Oleh : Samsuri Riyanto, S. E., Gr
(Kepala SMP Islam Yaa Bunayya Palembang)
Bismillahirrahmanirrahim
Ada satu hal yang terkadang terlupakan ketika seseorang berdiri di depan kelas: guru yang hari ini mengajar, dahulu juga pernah duduk di bangku murid. Ia pernah tidak memahami pelajaran, pernah takut menjawab pertanyaan, pernah melakukan kesalahan, bahkan mungkin pernah merasa kecewa karena tidak mendapatkan nilai yang diharapkan. Sebelum menjadi seseorang yang memberikan arahan, ia pernah menjadi seseorang yang membutuhkan arahan. Sebelum menjadi sosok yang mengajarkan kesabaran, ia pun pernah belajar melalui kesalahan dan teguran. Karena itu, menjadi guru bukan berarti berhenti menjadi manusia yang pernah belajar, berjuang, dan mengalami kegagalan.
Dalam kehidupan sekolah saat ini, kita sering menjumpai situasi ketika seorang siswa belum mampu memahami materi meskipun sudah dijelaskan berkali-kali. Ada siswa yang lambat menyelesaikan tugas, kesulitan menghafal, kurang percaya diri ketika diminta menjawab, atau bahkan memilih diam karena takut jawabannya salah. Dalam situasi seperti ini, terkadang muncul reaksi spontan berupa teguran keras, perbandingan dengan teman yang lebih pintar, atau kalimat yang tanpa disadari melukai perasaan siswa. Padahal, mungkin yang dibutuhkan anak tersebut bukan tambahan tekanan, melainkan penjelasan dengan cara berbeda, kesempatan mencoba kembali, dan seseorang yang percaya bahwa dirinya mampu berkembang.
Bayangkan seorang siswa yang mendapatkan nilai rendah dalam ujian matematika. Ketika hasil ulangan dibagikan, ia menundukkan kepala dan berusaha menyembunyikan kertas nilainya. Teman-temannya mendapatkan nilai tinggi, sementara dirinya harus menghadapi kenyataan bahwa banyak jawaban yang salah. Jika guru hanya berkata, “Kamu memang tidak pernah serius belajar,” siswa itu mungkin akan semakin yakin bahwa dirinya tidak pintar. Namun, ketika guru berkata, “Nilaimu belum baik, tetapi kita bisa mencari tahu bagian mana yang belum kamu pahami,” sebuah pintu harapan terbuka. Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya terhadap cara seorang anak memandang dirinya bisa sangat besar.
Guru yang baik bukan guru yang membiarkan kesalahan, melainkan guru yang mampu menjadikan kesalahan sebagai kesempatan belajar. Kita tentu tidak ingin siswa menganggap bahwa kegagalan adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu diperbaiki. Akan tetapi, kita juga tidak ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa sekali gagal berarti selamanya tidak mampu. Kesalahan harus tetap dikoreksi, kedisiplinan tetap ditegakkan, dan tanggung jawab tetap diajarkan. Bedanya, semua itu dilakukan dengan cara yang mendidik, bukan mempermalukan. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat siswa takut melakukan kesalahan, melainkan membantu mereka memahami bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut.
Di era media sosial, tantangan guru bahkan semakin kompleks. Siswa hidup dalam lingkungan yang penuh perbandingan, komentar, tuntutan untuk terlihat sempurna, dan tekanan mendapatkan pengakuan. Tidak sedikit anak yang merasa dirinya kurang pintar karena melihat teman-temannya lebih berprestasi, kurang menarik karena membandingkan penampilan, atau kurang berharga karena tidak mendapatkan perhatian yang sama. Ketika mereka datang ke sekolah, guru seharusnya menjadi salah satu orang dewasa yang membantu mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki proses perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak tumbuh dengan kecepatan yang sama, dan tidak semua potensi dapat terlihat melalui angka di atas kertas.
Mungkin dahulu, ketika masih menjadi murid, seorang guru pernah mengalami hal yang sama. Ia pernah dipanggil ke depan kelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan. Ia pernah mendapatkan teguran karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia pernah merasa malu ketika nilainya dibandingkan dengan teman sebangku. Bahkan, mungkin ada seorang guru yang dahulu hampir menyerah pada pelajaran tertentu, tetapi akhirnya berhasil memahaminya berkat bantuan seorang pendidik yang sabar. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang seharusnya tidak hilang ketika seseorang telah mengenakan identitas sebagai guru. Jangan sampai kita melupakan luka yang pernah kita rasakan, lalu tanpa sadar memberikan luka yang sama kepada murid-murid kita.
Penelitian pendidikan juga memberikan penguatan terhadap pentingnya hubungan yang positif antara guru dan siswa. Meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada tahun 2025 menghimpun 26 meta-analisis dengan sekitar 2,64 juta peserta didik. Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas hubungan guru dan siswa berkaitan erat dengan berbagai hasil pendidikan, termasuk prestasi akademik, motivasi, keterlibatan belajar, perilaku, dan kesejahteraan siswa. Artinya, hubungan yang baik bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan salah satu bagian penting yang mendukung keberhasilan pendidikan.
Dalam praktik pembelajaran, hal ini dapat diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana. Ketika siswa belum memahami materi, guru dapat bertanya bagian mana yang membingungkan. Ketika siswa melakukan kesalahan, guru dapat memberikan kesempatan memperbaiki. Ketika siswa terlihat murung, guru dapat menyapa dan menanyakan keadaannya tanpa harus menginterogasi. Ketika siswa berhasil menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya sulit, guru dapat memberikan apresiasi yang tulus. OECD dalam laporan Unlocking High-Quality Teaching menekankan pentingnya iklim kelas yang mendukung, hubungan guru-siswa yang positif, serta perhatian terhadap kebutuhan emosional peserta didik.
Namun, memahami bahwa guru dahulu juga pernah menjadi murid bukan berarti siswa boleh bersikap tidak sopan, mengabaikan aturan, atau menolak tanggung jawab. Justru pengalaman guru sebagai mantan murid seharusnya membuatnya semakin bijaksana dalam membedakan antara anak yang membutuhkan bantuan dan anak yang perlu diarahkan dengan tegas. Ada kalanya guru harus mengatakan tidak, memberikan konsekuensi, atau mengingatkan siswa dengan serius. Akan tetapi, ketegasan yang mendidik selalu memiliki tujuan memperbaiki perilaku, bukan melampiaskan kemarahan. Siswa boleh merasa tidak nyaman ketika ditegur, tetapi jangan sampai kehilangan harga dirinya karena teguran tersebut.
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak direnungkan setiap guru sebelum memberikan komentar kepada siswa: “Jika dahulu saya berada di posisi anak ini, bagaimana saya ingin diperlakukan?” Pertanyaan tersebut tidak akan menghilangkan kewibawaan guru. Sebaliknya, pertanyaan itu dapat membantu guru menemukan cara menegur yang lebih tepat, memberikan penjelasan yang lebih manusiawi, dan memahami bahwa di balik perilaku seorang siswa terkadang terdapat persoalan yang belum mampu ia ceritakan. Empati bukan berarti membenarkan semua tindakan siswa, tetapi berusaha memahami sebelum mengambil keputusan. Penelitian mengenai empati guru juga menunjukkan keterkaitannya dengan kualitas interaksi dan dukungan emosional dalam pembelajaran.
Pada akhirnya, mungkin siswa tidak akan mengingat seluruh rumus yang pernah diajarkan, setiap halaman buku yang dibaca, atau semua tugas yang pernah diberikan. Namun, mereka bisa saja mengingat guru yang pernah mengatakan, “Kamu pasti bisa, coba sekali lagi.” Mereka mungkin mengingat guru yang tidak menertawakan kesalahannya, guru yang memberikan kesempatan kedua, atau guru yang tetap percaya kepadanya ketika orang lain mulai meragukan kemampuannya. Kata-kata sederhana dari seorang pendidik terkadang menjadi alasan seorang anak berani melangkah lebih jauh. Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar pengaruh sebuah kalimat terhadap masa depan seseorang.
Maka, marilah kita kembali mengingat diri sendiri ketika dahulu masih menjadi murid. Ingatlah bagaimana rasanya menunggu nilai ujian, bagaimana rasanya takut dipanggil ke depan kelas, bagaimana rasanya berharap mendapatkan pujian, dan bagaimana rasanya ketika ada seseorang yang percaya bahwa kita mampu. Jangan biarkan jabatan, pengalaman, atau bertambahnya usia membuat kita lupa pada perasaan-perasaan tersebut. Gurumu dulu juga pernah jadi murid. Dan karena pernah menjadi murid, seorang guru seharusnya memahami bahwa setiap anak bukan sekadar angka, bukan sekadar perilaku, dan bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh. Tugas kita bukan hanya mengajarkan mereka menjadi pintar, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang percaya diri, berani memperbaiki diri, dan tidak kehilangan harapan terhadap masa depannya.
Sumber
Tinggalkan Komentar