Info
Sunday, 16 Jun 2024
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2023 / 2024 untuk TK dan SD Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

Anak TK “hanya” Bermain ?

Wednesday, 9 August 2023 Oleh : admin

Penulis : Lilis Hidayah, S.Pd.
(Kepala TK YBIS SEKIP)

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Selama ini kita mendengar istilah belajar melalui bermain, bermain seraya belajar. Istilah tersebut hanya berlaku bagi orang tua yang paham dengan konsep belajar pada anak usia dini. Siapakah anak usia dini? Anak usia dini merupakan individu unik ciptaan Allah Subhanahuata’ala dengan keistimewaan yang dimiliki sejak ia dilahirkan. Di Indonesia, kategori anak usia dini berada diantara usia 0-6 tahun. Di usia tersebut merupakan usia emas bagi setiap individu selama masa kehidupannya. Usia emas adalah usia paling baik bagi anak untuk diberikan stimulasi-stimulasi agar setiap aspek perkembangan nya baik itu aspek perkembangan moral agama, motorik kasar dan motorik halus, bahasa, kognitif, dan sosial emosional.

Jika anak-anak sekolah dasar dan menengah sudah memahami suatu konsep secara abstrak, maka pada anak usia dini mereka perlu memahami konsep dengan sesuatu yang konkret. Selain itu, anak usia dini perlu lingkungan belajar yang menyenangkan dengan berbagai aktivitas seru yang membuatnya nyaman sehingga senang ketika di sekolah. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran anak usia dini yaitu;

  1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran di tk harus berlandaskan kebutuhan anak. Apa kebutuhan primer anak? Ya! Bermain. Melalui kegiatan bermain guru atau pendidik dapat menstimulasi setiap aspek perkembangan anak  dengan cara yang menyenangkan.

  1. Pembelajaran Anak Sesuai dengan Perkembangan Anak

Pembelajaran pada anak usia dini harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan usia anak. Tahapan pembelajaran ini dapat disesuaikan dengan perkembangan secara emosional dan pertumbuhan secarasecara fisik.

  1. Mengembangkan Kecerdasan Majemuk Anak

Ya, kegiatan bermain anak harus dapat menstimulasi setiap aspek kecerdasan majemuk yang anak miliki. Baik kecerdasan linguistik, matematis, visual spasial, interpersonal, intrapersonal, kinestetik,naturalis, dan eksistensi. Setiap anak itu spesial dengan kelebihan yang diabawa sebagai fitrah mereka.

  1. Anak sebagai pusat belajar

Kegiatan pembelajaran harus berpusat pada anak. Setiap tahapan pembelajaran anak melakukan nya secara mandiri dengan contoh yang diberikan pendidik sebelum nya. Artinya, guru atau pendidik hanya bertugas sebagai fasilitator untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak.

  1. Interaksi Sosial Anak

Kegiatan pembelajaran harus dapat merangsang interaksi sosial anak dengan teman bermain. Melalui kegiatan pembelajaran bersama yang dilakukan dengan teman-temannya akan dapat menstimulasi aspek sosial emosional, pengendalian diri, serta jiwa eksistensi anak.

  1. Lingkungan yang Kondusif

Lingkungan belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung proses belajar mengajar pada siswa lingkungan belajar di sekolah maupun di luar sekolah dalam suasana berlangsungnya proses belajar mengajar.

  1. Merangsang Kreativitas dan Inovasi

Bermain dalam bentuk apapun baik aktif maupun pasif baik dengan alat maupun tanpa alat dapat menunjang kreativitas anak. Dengan bermain anak dapat menilai dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positif yaitu mempunyai rasa percaya diri. Sehingga kreativitas dan inovasi anak akan muncul.

  1.   Mengembangkan Kecakapan Hidup

Kegiatan pembelajaran anak usia dini harus dapat mengembangkan life skills anak. Dengan life skills anak akan memiliki kecakapan hidup memecahkan permasalahan sederhana dalam hidupnya.

Setelah membaca uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya, kebutuhan pokok pada anak usia dini atau anak tk yaitu bermain. Namun, melalui kegiatan bermain tersebut pendidik baik guru maupun orang tua di rumah dapat memberikan stimulasi yang tepat sesuai aspek perkembangan anak. Ketika anak-anak diajak bermain mereka tidak akan mengira sedang mempelajari sesuatu dari sana. Padahal, dari kegiatan bermain tersebut banyak sekali aspek perkembangan anak yang dapat distimulasi. Misalnya; kegiatan anak-anak diajak bermain sains membuat gelembung, mereka akan belajar bagaimana tahapan-tahapan membuat gelembung dengan bahan yang ada di rumah, motorik halus  akan terstimulasi saat anak-anak meniup botol dan mengeluarkan gelembung, kemampuan sosial emosional mereka akan terstimulasi saat mereka bersabar menunggu kegiatan sains yang dilakukan berhasil. Melalui kegiatan kolase, menggunting dan mencocok anak dapat melatih koordinasi mata dan tangannya. Semoga apa yang menjadi usaha kita untuk mendidik anak-anak nantinya akan membuahkan hasil yang baik dan maksimal bagi perkembangan nya.

No Comments

Tinggalkan Komentar