Oleh : Fitri Apriyani, S. Pd., Gr.
Guru TK Islam Yaa Bunayya Sako
Bismillahirrahmanirrahim
Puasa Ramadan hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala:
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصّيَام كما كُتب على الذين من قبلكم لعلّكم تتّقون
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Dan juga karena puasa Ramadan adalah salah dari rukun Islam yang lima. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
بُني الإِسلام على خمس: شهادة أن لا إِله إِلا الله وأنّ محمّداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإِيتاء الزكاة، والحجّ، وصوم رمضان
“Islam dibangun di atas lima rukun: syahadat laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, menegakkan salat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadan” (HR. Bukhari – Muslim).
Sering kali kita mendengar keluhan bahwa produktivitas menurun saat Ramadan tiba. Alasan “sedang lemas karena puasa” kerap menjadi pemakluman bagi pekerjaan yang terbengkalai atau pelayanan yang melambat. Namun, jika kita menilik hakikat syariat puasa seharusnya menjadi momentum peningkatan etos kerja, bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Dalam Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah (amal saleh). Puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu, dan salah satu nafsu yang paling berbahaya di dunia kerja adalah kemalasan.
Rasulullah SAW dan para sahabat justru meraih kemenangan besar dalam Perang Badar dan Penaklukan Makkah (Fathu Makkah) saat mereka sedang menjalankan ibadah puasa. Ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi pencapaian besar jika dibarengi dengan kekuatan spiritual.
Puasa mengajarkan kita tentang muraqabah—perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi. Seseorang yang berpuasa tidak akan makan di tempat tersembunyi meski tidak ada orang yang melihat, karena ia sadar Allah Maha Melihat.
Etos kerja ini seharusnya terbawa ke kantor atau tempat usaha:
Bekerja saat berpuasa memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Lelahnya orang yang bekerja demi menafkahi keluarga adalah lelah yang dicintai Allah.
Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.
Puasa bukanlah penghalang produktivitas, melainkan sekolah karakter. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga selama belasan jam, kita seharusnya juga mampu menahan diri dari sikap malas, menunda pekerjaan, dan pelayanan yang buruk. Mari jadikan Ramadan sebagai bulan prestasi, di mana tetap bekerja meski sedang berpuasa.
Sumber :
Tinggalkan Komentar