Info
Friday, 25 Sep 2026
  • Telah dibuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026 / 2027 untuk TK, SD dan SMP Yaa Bunayya Islamic School, untuk info lebih lanjut silahkan hubungi kontak pada website.

PANGKUANMU ADALAH MADRASAH PERTAMA, WAHAI IBU…

Friday, 25 September 2026 Oleh : admin

Oleh : Zia Ulfah
(Guru TK Sako Yaa Bunayya Islamic School)

Bismillahirrahmanirrahim

Sebelum mereka mengenal ruang kelas, sebelum jari-jari mungil mereka mengeja huruf di papan tulis, dan sebelum dunia memperkenalkan ribuan suara pada mereka… ada satu tempat yang pertama kali mereka kenal sebagai ‘sekolah’.

Tempat itu tidak memiliki seragam, dan tidak memiliki nilai di atas kertas. Tempat itu tidak memiliki iuran, tempat itu adalah pangkuanmu, Ibu. Madrasah pertama yang atapnya adalah kasih sayang, dan lantainya adalah kesabaran.

Anak-anak kita., mereka bukanlah botol kosong yang sekadar menunggu untuk diisi. Mereka adalah cermin-cermin kecil yang memantulkan segala yang ada di sekitarnya. Mereka adalah peniru ulung.

Tahukah Ibu, bahwa mereka tidak selalu mendengarkan apa yang “kita katakan”, tapi mereka merekam dengan tajam apa yang “kita lakukan”?

Tatapan matamu, helaan nafasmu, cara kamu mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, hingga bagaimana kamu menahan amarah saat lelah melanda… semuanya terekam abadi di dalam memori kecil mereka. Mereka meniru caramu tersenyum pada tetangga, mereka meniru caramu berbagi pada yang membutuhkan, dan mereka juga meniru caramu memperlakukan dirimu sendiri.

Maka, wahai Ibu… izinkan kata-kata ini mengetuk pintu hatimu yang paling dalam.

 

Dunia di luar sana akan semakin keras, semakin bising, dan semakin kehilangan arah. Bekal terbesar yang bisa kamu berikan untuk mereka bukanlah harta yang melimpah, bukanlah pakaian bermerek, melainkan “akhlak yang mulia”. Akhlak adalah satu-satunya cahaya yang akan menuntun mereka pulang ketika mereka tersesat di kegelapan dunia.

 

Mari, senantiasa ajarkan mereka kejujuran. Bukan dengan ceramah yang panjang, tapi dengan caramu mengembalikan uang kembalian yang lebih.

Ajarkan mereka kasih sayang. Bukan dengan kata-kata manis, tapi dengan kelembutan tanganmu saat merawat mereka yang sedang sakit.

Ajarkan mereka kesabaran dan empati. Dengan caramu tetap tersenyum dan bersikap baik, meski lelahmu hari ini tak tertahankan.

Aku tahu, Ibu… aku tahu bahumu sering terasa begitu berat. Aku tahu air matamu sering jatuh dalam diam saat malam tiba, tergerus oleh lelah yang tak pernah mengenal kata istirahat. Menjadi ‘guru’ di madrasah pertama ini adalah pekerjaan yang tak pernah ada jam istirahatnya.

 

Namun, percayalah… setiap tetes keringat, setiap luapan emosi yang berhasil kamu tahan, dan setiap doa yang kamu panjatkan di sepertiga malam, sedang memahat jiwa-jiwa kecil itu menjadi manusia yang utuh.

Jadilah contoh yang paling indah untuk mereka. Karena pada akhirnya, ketika mereka melangkah keluar dari ‘sekolah pertamamu’ dan menghadapi dunia, mereka akan membawa namamu, didikanmu, dan cerminan akhlakmu ke mana pun mereka pergi.

Jangan biarkan mereka belajar tentang keburukan, tentang bentakan, atau tentang keegoisan dari rumah kita. Jadikan rumah kita surga kecil, tempat di mana akhlak mulai bertunas dan cinta bersemi.

Sebab, pada hari di mana mereka berdiri tegak di hadapan dunia… yang akan mereka banggakan bukanlah gelar akademis yang terpajang di dinding, melainkan jejak kasih dan akhlak mulia yang mereka warisi dari madrasah pertamanya.

“Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita, para ibu, dalam mendidik generasi Rabbani. Aamiin.”

No Comments

Tinggalkan Komentar