Oleh : Adelia Intan Rahmaniar, S.I.Kom
(Guru TK Yaa Bunayya Islamic School Sako)
Bismillahirrahmanirrahim
Mengenal Keistimewaan Anak yang Suka Bercerita kepada Orang Tua
Pernahkah saat pulang kerja, baru saja duduk, lalu anak langsung mendekat dan bercerita panjang lebar? Mulai dari siapa yang duduk di sebelahnya saat belajar, mengapa temannya menangis, sampai hal-hal kecil yang menurut kita mungkin tidak penting tapi bagi mereka, itu adalah bagian dari dunia yang sedang mereka jelajahi.
Momen sederhana ini sering luput dari perhatian, padahal ia menyimpan sesuatu yang sangat berharga.
Anak yang terbiasa bercerita kepada orang tuanya tentang apa saja, hal besar maupun kecil, menyenangkan maupun mengecewakan. Sesungguhnya sedang menunjukkan sesuatu yang istimewa: ia menganggap orang tuanya sebagai tempat pulang yang aman.
Dalam bahasa anak muda sekarang, orang tua yang dipercaya seperti ini layak disebut bestie: sahabat terdekat, bukan stranger atau orang asing yang hanya tahu sedikit tentang kehidupannya.
Ini bukan hal kecil. Semakin bertambah usia, dunia anak akan semakin luas dimulai dari sekolah, pertemanan, gawai, hingga berbagai pengaruh dari luar rumah. Jika sejak dini anak sudah terbiasa terbuka kepada orang tua, kebiasaan itu insyaAllah akan terus terbawa hingga ia remaja dan dewasa. Sebaliknya, jika anak merasa ceritanya tidak didengar atau justru direspons dengan marah dan menghakimi, pelan-pelan ia akan belajar untuk diam dan mencari tempat curhat lain yang belum tentu tepat.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE terhadap lebih dari 3.300 remaja menemukan bahwa kepercayaan anak kepada orang tuanya sangat erat kaitannya dengan kualitas komunikasi di antara keduanya. Bahkan, komunikasi terbuka ini menjadi penghubung utama yang menjelaskan mengapa perhatian dan kedekatan orang tua bisa menumbuhkan rasa percaya pada diri anak (Ying, Ma., dkk: 2015). Dengan kata lain, semakin terbiasa anak bercerita kepada orang tuanya, semakin kuat pula fondasi kepercayaan yang terbangun di antara keduanya—dan semakin besar kemungkinan orang tua bisa hadir lebih awal ketika anak menghadapi masalah.
Berdasarkan hasil studi pustaka terhadap sejumlah jurnal ilmiah yang relevan, ditemukan pada jurnal Putri & Kusumalestari (2024) bahwa komunikasi terbuka antara orang Tua dan anak menciptakan Lingkungan yang aman dan Mendukung, serta menumbuhkan Penerimaan dan pengertian. Komunikasi terbuka Meningkatkan ikatan emosional, Membangun kepercayaan, dan Memungkinkan orang tua untuk Lebih memahami tantangan anak-Anak mereka, yang pada akhirnya Membantu proses penyembuhan dan pemulihan masalah mental.
Dalam jurnal lain berdasarkan penelitian Zahranti dkk (2025). Menerangkan bahwa Komunikasi terbuka Menumbuhkan kejujuran dan Kepatuhan terhadap aturan, seperti Yang disorot dalam penelitian. Orang tua yang terlibat secara Terbuka dengan anak-anak Mereka, khususnya melalui gaya Pengasuhan yang demokratis, Membantu mengembangkan rasa Percaya diri, kemandirian, dan Tanggung jawab anak-anak Mereka, yang secara positif Memengaruhi perkembangan Karakter
Islam sangat menekankan pentingnya kedekatan dan komunikasi yang hangat dalam keluarga. Prinsip ini tidak hanya berlaku antara suami-istri, tetapi juga antara orang tua dan anak. Ketika anak merasa tenang dan aman untuk bercerita apa saja kepada orang tuanya, di situlah fungsi rumah sebagai sakan benar-benar terwujud. Allah juga mengajarkan melalui kisah Luqman dalam Al-Qur’an bagaimana seharusnya komunikasi orang tua dan anak dibangun dengan nasihat yang lembut, penuh hikmah, dan dialogis, bukan dengan perintah sepihak yang membuat anak takut untuk berbicara.
Bagaimana Orang Tua Bisa Menjadi “BESTie” bagi Anak?
Dengarkan tanpa buru-buru menilai. Saat anak bercerita, dengarkan dulu sampai selesai sebelum memberi nasihat atau komentar.
Berbahagialah saat anak bergegas ke arah Ayah Bunda hanya untuk bercerita sesuatu kepada kalian.
Anak yang suka bercerita kepada orang tuanya bukanlah anak yang “cerewet” atau “berlebihan”, ia adalah anak yang sedang menaruh kepercayaan penuh kepada orang tuanya. Inilah kesempatan emas bagi Ayah dan Bunda untuk terus hadir, mendengarkan, dan menjaga kedekatan itu agar tidak putus seiring bertambahnya usia anak.
Karena pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: ingin menjadi bestie yang selalu dipercaya, atau perlahan menjadi stranger yang hanya tahu sedikit tentang kehidupan anak sendiri.
Semoga kita semua dimudahkan Allah ﷻmenjadi orang tua yang senantiasa menjadi tempat pulang ternyaman bagi anak-anak kita. Aamiin. Baarakallahu fiikum
Referensi:
Tinggalkan Komentar