Oleh: Chyntia Handayani, S.Pd., Gr.
(Guru SMP Yaa Bunayya Islamic School)
Lisan adalah salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan lisan, manusia dapat menyampaikan pikiran, perasaan, ilmu, dan kebaikan. Namun, di sisi lain, lisan juga dapat menjadi sebab datangnya dosa dan malapetaka apabila tidak dijaga. Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap adab berbicara dan menjaga lisan.
Lisan sebagai Cermin Hati
Perkataan seseorang mencerminkan kondisi hatinya. Orang yang hatinya baik biasanya mengucapkan kata-kata yang lembut dan bermanfaat, sebaliknya hati yang kotor akan mudah melahirkan ucapan yang kasar, menyakitkan, atau sia-sia. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya Al-Fawaid menyebutkan bahwa lisan adalah juru bicara hati. Jika hati dipenuhi iman, maka lisan akan dipenuhi dzikir, doa, dan nasihat kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang itu beriman hingga lisannya terkendali dari keburukan dan tetangganya merasa aman dari gangguannya.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang erat kaitannya dengan cara ia menjaga lisannya.
Bahaya Lisan yang Tidak Dijaga
Lisan yang tidak dijaga bisa menimbulkan banyak kerusakan. Ucapan dusta, ghibah, fitnah, dan kata-kata kasar bisa merusak persaudaraan dan menimbulkan permusuhan. Bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang tidak ia perhatikan, ternyata dengannya ia tergelincir ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
Di era modern, bahaya lisan juga tampak melalui tulisan di media sosial. Kata-kata yang dituliskan di dunia maya sama halnya dengan ucapan langsung. Ujaran kebencian, komentar buruk, dan penyebaran berita palsu bisa menjadi dosa besar apabila dilakukan tanpa pertimbangan. Karena itu, menjaga lisan di dunia digital juga menjadi kewajiban seorang muslim.
Menjaga Lisan Membawa Kebaikan
Menjaga lisan bukan hanya menghindari perkataan buruk, tetapi juga membiasakan diri berkata baik. Lisan bisa menjadi sumber pahala yang mengalir apabila digunakan untuk berdakwah, memberi nasihat, atau sekadar menyapa dengan ramah.
Allah berfirman:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114).
Ayat ini menunjukkan bahwa perkataan yang baik, yang mendorong kebaikan dan perdamaian, adalah ucapan yang bernilai pahala.
Cara Menjaga Lisan
Beberapa cara yang bisa dilakukan seorang muslim untuk menjaga lisan antara lain:
Kesimpulan
Menjaga lisan adalah bagian penting dari keimanan seorang muslim. Lisan bisa menjadi sumber pahala jika digunakan dengan benar, tetapi juga bisa menjerumuskan ke dalam dosa besar bila tidak dijaga. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib berhati-hati dalam berbicara maupun menulis, serta senantiasa membiasakan diri untuk berkata baik atau memilih diam.
Sumber Rujukan
Muslim.or.id
Bimbinganislam.com
Rumaysho.com
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2005.
Tinggalkan Komentar