereka melihat orang tua mereka hidup bersama Al-Qur’an setiap hari. Sebagaimana wasiat utbah bin abi sufyan kepada pengajar anaknya :

لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِبَنِيَّ إِصْلَاحُكَ لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُونَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

“Hendaklah langkah pertama yang engkau lakukan dalam merbaiki anak-anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri. Sebab, mata mereka senantiasa tertuju pada matamu. Hal yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau kerjakan, dan hal yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan.”

Karena perbandingan waktu anak – anak disekolah dengan di rumah lebih banyak di rumah maka mata mereka akan lebih banyak tertuju kepada orang tuannya sebagai contoh. Maka untuk konteks tahfidz qur’an, akan ada pertanyaan besar, bagaimana jika ternyara yang menginginkan anaknya menjadi hafidz qur’an adalah orang tua yang bahkan tidak mampu membaca al-qur’an?? {pada Batasan ini maka wajib hukumnya bagi orang tua tersebut terlebih dahulu belajar untuk dirinya. Sebagaimana firman allah QS At-tahrim : 6}

  1. Memilihkan Pengajar dan Lingkungan yang tepat (Sekolah yang tepat)

Bahkan untuk cita – cita besar diatas seorang ayah atau orang tua tidak boleh sembarangan memilihkan sekolah, yang penting sekolah islam. Kenapa demikian karena al-quran adalah panduan seorang muslim, baik membaca memahami ataupun mentadabburinya tidak boleh sembarangan. Menginginkan seorang anak menjadi hafidz qur’an maka tidak hanya hafal tapi yang dihafalnya mestilah benar dan fasih. Benar dalam lafadz (sifat dan makhraj huruf). Maka memilih siapa yang akan mengajarkan dan lingkungan belajar amatlah penting.

Sebagaimana perkataan ibnu sirin seorang tabiin dan ahli hadits :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu (Al-Qur’an dan Sunnah) ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

  1. Menanamkan Akidah dan Iman Sebelum Mulai Menghafal

Mulailah menanamkan Aqidah dan iman kepada anak sebelum mengajarkan al-quran pada anak. Yakni dengan mengenalkan tauhid, keagungan Allah, dan kisah-kisah hikmah agar hati anak terikat sebelum lisannya menghafal.

Sebagaimana perkataan seorang tabi’in :

وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ نَجِيحٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ جُنْدَبٍ، قَالَ: كُنَّا غِلْمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا

Dan dari Hammad bin Najih, dari Abu ‘Imran al-Jauni, dari Jundub (bin Abdullah), ia berkata:

“Dahulu kami adalah anak-anak muda yang bugar (mendekati balig)  bersama Rasulullah . Kami mempelajari iman sebelum kami mempelajari al-Qur’an. Kemudian (setelah itu) kami mempelajari al-Qur’an, sehingga bertambahlah iman kami dengannya (al-Qur’an tersebut).”

  1. Bertahap dan Tidak Memaksakan Anak

Para Salaf dahulu memiliki prinsip dalam pengajaran Al-Qur’an pada anak adalah berangsur-angsur dengan maksud supaya tidak menimbulkan kejenuhan atau beban mental.

Dari Abu Al-‘Aliyah (Rufai’ bin Mihran), ia berkata:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ خَمْسَ آيَاتٍ خَمْسَ آيَاتٍ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَنْزِلُ بِالْقُرْآنِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا خَمْسًا

“Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam dahulu turun membawa Al-Qur’an kepada Nabi SAW lima (ayat) lima (ayat).”

Kesimpulan dari ke-empat poin diatas adalah hendaknya bagi orang tua untuk terlebih dahulu membekali dirinya dengan ilmu. Bagi calon – calon ayah hendaknya persiapkan diri, visi misi dalam berumah tangga dengan menuntut ilmu. Bagi yang telah terlanjur maka belum telat pelajarilah agama ini secara berurut dari yang dasar. Belajar membaca al-quran dengan baik sesuai kaidah tajwid, ilmuilah Aqidah dan tauhid yang lurus. Agar kita dapat menciptakan generasi – generasi islam yang terbaik. Agar cita – cita memiliki anak hafidz qur’an, soleh – solehah dapat terwujud.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Daftar Pustaka

  • Al-Baghdadi, A.-K. (1983). Al-Jami’ li akhlaq ar-rawi wa adab as-sami’ (M. A. Al-Tahhan, Ed.; Vol. 1–2). Maktabah Al-Ma’arif.
  • Al-Naysaburi, M. I. H. (1955). Muqaddimah Shahih Muslim (Dalam Shahih Muslim, Vol. 1, hlm. 9–28; M. F. ‘Abd al-Baqi, Ed.). Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
  • Apriliani, W., Kholik, A., & Laeli, S. (2025). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Minat Orang Tua Dalam Memilih Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) (Vol. 4).
  • Firmansyah, M., & Kholis, N. (2024). Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Program Unggulan Tahfidz Al-Qur’an: Inovasi Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta Untuk Mencetak Siswa Hafidz-Hafidzah. https://doi.org/10.30868/im.v7i01.6072
  • Ibnu Abdi Rabbih, A. U. (1983). Al-‘Aqd al-farid (A. Amin, A. Al-Zayn, & I. Al-Abyari, Ed.; Vol. 1–8). Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  • Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia. (n.d.). Keanggotaan JSIT Indonesia. Diakses pada 25 Juli 2026, dari https://anggota.jsit.id/
  • Saputra, A. (2015). MOTIVASI ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAK KE SEKOLAH ISLAM TERPADU (Studi Pada SDIT-Al-Madinah Kota Pekanbaru) Oleh. In JOM FISIP (Vol. 2, Number 2).

No Comments

Tinggalkan Komentar