oleh : Anita.,S.E
Staff Adminitrasi TK Yaa Bunayya Palembang
Pernahkah Anda menemukan orang-orang yang selalu merasa ragu mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal kecil, karena khawatir akan reaksi orang lain? Banyak orang mengira itu hanya tanda kehati-hatian. Tapi jika dicermati lebih dalam, sering kali keraguan seperti itu berasal dari masa kecil — terutama jika tumbuh dalam keluarga yang penuh kendali dan aturan. Pola asuh seperti ini bisa meninggalkan jejak yang mempengaruhi hubungan dan cara seseorang menjalani hidup di masa dewasa. Beberapa dampak yang akan timbul pada anak apabila orangtua penuh kendali dan aturan kepada anak yaitu :
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh aturan ketat—mulai dari cara berpakaian, berbicara, hingga apa yang boleh dibaca—bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa persetujuan orang tua adalah segalanya. Saat dewasa, hal ini bisa berubah menjadi kebutuhan konstan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan, baik dari atasan, pasangan, maupun teman. Lama-kelamaan, ini bisa melelahkan secara emosional.
Psikolog Adam Grant mengatakan, harga diri yang sehat tumbuh dari kepercayaan pada penilaian diri sendiri, bukan dari seberapa banyak orang lain menyetujui pilihan kita. Jika terlalu sering mencari validasi, bisa jadi rasa percaya diri justru semakin kabur — dan seseorang mulai mempertanyakan nilainya sendiri dalam hubungan.
Anak-anak yang dibiasakan harus menunggu restu sebelum mengambil keputusan, bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang cemas saat harus menentukan sesuatu sendiri. Hal-hal kecil seperti memilih tempat makan atau merencanakan liburan bisa terasa seperti beban besar. Takut salah dan terlalu banyak berpikir sering kali jadi penghalang utama. Dalam banyak kasus, ini bukan soal kurang informasi, tapi lebih ke kebiasaan menunda karena merasa keputusan sendiri tidak cukup “berharga” tanpa persetujuan orang lain.
Jika sejak kecil tidak diberi ruang untuk tidak setuju atau mengutarakan pendapat, seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang selalu ingin menjaga kedamaian—walaupun harus mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Akibatnya, konflik di tempat kerja, dalam hubungan, atau bahkan dalam pertemanan sering dihindari dengan cara diam, menahan perasaan, atau mengalah terus-menerus. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang merasa tidak pernah benar-benar didengar atau dimengerti.
Banyak orang tua yang terlalu mengontrol sering menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mempertahankan pengaruh. Kalimat seperti “Setelah semua yang sudah dilakukan, kamu malah seperti ini?” bisa menancap dalam dan membuat seseorang merasa bersalah karena ingin hidup sesuai pilihan sendiri.
Anak-anak secara alami punya naluri untuk tahu apa yang terasa benar atau salah. Tapi jika intuisi itu terus-menerus dikalahkan oleh aturan yang kaku, seseorang bisa tumbuh jadi pribadi yang bergantung pada penilaian orang lain — bahkan untuk hal-hal yang seharusnya bisa dipercaya dari dalam diri sendiri. Akibatnya, sering kali sinyal bahaya diabaikan, dan seseorang terjebak terlalu lama dalam situasi yang sebenarnya tidak sehat.
Seperti saat Memilih tempat tinggal, menentukan arah karier, atau bahkan memutuskan soal hewan peliharaan bisa terasa sangat berat jika sejak kecil diajari bahwa keputusan besar harus selalu melalui “izin” orang lain. Rasa cemas bukan hanya datang dari keraguan, tapi juga dari rasa bersalah yang muncul saat merasa “berani” mengambil alih kendali hidup sendiri. Faktanya, kecemasan semacam ini sering kali adalah sisa-sisa tekanan masa kecil yang belum selesai.
Lalu bagaimana solusinya jika terlihat beberapa tanda pada anak dari dampak tersebut ? Tenang itu bukan akhir dari segalanya. Menyadari pola ini justru jadi langkah pertama untuk berubah. Mulai lah untuk menjadi orangtua yang lebih dewasa, berpikir positif bahwa anak mampu melakukan setiap kegiatannya sendiri tanpa kendali dan aturan yang berlebihan, sehingga anak akan merasa berhak memiliki ruang untuk tumbuh sendiri, membangun hubungan yang sehat, lebih percaya diri dan menjalani hidup dengan lebih otentik.
Tinggalkan Komentar