Info
Monday, 28 Sep 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

BULLYING BERKEDOK CANDAAN: BAHAYA YANG SERING DIABAIKAN

Monday, 28 September 2026 Oleh : admin

Oleh : Samsuri Riyanto, S. E., Gr
(Kepala SMP Islam Yaa Bunayya Palembang)

Bismillahirrahmanirrahim

Di lingkungan sekolah, bercanda merupakan hal yang wajar. Candaan dapat mempererat persahabatan, menciptakan suasana yang menyenangkan, dan menghilangkan ketegangan. Namun, tidak semua candaan membawa dampak positif. Ketika candaan dilakukan dengan cara menghina, mengejek, mempermalukan, atau merendahkan seseorang secara berulang, maka candaan tersebut telah berubah menjadi bullying atau perundungan. Sayangnya, banyak pelaku bersembunyi di balik kalimat, “Ah, cuma bercanda kok!” sehingga perilaku tersebut sering dianggap hal biasa.

Bullying berkedok candaan sering kali muncul dalam bentuk ejekan terhadap fisik, warna kulit, berat badan, tinggi badan, cara berbicara, kemampuan belajar, latar belakang keluarga, bahkan kondisi ekonomi seseorang. Tidak sedikit pula yang menjadikan kekurangan teman sebagai bahan hiburan di depan banyak orang. Padahal, bagi korban, kata-kata tersebut dapat meninggalkan luka emosional yang jauh lebih lama dibandingkan luka fisik.

Perbedaan mendasar antara candaan dan bullying terletak pada dampaknya. Candaan yang sehat membuat semua pihak merasa senang dan nyaman. Sebaliknya, bullying membuat korban merasa malu, takut, tersinggung, tertekan, atau bahkan kehilangan rasa percaya diri. Jika seseorang terus mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda meskipun orang lain sudah merasa terluka, maka candaan itu telah melewati batas.

Korban bullying sering memilih diam karena takut dianggap “baper”, terlalu sensitif, atau tidak memiliki selera humor. Akibatnya, mereka memendam rasa sedih, marah, dan kecewa sendirian. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, menurunkan motivasi belajar, mengurangi semangat bergaul, hingga membuat korban enggan datang ke sekolah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bullying berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan penurunan kesejahteraan psikologis.

Tidak hanya korban yang mengalami dampak negatif, pelaku pun dapat berkembang menjadi pribadi yang kurang memiliki empati terhadap orang lain. Jika perilaku mengejek terus dianggap lucu dan tidak pernah dikoreksi, pelaku akan menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang normal. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi cara mereka membangun hubungan sosial, baik di sekolah maupun ketika memasuki dunia kerja.

Perkembangan media sosial juga membuat bullying berkedok candaan semakin mudah terjadi. Komentar yang menghina, meme yang mempermalukan teman, penyebaran foto tanpa izin, hingga ejekan di grup percakapan sering kali diberi label “sekadar bercanda”. Padahal, jejak digital dapat bertahan lama dan membuat korban mengalami tekanan psikologis yang lebih berat karena penghinaan dapat disaksikan oleh banyak orang.

Membangun budaya saling menghormati menjadi langkah penting untuk mencegah bullying. Setiap warga sekolah perlu memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dihargai. Sebelum melontarkan candaan, biasakan bertanya dalam hati: “Apakah saya akan tetap nyaman jika candaan ini ditujukan kepada saya?” Jika jawabannya tidak, sebaiknya candaan tersebut tidak diucapkan.

Guru dan orang tua juga memiliki peran besar dalam memberikan teladan. Mereka perlu menciptakan lingkungan yang aman bagi peserta didik untuk bercerita ketika mengalami atau menyaksikan bullying. Selain itu, sekolah perlu memiliki aturan yang jelas mengenai pencegahan dan penanganan perundungan sehingga setiap kasus dapat diselesaikan secara adil, mendidik, dan memberikan efek jera tanpa mengabaikan pembinaan terhadap pelaku.

Bagi siswa, menjadi teman yang baik berarti berani menghentikan candaan yang menyakiti orang lain. Jika melihat teman diejek atau dipermalukan, jangan ikut tertawa hanya karena ingin diterima dalam kelompok. Dukungan sederhana seperti menghibur korban, mengingatkan pelaku dengan sopan, atau melaporkan kepada guru dapat menjadi langkah besar dalam menghentikan perundungan.

Pada akhirnya, humor yang baik adalah humor yang menghadirkan tawa tanpa menyisakan luka. Tidak ada alasan untuk menyakiti orang lain atas nama candaan. Sekolah yang nyaman bukanlah sekolah yang penuh ejekan, melainkan sekolah yang dipenuhi rasa saling menghargai, empati, dan kepedulian. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang aman, karena setiap anak berhak merasa dihargai, diterima, dan bahagia saat berada di sekolah.

Daftar Sumber:

  • Nurhayati, dkk. (2025). Luka yang Tak Terlihat: Efek Jangka Panjang Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja.Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. DOI: https://doi.org/10.31004/jrpp.v8i2.48295.
  • Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. Dampak Perilaku Bullying di Sekolah terhadap Kesehatan Mental Anak.
  • Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. Dampak Psikologis bagi Korban Cyberbullying: Luka yang Tak Terlihat.
  • ANTARA News. Candaan Bisa Pengaruhi Psikologis Jika Kelewat Batas.5 Desember 2024.
  • ANTARA News. Kenali Dampak Bullying terhadap Fisik dan Psikologis Korban.20 Agustus 2024.

No Comments

Tinggalkan Komentar