Info
Monday, 25 May 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

REFLEKSI TENTANG PSIKOLOGI DI BALIK CARA KITA MEMPERLAKUKAN UANG

Wednesday, 4 March 2026 Oleh : admin

Oleh : Dessy Mudhiah Sartika, S.Tr.Ak., M.Acc.
Kepala Divisi Keuangan Yaa Bunayya Islamic School

Bismillahirrahmanirrahim

Uang bukan sekadar alat tukar. Secara psikologis, uang berkaitan dengan rasa aman, harga diri, kekuasaan, bahkan cinta dan identitas diri. Cara seseorang mencari, membelanjakan, menabung, atau menginvestasikan uang sering kali lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dan kognitif daripada logika ekonomi semata. Kita sering mengatakan, “Ini cuma soal uang.” Padahal jarang sekali benar-benar cuma soal uang. Uang hanyalah bentuk luarnya. Di dalamnya, ada cerita.

  1. Kita Lebih Takut Kehilangan daripada Senang Mendapatkan

Psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky menemukan bahwa rasa sakit karena kehilangan jauh lebih kuat dibandingkan rasa senang karena mendapatkan hal yang sama nilainya.

Contoh sederhana:

  • Kehilangan Rp100.000 terasa menyakitkan.
  • Mendapat Rp100.000 terasa menyenangkan.
  • Tapi rasa sakitnya lebih besar daripada rasa senangnya.

Inilah yang disebut loss aversion.

Akibatnya:

  • Kita menahan investasi yang rugi terlalu lama.
  • Kita takut mencoba peluang baru karena takut gagal.
  • Kita sulit “move on” dari kerugian kecil.

Otak kita dirancang untuk menghindari ancaman, termasuk ancaman finansial.

  1. Kita Tidak Menganggap Semua Uang Sama

Richard Thaler menjelaskan konsep mental accounting. Secara logika, Rp100.000 tetaplah Rp100.000. Tapi dalam pikiran kita:

  • Uang gaji = harus hati-hati.
  • Uang bonus = boleh foya-foya.
  • Uang “rejeki nomplok” = terasa seperti uang gratis.

Padahal nilainya sama.

Inilah sebabnya orang bisa:

  • Punya tabungan, tapi tetap berutang kartu kredit.
  • Boros saat dapat THR, padahal sebelumnya berhemat ketat.

Kita tidak mengelola uang secara objektif, kita mengelolanya berdasarkan “cerita” di kepala kita.

  1. Saat Merasa Kekurangan, Otak Jadi Sempit

Ketika kita merasa kekurangan uang, pikiran menjadi fokus pada masalah jangka pendek. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi “scarcity” (kekurangan) menyita energi mental. Akibatnya:

  • Sulit berpikir jangka panjang.
  • Mudah mengambil keputusan impulsif.
  • Cenderung hanya fokus pada “bagaimana bertahan hari ini”.

Itulah mengapa tekanan finansial sering membuat orang:

  • Mengambil pinjaman berbunga tinggi.
  • Sulit keluar dari siklus utang.
  • Terjebak dalam keputusan jangka pendek.

Bukan karena kurang pintar, tetapi karena kapasitas mentalnya terkuras oleh stres.

  1. Kita Menggunakan Belanja untuk Mengobati Emosi

Pernah belanja saat sedang stres atau sedih?

Belanja bisa memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang memberi rasa senang sementara. Masalahnya:

  • Efeknya cepat hilang.
  • Sering muncul rasa bersalah setelahnya.
  • Lalu kita mengulanginya lagi.

Ini disebut emotional spending. Uang di sini bukan lagi alat tukar. Ia menjadi alat pelarian emosional.

  1. Uang Bukan Hanya Soal Nominal, Tapi Soal Identitas
    Uang sering kali menjadi simbol:
  • Status
  • Keberhasilan
  • Harga diri
  • Pengakuan sosial

Di era media sosial, kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Melihat liburan, mobil, gadget, atau gaya hidup orang lain bisa memicu tekanan untuk “tidak tertinggal”. Akhirnya keputusan finansial dibuat bukan karena kebutuhan, tetapi demi citra.

Jadi, Apa Intinya?

Perilaku kita terhadap uang dipengaruhi oleh:

  1. Ketakutan akan kehilangan
  2. Cara otak mengelompokkan uang
  3. Stres dan tekanan finansial
  4. Emosi sesaat
  5. Keyakinan bawah sadar
  6. Pengaruh sosial

Uang bukan sekadar angka. Ia terkait dengan rasa aman, harga diri, dan masa depan.

Bagaimana Agar Lebih Bijak?

Beberapa langkah sederhana:

  1. Sadari emosi sebelum mengambil keputusan finansial.
  2. Tunda pembelian impulsif minimal 24 jam.
  3. Tinjau kembali keyakinan Anda tentang uang.
  4. Fokus pada tujuan jangka panjang, bukan perbandingan sosial.
  5. Buat sistem otomatis (tabungan/investasi otomatis) agar tidak terlalu bergantung pada emosi.

Penutp

Memahami psikologi uang bukan hanya membuat kita lebih pintar mengelola keuangan, tetapi juga membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Karena pada akhirnya, yang perlu kita kendalikan bukan uangnya, tetapi cara berpikir kita tentang uang.

Referensi

  • Amos Tversky, Daniel Kahneman, 1974. Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases. Science, New Series, Vol. 185, No. 4157.
  • Brad Klontz, Psy.D. 20211. Money Beliefs and Finansial Behaviors: Develop of the Klontz Money Script Inventory. The Journal Finansial Therapy, Vol.2. Issue 1.

No Comments

Tinggalkan Komentar