Oleh: Muhammad Donny Agusta, SE, MM
Direktur YBIS / Ketua Yys. Tarbiyah Sunnah Yaa Bunayya
Bismillahirrahmanirrahim
Bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, mencapai target, datang tepat waktu, atau mendapatkan penghasilan.
Bagi seorang muslim, tempat kerja juga merupakan tempat diuji adab dan amanahnya.
Dan boleh jadi, salah satu ujian terberat di tempat kerja bukan banyaknya pekerjaan atau beratnya tanggung jawab.
Tetapi menjaga lisan.
Semakin sering kita berinteraksi dengan orang lain, semakin banyak pula kekurangan yang kita ketahui. Kita mengetahui keputusan atasan yang tidak kita sukai, kekurangan rekan kerja, bahkan karakter wali siswa yang terkadang menguji kesabaran.
Di sinilah adab seorang muslim diuji.
Ketika Obrolan Berubah Menjadi Ghibah
Ghibah sering kali tidak dimulai dengan niat buruk.
Kadang bermula dari obrolan ringan saat istirahat:
“Saya sebenarnya tidak mau ngomongin beliau, tapi…”
Atau:
“Kita ngomong di sini saja ya…”
Bahkan terkadang dibungkus dengan kalimat:
“Ini bukan ghibah, cuma evaluasi…”
Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut tentang saudara kita sesuatu yang ia tidak sukai. Ketika para sahabat bertanya bagaimana jika yang dikatakan itu memang benar, beliau menjawab:
“Jika apa yang engkau katakan itu benar ada padanya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Dan jika tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.”
(HR. Muslim)
Maka ukuran ghibah bukan sekadar apakah cerita itu benar atau tidak. Justru sesuatu yang benar-benar ada pada seseorang pun dapat menjadi ghibah ketika kita membicarakan kekurangannya tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
Atasan, Rekan Kerja, Bahkan Wali Siswa
Ketika tidak setuju dengan kebijakan atasan, pegawai tentu boleh menyampaikan masukan. Bahkan kritik dan nasihat terkadang diperlukan.
Namun ada perbedaan antara menyampaikan masalah kepada orang yang dapat menyelesaikannya dengan membicarakan kekurangan atasan kepada orang yang tidak berkepentingan.
Begitu pula terhadap rekan kerja.
Ada yang kerjanya lambat, kurang rapi, mudah tersinggung, atau pernah melakukan kesalahan. Jika memang perlu diperbaiki, sampaikan melalui jalan yang benar. Jangan sampai kesalahannya justru menjadi bahan percakapan dari satu meja ke meja lainnya.
Hal yang sama berlaku kepada wali siswa.
Dalam lingkungan pendidikan, guru dan pegawai terkadang mengetahui persoalan atau karakter tertentu dari orang tua siswa. Informasi tersebut adalah amanah profesional, bukan bahan obrolan setelah wali siswa meninggalkan ruangan.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dan juga bagi kehormatan keluarganya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik kepadanya.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Evaluasi Boleh, Ghibah Jangan
Menjaga lisan bukan berarti setiap kesalahan harus didiamkan.
Dalam organisasi, evaluasi tetap diperlukan. Kinerja yang bermasalah harus diperbaiki, pelanggaran perlu dilaporkan, dan persoalan wali siswa terkadang memang harus dibahas.
Namun sebelum berbicara tentang seseorang, coba tanyakan:
Jika persoalan hanya perlu diketahui kepala sekolah, tidak perlu menjadi pembicaraan satu ruang guru.
Jika hanya perlu diketahui atasan, tidak perlu menjadi konsumsi satu kantor.
Sampaikan seperlunya, kepada orang yang tepat, dengan tujuan menyelesaikan masalah.
Inilah yang membedakan evaluasi dengan sekadar membicarakan kekurangan orang lain.
Jangan Menjadi Penyambung Cerita
Ada satu kebiasaan lain yang juga perlu kita jaga:
“Tadi si A ngomong tentng antum…”
“Katanya teman-teman banyak yang tidak suka…”
Ucapan seperti ini sering kali tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ia dapat menumbuhkan prasangka, merusak ukhuwah, dan memperbesar persoalan.
Tidak semua yang kita dengar harus kita sampaikan.
Terkadang salah satu bentuk kedewasaan adalah mampu mendengar sesuatu, kemudian menghentikannya pada diri kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lingkungan Kerja yang Menjaga Kehormatan
Bayangkan sebuah tempat kerja di mana setiap orang merasa:
“Walaupun saya tidak berada di ruangan itu, saya yakin kehormatan saya tetap dijaga oleh teman-teman saya.”
Betapa nyaman lingkungan seperti itu.
Karena budaya kerja yang baik bukan hanya tentang SOP, target, laporan, dan kedisiplinan. Ia juga tentang bagaimana kita menjaga amanah, menjaga lisan, dan menjaga kehormatan orang lain.
Adab Bukan Hanya Diajarkan, Tetapi Diteladankan
Di Yaa Bunayya Islamic School, kami meyakini bahwa pendidikan adab tidak cukup hanya diajarkan kepada anak di dalam kelas. Adab harus hidup dan terlihat dalam lingkungan tempat mereka bertumbuh.
Anak-anak memperhatikan bagaimana orang dewasa berbicara, menjaga amanah, menyelesaikan perbedaan, dan memperlakukan orang lain.
Karena itu, menjadi “Sekolah Adab” adalah ikhtiar yang terus kami bangun. Bukan karena kami telah sempurna, tetapi karena kami percaya bahwa orang tua tidak hanya memilih tempat anaknya belajar, tetapi juga memilih lingkungan tempat buah hatinya tumbuh dan mengambil teladan.
InsyaAllah, Yaa Bunayya Islamic School ingin menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Karena pada akhirnya, bisa jadi cobaan terberat kita di kantor bukan pekerjaannya.
Tetapi menjaga lisan ketika kita memiliki kesempatan untuk membicarakan orang lain.
Semoga Allah menjaga lisan kita, memperbaiki hati kita, dan memberkahi setiap amanah yang kita kerjakan.
Wallahu a’lam.
Yaa Bunayya Islamic School
Sekolah Adab — Building Future Muslim Leaders Through Adab
Tinggalkan Komentar