Oleh : Andika Apriansyah, M.Pd., Gr
Bismillahirrahmanirrahim
Muqaddimah
Anak adalah amanah Allah yang paling berharga. Di pundak orang tualah terletak tanggung jawab besar untuk membentuk fitrah mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ali radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini: “Beritahukanlah adab dan ajarilah keluargamu.” Maka mendidik anak mencintai Al-Qur’an bukanlah pilihan tetapi ia adalah kewajiban.
Mengapa Al-Qur’an Harus Jadi Pondasi?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah kalam Allah, petunjuk hidup, dan sumber kemuliaan. Anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an akan memiliki fondasi akhlak, aqidah, dan arah hidup yang kokoh.
Dimulai dari Fitrah
Setiap anak lahir dalam keadaan bersih dan di atas fitrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ini adalah peringatan sekaligus kabar gembira. Orang tualah penentu arah tumbuh kembang sang anak. Jika sejak dini mereka diperkenalkan dengan Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itulah yang akan mewarnai hidupnya.
Para ulama menyebutkan bahwa hafalan anak kecil bagaikan mengukir di atas batu yang kuat, melekat, dan abadi. Sebaliknya, hafalan orang dewasa bagaikan menulis di atas air.
Cara Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an
Perdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an sejak bayi. Bacakan surat-surat pendek saat menyusui, menidurkan, dan bermain. Telinga yang terbiasa mendengar Al-Qur’an akan tumbuh dengan hati yang rindu kepadanya.
Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar. Jika orang tua rajin membaca Al-Qur’an setiap hari, anak akan menganggap itu hal yang wajar dan mulia bukan beban.
“Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar agar mereka mengenal dan mencintai Allah… serta agar mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.”
Jangan paksa anak menghafal terlalu banyak sekaligus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah mencintai kelembutan dalam segala hal.” (HR. Bukhari & Muslim)
Satu atau dua ayat per hari yang konsisten jauh lebih baik daripada banyak tapi membekas rasa trauma.
Rumah yang diwarnai tilawah Al-Qur’an adalah rumah yang penuh berkah. Hadits menyebutkan bahwa rumah yang selalu dibacakan Al-Qur’an akan terasa lapang, dihadiri para malaikat, dan dijauhkan dari setan.
Tiadakan hal-hal yang melalaikan dari Al-Qur’an, dan gantikan dengan murottal, kisah-kisah Islami, serta suasana yang menumbuhkan rasa cinta.
Kabarkan kepada anak tentang keutamaan penghafal Al-Qur’an. Dari Mu’adz al-Juhani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari.”
Ketika anak memahami bahwa hafalannya adalah hadiah untuk orang tuanya di akhirat, motivasi itu akan tumbuh dari dalam hati bukan dari tekanan luar.
Jangan pernah remehkan kekuatan doa. Orang tua yang shalih doanya dikabulkan. Minta kepada Allah agar menjadikan anak kita sebagai ahlul Qur’an — yang membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya.
Penutup
Mendidik anak mencintai Al-Qur’an bukan hanya tentang berapa juz yang mereka hafal. Lebih dari itu, ia tentang menanam rasa cinta yang tulus kepada kalam Allah sehingga Al-Qur’an menjadi sahabat hidup mereka, bukan sekadar bacaan di bulan Ramadhan.
Mulailah hari ini. Karena setiap huruf yang engkau ajarkan kepada anakmu, adalah ladang pahala yang tidak akan terputus.
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Referensi:
Tinggalkan Komentar