Oleh: Lia Fitri Fujiarsi, A.Md.
(Guru TK Islam Yaa Bunayya Pusat Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
Setiap anak memiliki keunikan, kemampuan, dan karakter yang berbeda. Ada anak yang mudah berinteraksi dengan orang lain, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Salah satu hal yang penting untuk ditumbuhkan sejak usia dini adalah rasa percaya diri.
Rasa percaya diri membantu anak berani mencoba, mengungkapkan pendapat, berinteraksi dengan lingkungan, dan menghadapi pengalaman baru. Kepercayaan diri tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang melalui pengalaman dan dukungan yang diterima anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Menurut Rahman (2013), orang tua memiliki peran dalam membangun kepercayaan diri anak melalui pemberian kesempatan, penghargaan, dan dukungan terhadap kemampuan anak. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan dipercaya.
Salah satu cara menumbuhkan kepercayaan diri adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan sesuatu secara mandiri. Anak dapat diberikan tanggung jawab sederhana, seperti merapikan mainan, menyimpan perlengkapan belajar, atau menyelesaikan tugas sesuai dengan kemampuannya.
Ketika anak diberikan kesempatan untuk mencoba, ia memperoleh pengalaman bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu. Jika anak mengalami kesulitan, orang dewasa dapat memberikan bantuan tanpa langsung mengambil alih.
Keberhasilan anak tidak selalu ditentukan oleh hasil yang sempurna. Proses ketika anak berusaha, mencoba kembali, dan menyelesaikan tugas juga perlu dihargai.
Kalimat sederhana seperti, “Masyaallah, Ananda sudah berusaha dengan baik,” dapat menjadi bentuk apresiasi yang membuat anak merasa dihargai. Dengan demikian, anak belajar bahwa usaha dan keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dari proses belajar.
Setiap anak memiliki perkembangan dan kemampuan yang berbeda. Membandingkan anak dengan teman atau saudara dapat membuat anak merasa kurang mampu dan ragu terhadap dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang tua dan guru dapat membantu anak melihat perkembangan dirinya sendiri. Anak perlu diberikan apresiasi ketika menunjukkan kemajuan, meskipun kemajuan tersebut terlihat sederhana.
Anak juga perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya. Di sekolah, guru dapat mengajak anak bercerita, menjawab pertanyaan, menunjukkan hasil karya, atau berbagi pengalaman di depan teman-temannya.
Penelitian Nihwan dan Tejaningrum (2021) menunjukkan bahwa kegiatan bercerita dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Kegiatan yang dilakukan secara menyenangkan dan bertahap dapat membantu anak menjadi lebih berani untuk berkomunikasi.
Dalam Islam, anak merupakan amanah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap anak memiliki potensi yang perlu diarahkan dan dikembangkan dengan penuh kasih sayang. Menumbuhkan kepercayaan diri bukan berarti mengajarkan anak untuk merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan membantu anak mengenali kemampuannya, berani mencoba, dan tetap rendah hati.
Orang tua dan guru dapat membiasakan anak mengucapkan alhamdulillah ketika berhasil dan mengajarkan anak untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Membangun kepercayaan diri membutuhkan proses dan kesabaran. Tidak semua anak akan langsung berani tampil atau berbicara di depan orang lain. Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman.
Oleh karena itu, mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa dicintai, dihargai, didengarkan, dan dipercaya. Sebab, kepercayaan diri dapat tumbuh dari pengalaman sederhana ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba dan diyakinkan bahwa dirinya mampu.
Referensi:
Tinggalkan Komentar