Oleh : Dian Safitri
(Guru SMP Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban yang sangat mulia. Namun, Islam tidak hanya menekankan pada seberapa banyak hafalan, tingginya gelar, atau seberapa luas wawasan yang dimiliki seseorang. Lebih dari itu, Islam menetapkan pondasi dasar yang wajib dibangun terlebih dahulu sebelum seseorang menyerap dan mendalami ilmu, yaitu adab dan akhlak. Prinsip “utamakan adab sebelum ilmu” adalah cara yang selalu dipakai para ulama terdahulu dalam mendidik murid-muridnya.
Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Ibnul Mubarok berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penataan akhlak dan adab. Bahkan, salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk menyempurnakan adab manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al-Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 273 dan Al-Hakim 2/613, dishahihkan oleh Al-Albani)
Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan tentang orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya dan tidak memiliki adab yang lurus. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan ilmu tanpa disertai adab dan pengamalan hanya akan membawa murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan agar menuntut ilmu diniatkan dengan adab yang benar, bukan untuk kesombongan:
لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
“Janganlah kalian belajar ilmu agama untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk menguasai majelis. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka nerakalah tempatnya, nerakalah tempatnya.”
(HR. Ibnu Majah no. 254, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Para ulama dahulu sangat mendahulukan pelajaran adab sebelum pelajaran kitab dan hadits. Imam Malik rahimahullah pernah menceritakan nasihat ibunya ketika beliau masih kecil dan hendak pergi menuntut ilmu:
“Ibuku memakaikan peci dan sorban padaku, lalu berkata: ‘Pergilah kepada Rabi’ah (seorang ulama besar di Madinah)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya.'”
Imam Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah juga pernah menegaskan betapa pentingnya kedudukan adab:
“Kami lebih membutuhkan adab yang sedikit daripada ilmu yang banyak.”
Hal ini menunjukkan bahwa adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isinya. Jika wadahnya rusak, pecah, atau kotor, maka ilmu yang dimasukkan ke dalamnya akan tumpah atau bahkan terkontaminasi oleh kotoran kesombongan dan ujub.
1. Adab Menjadikan Ilmu Bermanfaat dan Berkah
Orang yang berilmu tinggi namun tidak memiliki adab rentan jatuh ke dalam sifat takabur dan suka meremehkan orang lain. Sebaliknya, penuntut ilmu yang beradab akan semakin tunduk, tawadhu’ dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seiring bertambahnya ilmu.
2. Kunci Terbukanya Pemahaman
Adab kepada guru dan majelis ilmu adalah pintu utama datangnya pemahaman. Ketika seorang murid menghormati gurunya, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tidak memotong pembicaraan, Allah akan memudahkan dadanya untuk menyerap hikmah.
3. Cermin Utama Keimanan
Keberhasilan pendidikan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak kitab yang ia tamatkan, melainkan dari bagaimana ia bersikap kepada orang tua, guru, keluarga, dan masyarakat luas.
Di era digital saat ini, ilmu sangat mudah diakses. Namun, kemudahan akses tersebut sering kali tidak diimbangi dengan proses penanaman adab yang memadai. Akibatnya, timbul fenomena penuntut ilmu yang berani mencela guru, berdebat tanpa etika di media sosial, dan kehilangan rasa hormat.
Oleh karena itu, mari kita perbaiki kembali niat dan langkah dalam menuntut ilmu. Jadikanlah penataan hati dan perbaikan adab sebagai prioritas utama. Dengan adab yang baik, ilmu yang sedikit akan terasa berkah dan bermanfaat, serta mampu membimbing kita menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber:
Tinggalkan Komentar