Info
Monday, 04 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

BENARKAH SEMUA ORANG BISA MENJADI GURU?: SEBUAH KEKELIRUAN YANG DIAM-DIAM MERUSAK PENDIDIKAN

Monday, 4 May 2026 Oleh : admin

Oleh : Wahyu Asikin, M.Pd.Gr.
Kepala SD Yaa Bunayya Islamic School Palembang

Bismillahirrahmanirrahim

Jagat media sosial pernah ramai oleh sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, namun menyisakan luka bagi profesi guru: seorang dokter, pilot, atau pengacara bisa menjadi guru, tetapi guru tidak bisa menjadi dokter atau pilot. Pernyataan ini bahkan kerap dijadikan argumen dalam diskusi akademik. Secara administratif, pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru. Namun jika ditinjau dari sudut pandang pedagogi dan sosiologi profesi, terdapat kekeliruan logika yang serius.

Pernyataan tersebut menyederhanakan makna menjadi guru seolah hanya soal menyampaikan materi. Padahal, mendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan proses kompleks yang melibatkan pembentukan karakter, pengelolaan emosi, serta pendampingan perkembangan peserta didik.

Perdebatan ini semakin menguat sejak hadirnya kebijakan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang membuka akses bagi lulusan non-kependidikan untuk menjadi guru. Di satu sisi, kebijakan ini patut diapresiasi sebagai upaya negara menghadirkan talenta terbaik dari berbagai disiplin ilmu ke dunia pendidikan. Kehadiran praktisi atau lulusan ilmu murni di kelas memang dapat memperkaya wawasan siswa, terutama dalam konteks dunia kerja yang terus berubah.

Namun di sisi lain, kebijakan ini memunculkan kegelisahan yang wajar. Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menempuh pendidikan bertahun-tahun untuk mempelajari pedagogik, psikologi perkembangan, serta etika profesi. Ketika kompetensi tersebut dianggap dapat “dikejar” dalam waktu singkat melalui sertifikasi, muncul kesan bahwa proses akademik guru direduksi nilainya. Kritik ini bukan ditujukan kepada individu lulusan PPG non-kependidikan, melainkan pada sistem yang belum sepenuhnya melindungi linieritas dan kekhususan profesi guru.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah dampak ekonomi dan martabat profesi. Ketika sebuah profesi dianggap bisa dimasuki oleh siapa saja dan jumlah tenaga kerjanya berlimpah, maka nilai tawar dan prestise profesi tersebut cenderung menurun. Guru pun berisiko dipandang sebagai tenaga kerja yang mudah diganti, bukan sebagai profesi ahli yang membutuhkan keahlian khusus. Akibatnya, kesejahteraan guru sulit meningkat dan posisi tawarnya tetap lemah.

Narasi bahwa profesi lain bisa dengan mudah menjadi guru juga mengabaikan realitas di lapangan. Mengajar bukan hanya soal menguasai materi, tetapi tentang kemampuan mengelola kelas, memahami karakter siswa, menyusun kurikulum, melakukan evaluasi berkelanjutan, serta merespons masalah belajar dan psikologis anak. Tanpa kemampuan pedagogik, kegiatan mengajar hanya berubah menjadi aktivitas berbicara di depan kelas.

Di balik narasi keterbukaan dan inklusivitas, terdapat ironi besar. Ketika profesi guru terlalu mudah dimasuki, nilai intelektual dan sosialnya justru melemah. Guru berisiko dipandang sebagai “pilihan kedua”, bukan profesi utama yang dipilih karena panggilan dan dedikasi.

Pada akhirnya, perdebatan tentang siapa yang bisa menjadi guru seharusnya tidak berhenti pada soal latar belakang ijazah, tetapi pada kesadaran bahwa mendidik adalah tanggung jawab besar yang tidak bisa dijalani setengah hati. Guru bukan sekadar profesi, melainkan peran peradaban yang menentukan arah masa depan bangsa. Ketika guru dihormati, dipersiapkan dengan serius, dan diberi ruang untuk bertumbuh, di sanalah kualitas pendidikan akan menemukan bentuk terbaiknya. Karena sejatinya, great education starts with respected teachersnot everyone who can teach is a teacher, but every true teacher shapes the future.

Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

Sumber:

No Comments

Tinggalkan Komentar