Oleh : Dian Safitri
(Guru TK YBIS Sako)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,
وَمَن سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ له به طَرِيقًا إلى الجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga-Nya.” (HR Muslim no. 2699)
Oleh karena itu, agar tidak salah jalan dalam mencari ilmu tersebut hendaknya kita menuntut ilmu dari orang yang ahli dan terkenal akan ilmu dan pengalamannya. Terlebih lagi dalam agama dan aqidahnya, seperti yang dikatakan oleh salah satu ulama’
Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata,
إن اختيار المدرس المستقيم في عقيدته وفي علمه أمر مطلوب
“Sesungguhnya memilih guru yang lurus aqidah serta ilmunya adalah suatu perkara yang di tuntut.” Al Ajwibah Al Mufidah (165)
Lalu, Bagaimana memilih Guru yang Tepat?
Berikut cara memilih guru dalam menuntut ilmu agama dengan memperhatikan 3 hal ini, yakni:
Imam Malik rahimahullah berkata:
لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ
“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan”
(At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66).
Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan:
“Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya”.
(Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40).
Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya”
(Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85).
Demikian kriteria memilih guru dalam menuntut ilmu agama, semoga bermanfaat dan semoga kita semua diberi kemudahan untuk menuntut ilmu dari orang yang tepat yang Allah berkahi ilmunya aamiin baarakallahu fiikum, Wallahu ‘alam bisshowwab.
Tinggalkan Komentar