Info
Wednesday, 02 Sep 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

PINTAR ATAU BERADAB?

Tuesday, 1 September 2026 Oleh : admin

Oleh : Lilis Hidayah, S.Pd., Gr
(Kepala TK Yaa Bunayya Islamic School Sekip)

Bismillahirrahmanirrahim

AlhamdulillāhiRabbil ‘Ālamīn. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk terus belajar menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka bukan sekadar seseorang yang ingin kita jadikan pintar dalam membaca, berhitung, atau meraih prestasi. Lebih dari itu, mereka adalah generasi yang perlu kita bimbing agar mengenal Rabb-nya, mencintai kebaikan, memiliki akhlak yang mulia, dan mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan tuntunan agama.

Di tengah perhatian kita terhadap perkembangan akademik anak, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:

“Apakah kita lebih sibuk menjadikan anak pintar, atau sudah sungguh-sungguh mendidik mereka agar beradab?”

“Yang penting anak saya pintar.”

Kalimat ini tentu sering kita dengar. Banyak orang tua berharap anaknya mampu membaca lebih cepat, berhitung dengan baik, memiliki banyak prestasi, dan unggul dalam bidang akademik. Tidak ada yang salah dengan harapan tersebut. Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah menjadi pintar saja sudah cukup?

Bayangkan seorang anak yang mampu membaca dengan lancar, berhitung dengan cepat, bahkan memenangkan berbagai perlombaan, tetapi masih sulit mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Ia pandai menjawab soal, tetapi tidak mau menghargai orang lain. Ia memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum mampu menggunakan pengetahuannya dengan baik.

Di sinilah kita belajar bahwa kecerdasan tanpa adab belum menjadi bekal yang lengkap untuk kehidupan.

Adab adalah bagaimana seorang anak bersikap kepada Allah, orang tua, guru, teman, dan lingkungan di sekitarnya. Adab tidak selalu terlihat dalam nilai rapor, tetapi sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Mengucapkan salam ketika datang, mendengarkan ketika orang lain berbicara, antre dengan tertib, meminta izin, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta mau berbagi adalah contoh sederhana yang memiliki makna besar.

Pendidikan anak usia dini seharusnya tidak hanya berfokus pada seberapa banyak anak dapat mengetahui sesuatu, tetapi juga bagaimana anak belajar menjadi manusia yang baik.

Anak mungkin belum mampu membaca banyak kata, tetapi ia bisa belajar membaca situasi dan memahami perasaan temannya. Anak mungkin belum menguasai banyak angka, tetapi ia bisa belajar menghitung kebaikan dengan berbagi. Anak mungkin belum mampu menulis kalimat panjang, tetapi ia dapat belajar menuliskan kesopanan melalui perilakunya.

Karena itu, pintar dan beradab bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya harus tumbuh bersama.

Guru memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan tersebut di sekolah. Namun, pendidikan adab tidak berhenti di lingkungan sekolah. Anak belajar terutama melalui contoh yang mereka lihat setiap hari. Cara orang tua berbicara, meminta maaf, menghargai orang lain, dan memperlakukan anak akan menjadi pembelajaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat.

Jangan hanya bertanya kepada anak, “Hari ini dapat nilai berapa?”

Sesekali, tanyakan juga, “Hari ini sudah berbuat baik kepada siapa?”

Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya ingin membesarkan anak yang mampu menjawab banyak pertanyaan, tetapi juga anak yang tahu bagaimana bersikap ketika tidak ada yang melihat.

Kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas pikirannya, lembut hatinya, baik perkataannya, dan indah perilakunya.

Maka, mari kita kembali melihat tujuan pendidikan anak. Bukan hanya agar mereka cerdas pikirannya, tetapi juga baik lisannya, lembut hatinya, dan benar adabnya.

No Comments

Tinggalkan Komentar