Oleh: Teratai Sridewi, S.Pd., Gr.
(Guru SD Yaa Bunayya Islamic School)
Bismillahirrahmanirrahim
Kabut asap bukan hanya membuat jarak pandang berkurang. Kondisi ini juga seharusnya mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan keadaan orang lain.
Namun, di tengah kondisi seperti ini, masih ada sebagian orang yang kurang memiliki empati. Ketika udara sedang tidak sehat, masih ada yang bermain di luar tanpa memperhatikan kondisi, membakar sesuatu sembarangan, atau menganggap kabut asap sebagai hal yang biasa.
Padahal, dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang, terutama anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya tentang kepentingan diri sendiri, tetapi juga tentang memikirkan keselamatan orang lain.
Empati dapat dimulai dari hal sederhana. Kita bisa mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara buruk, menggunakan masker jika diperlukan, tidak melakukan pembakaran yang dapat memperburuk asap, serta mengingatkan orang lain dengan cara yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu belajar bertanya:
“Kalau tindakan kita berdampak kepada orang lain, apakah kita sudah memikirkannya?”
Kabut asap mungkin tidak bisa kita selesaikan sendirian. Namun, kita bisa memilih untuk tidak memperburuk keadaan.
Di tengah udara yang semakin berat untuk dihirup, jangan sampai kepedulian kita justru semakin tipis.
Mari belajar menjadi pribadi yang bukan hanya peduli ketika diri sendiri terkena dampak, tetapi juga peduli ketika orang lain membutuhkannya.
Sumber rujukan:
Tinggalkan Komentar