Penulis: Fajar Selawati, M.Pd., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita buka HP, isinya berita perang, bencana di mana-mana, harga-harga naik, orang terdekat sakit, pekerjaan semakin berat, dan hati semakin sempit. Kita mencari ketenangan ke mana-mana, ke teman curhat, scroll media sosial sampai lelah, tapi cemasnya tetap ada. Umi, mungkin kita lupa satu tempat pulang yang paling aman: sajadah. Allah tidak pernah meninggalkan kita, kitalah yang sering meninggalkan Allah. Saat dunia berguncang, Allah menyuruh kita kembali dengan cara yang paling sederhana.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45 & 153)
Inilah yang dilupakan banyak dari kita. Ketika ada masalah, yang pertama dicari adalah manusia, bukan Allah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh terbaik.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
Artinya: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendapat masalah berat, beliau segera melakukan shalat.” (HR. Abu Daud no. 1319, Hasan).
Manusia paling mulia saja, ketika di tahun yang disebut ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan), di mana istri tercintanya Khadijah wafat, pamannya Abu Thalib yang melindunginya wafat, beliau dibenci dan dihina masyarakat, apa yang Allah berikan? Bukan langsung kemenangan dunia, tapi Allah berikan Isra Mi’raj, dan dari sanalah Allah syariatkan shalat. Karena jangan remehkan shalat, di situlah hati ditenangkan, iman dikuatkan, dan jalan keluar dibukakan.
Kita sering menganggap shalat itu beban yang harus cepat selesai. Padahal bagi Nabi, shalat adalah tempat istirahat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal:
يَا بِلَالُ أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
Artinya: “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” (HR. Abu Daud no. 4985, Hasan).
Ketika dunia membuatmu lelah bekerja, lelah melihat berita, lelah dengan manusia, maka hamparkan sajadah. Di atas sajadahlah seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya. Menangislah di sujud, adukan semua yang tidak bisa kau adukan pada manusia.
Rasulullah juga punya doa khusus saat cemas berat, yang sering dibawakan.
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.” (HR. Tirmidzi no. 3524, hadits hasan).
Dunia memang tidak akan kembali baik-baik saja dalam sehari. Tapi hati kita bisa baik-baik saja jika kembali kepada Allah.
Pertama, Jaga Shalat 5 Waktu Tepat Waktu. Jangan tunda. Shalat di awal waktu adalah cara Allah menjaga kita. Dalam hadits disebutkan, amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.
Kedua, Perbanyak Sujud dan Doa di Sepertiga Malam. Saat semua orang tidur, saat itulah Allah turun ke langit dunia dan bertanya: siapa yang meminta, akan Aku beri.
Ketiga, Jangan Cerita Kesedihanmu kepada Manusia Sebelum kepada Allah. Boleh curhat, tapi jadikan sajadah tempat curhat pertama. Kesedihan itu tidak tercela jika membuatmu semakin sabar dan kembali kepada Allah. (Faedah dari Rumaysho.Com tentang kesedihan).
Dunia boleh berguncang, berita boleh menakutkan, ekonomi boleh sulit. Tapi selama kita masih punya sajadah untuk bersujud, kita masih punya Allah, dan selama kita masih punya Allah, kita punya segalanya.
Saat dunia membuatmu menangis, biarlah sajadah yang menjadi saksi bahwa kau kembali.
Referensi:
Tinggalkan Komentar