Oleh : Dessy Mudhiah Sartika, S.Tr.Ak., M.Acc.
Kepala Divisi Keuangan Yaa Bunayya Islamic School
Bismillahirrahmanirrahim
Uang bukan sekadar alat tukar. Secara psikologis, uang berkaitan dengan rasa aman, harga diri, kekuasaan, bahkan cinta dan identitas diri. Cara seseorang mencari, membelanjakan, menabung, atau menginvestasikan uang sering kali lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dan kognitif daripada logika ekonomi semata. Kita sering mengatakan, “Ini cuma soal uang.” Padahal jarang sekali benar-benar cuma soal uang. Uang hanyalah bentuk luarnya. Di dalamnya, ada cerita.

Psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky menemukan bahwa rasa sakit karena kehilangan jauh lebih kuat dibandingkan rasa senang karena mendapatkan hal yang sama nilainya.
Contoh sederhana:
Inilah yang disebut loss aversion.
Akibatnya:
Otak kita dirancang untuk menghindari ancaman, termasuk ancaman finansial.
Richard Thaler menjelaskan konsep mental accounting. Secara logika, Rp100.000 tetaplah Rp100.000. Tapi dalam pikiran kita:
Padahal nilainya sama.
Inilah sebabnya orang bisa:
Kita tidak mengelola uang secara objektif, kita mengelolanya berdasarkan “cerita” di kepala kita.
Ketika kita merasa kekurangan uang, pikiran menjadi fokus pada masalah jangka pendek. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi “scarcity” (kekurangan) menyita energi mental. Akibatnya:
Itulah mengapa tekanan finansial sering membuat orang:
Bukan karena kurang pintar, tetapi karena kapasitas mentalnya terkuras oleh stres.
Pernah belanja saat sedang stres atau sedih?
Belanja bisa memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang memberi rasa senang sementara. Masalahnya:
Ini disebut emotional spending. Uang di sini bukan lagi alat tukar. Ia menjadi alat pelarian emosional.
Di era media sosial, kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Melihat liburan, mobil, gadget, atau gaya hidup orang lain bisa memicu tekanan untuk “tidak tertinggal”. Akhirnya keputusan finansial dibuat bukan karena kebutuhan, tetapi demi citra.
Jadi, Apa Intinya?
Perilaku kita terhadap uang dipengaruhi oleh:
Uang bukan sekadar angka. Ia terkait dengan rasa aman, harga diri, dan masa depan.
Bagaimana Agar Lebih Bijak?
Beberapa langkah sederhana:
Penutp
Memahami psikologi uang bukan hanya membuat kita lebih pintar mengelola keuangan, tetapi juga membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Karena pada akhirnya, yang perlu kita kendalikan bukan uangnya, tetapi cara berpikir kita tentang uang.
Referensi
Tinggalkan Komentar