Oleh : Lukluul Magnun, S.Kom
Admin FO TK Islam Yaa Bunayya Cabang Sekip
Bismillahirrahmanirrahim,
“Selain dari genetik, kecerdasan anak dapat dipengaruhi juga oleh lingkungan serta pengalaman yang mereka alami. Selain itu, kecerdasannya dapat terus dikembangkan melalui stimulasi intelektual dan pendidikan yang tepat.”
Pertanyaan tentang apakah kecerdasan anak diwarisi dari ibu atau berasal dari faktor genetik telah menjadi perdebatan yang menarik dalam dunia psikologi dan perkembangan manusia. Menurut penelitian ahli dari University of Washington, wanita cenderung mentransmisi gen kecerdasan ke anak yang terbentuk dari kromosom X.
Di samping itu, ada berbagai cara yang bisa ibu lakukan dalam mengoptimalkan kecerdasan anak, seperti dengan melakukan berbagai kegiatan seru.
Konsultan genetik sekaligus spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dr. Yulia Ariani menjelaskan, kecerdasan atau IQ sebenarnya ditentukan oleh banyak gen. Baik dari ayah maupun ibu.
Menurut Yulia, apabila hanya berbicara soal faktor gen, kecerdasan merupakan faktor genetik dari ayah dan ibu.
Baik orangtua laki-laki maupun perempuan, sama-sama menurunkan genetik dalam porsi seimbang kepada anaknya.
Namun, kontribusi gen terhadap kecerdasan hanya berkisar antara 40-60 persen. Sementara sisanya, merupakan faktor lingkungan atau shared environment.
Oleh karena itu, karena ibu di lingkungan masyarakat Indonesia merupakan sosok terdekat anak yang memilihkan nutrisi, merawat, dan mengasuh, maka peran ibu pun bisa jadi sangat menonjol.
“Dia (ibu) adalah role model, yang mengasuh, memberi nutrisi, jadi memang seolah-olah ibulah yang dominan,” terang Yulia saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/5/2023).
Yulia menyampaikan, istilah keturunan dalam sains bukan hanya soal gen, tetapi juga faktor non-genetik atau lingkungan.
Namun, sering kali faktor lingkungan terdekat dianggap seperti sesuatu yang mutlak diwariskan dari orangtua.
Misalnya, Yulia mencontohkan, orangtua obesitas cenderung memiliki anak yang kelebihan berat badan pula.
Melihat hal tersebut, masyarakat pun kerap menganggap bahwa obesitas murni diturunkan dari orangtua.
“Sudah diteliti, ternyata faktor gen hanya 20 persen. Tapi faktor lingkungannya yang lebih dominan,” ujarnya.
Lingkungan keluarga sangat penting bagi perkembangan intelektual anak. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan mendukung secara emosional dan memiliki kesempatan untuk belajar, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan kecerdasan.
Interaksi antara orang tua dan anak yang positif, permainan yang merangsang, dan kegiatan belajar yang mendukung akan berdampak positif pada perkembangan kognitif anak.
Pola asuh dengan memperhatikan kebutuhan anak, memberikan bimbingan, dan mendorong eksplorasi juga berdampak pada perkembangan kecerdasan anak. Interaksi yang penuh perhatian dan responsif antara orang tua dan anak membentuk dasar yang kuat untuk perkembangan kognitif yang baik.
Kualitas pendidikan yang anak terima juga berperan penting dalam perkembangan kecerdasannya. Pendidikan formal di sekolah dan informal seperti membaca, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau menemukan minat dan bakat tertentu juga dapat meningkatkan kecerdasan anak.
Pendidikan memberikan banyak stimulasi intelektual dan membantu anak-anak mengembangkan pemikiran kritis, kreativitas, dan keterampilan memecahkan masalah.
Interaksi sosial dengan teman, anggota keluarga, dan masyarakat juga berperan dalam perkembangan kecerdasan anak. Melalui interaksi sosial, anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami perspektif orang lain.
Hal ini bisa memperkaya pemahaman mereka tentang dunia dan berkontribusi pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional.
Selain itu, ada hal menarik yang dikenal dengan istilah epigenetik. Sederhananya, epigenetik adalah cara tubuh kita menyalakan atau mematikan gen tertentu tanpa mengubah isi DNA itu sendiri. Jadi, meskipun seorang anak sudah mewarisi gen kecerdasan dari orang tuanya, faktor lingkunganlah yang bisa menentukan apakah gen tersebut “aktif” atau justru “diam”. Misalnya, anak yang mendapatkan nutrisi baik, cukup tidur, dan stimulasi belajar sejak dini, akan lebih mungkin mengoptimalkan potensi genetiknya. Sebaliknya, stres berkepanjangan atau kurangnya perhatian bisa membuat potensi itu tidak berkembang maksimal. Inilah sebabnya dua anak dengan gen serupa bisa tumbuh dengan tingkat kecerdasan yang berbeda, tergantung pada pengalaman dan pola asuh yang mereka jalani. Oleh karenanya, dapat dikatakan lingkungan bukan sekadar pendukung, tapi bisa benar-benar menentukan cara kerja gen kecerdasan.
Source :
Tinggalkan Komentar